
Karpet di ruang keluarga nampak berantakan dengan mainan lego yang berserakan. Athaya sedang meilih-milih warna sesuai arahan Andina. Selapas Isya, Andina menemani Athaya bermain sambil menunggu kepulangan Arya yang sedang dijemput Pak Asep ke bandara.
"Kakak...coba menyusunnya sambil nyanyi lagu Nussa yang Rukun Iman...Mama pengen dengar Kakak sudah hafal semua belum ya...." ujar Andina sambil mendekatkan balok-balok lego ke depan Athaya.
"Kaka syudah hapal Ma...." serunya keras penuh semangat, Athaya pun mulai bernyanyi....
Andina bertepuk tangan setelah Athaya menyelesaikan nyanyinya. "Alhamdulillah....anak Mama pinteeerrrr...." seru Andina tersenyum lebar. Athaya berjingkrak senang mendapat pujian dari Mamanya itu.
Terdengar suara halus mesin mobil memasuki halaman. Andina langsung berbinar, karena sudah kenal dengan suara mesin mobil milik Arya itu. "Kak, ayo kita ke depan...itu Papi pulang...."
"Aciiik Papi pulang...." Athaya beranjak lebih dulu, berlari menuju pintu keluar. Andina hanya geleng-geleng kepala melihat kegembiraan Athaya itu.
Ia merapihkan hijab dan riasan wajahnya dulu. Sapuan bedak tipis dan lipstik pink natural menghiasi wajah cantiknya, membuat auranya semakin segar. Tubuhnya sudah wangi dengan aroma parfum nan lembut.
"Papiiiiiih......" Athaya dengan girang berlari menyongsong sang Papi yang baru turun dari mobil.
Arya tersenyum lebar mendapati Athaya yang sudah memeluk kakinya, wajah imutnya mendongak dengan sorot mata minta digendong. Segala kepenatan menguap melihat tatapan polos sang anak itu. Arya berjongkok perlahan, mensejajarkan diri dengan Athaya. Diciuminya seluruh wajah menggemaskan itu.
"Ay mis yu Papi...." Athaya tersenyum ceria menampilkan deretan gigi susu yang rapih tanpa gigis. "I miss you too, Boy !" Arya kembali mengecup kening sang anak. Athaya menggelayutkan kedua tangan mungilnya ke leher Arya. Kedua kakinya bersiap menggelantung tapi segera ditahan oleh Ricky yang baru selesai mengeluarkan koper dari bagasi.
"Eits...Kakak Athaya, jangan dulu minta digendong ya...Papinya lagi sakit..." Ricky meraih Athaya, mengangkatnya ke atas sambil menciumi perutnya hingga Athaya tertawa-tawa geli.
Andina menghampiri Arya, seulas senyum manis tersungging di bibirnya, ia mencium punggung tangan suaminya itu.
Arya mencium mesra kening Andina sambil membisikkan kata, "Sayang, kenapa makin cantik aja sih...."
Blush. Wajah Andina merona seperti tomat, dirinya selalu saja merasa malu setiap kali mendengar kalimat Arya yang menggodanya. Tiga hari tidak bertemu, Andina yang belum pernah berpacaran merasa hatinya berbunga-bunga dan jantung berdebar kencang saat melihat wajah yang dirindukannya itu.
__ADS_1
"Ehemm. Jaga sikap....ada yang jomblo disini...." suara Ricky yang melengos masuk ke dalam dengan menggendong Athaya membuyarkan dua insan yang sedang bertatap mesra. Keduanya tertawa pelan, Arya merengkuh bahu Andina ikut masuk ke dalam rumah.
"Bro, aku mau langsung pulang...jangan lupa obatnya ini teh...." Ricky menyerahkan plastik obat ke Andina yang terlihat bingung saat menerima bungkusan itu. Dilihatnya ada obat, salep, perban dan plester.
"Nanti Arya yang akan menjelaskannya teh...aku pamit dulu ya..." Ricky seolah faham melihat raut bingung Andina.
"Bro, istirahat aja dulu sampai sembuh..." Ricky menepuk bahu Arya sebelum pergi.
"Thanks bro!"
Pak Asep mengantar Ricky pulang ke apartemennya.
"Mas, ceritakan ada apa sebenarnya ?"
Arya menerima gelas yang diberikan Andina. Ia menyesap wangi teh melati yang masih mengepulkan uap, menyeruputnya pelan.
"Tadi siang saat aku telepon kamu, tiba-tiba ada motor berhenti pelan dan menyabetkan pisau, langsung mereka pergi tancap gas.Kejadiannya sangat cepat hanya hitungan detik, aku sama sekali tidak memperhatikannya." Arya mengangkat sweaternya, memperlihatkan luka memanjang yang dibalut perban.
"Innalillahi Mas...." Andina memekik kaget melihat perut sixpack sebelah kanan kini terbalut perban.
"Siapa yang tega melakukannya Mas...." raut sedih nampak di wajah Andina. Ia mengelus pelan sisi plester yang terbuka.
"Aku belum tahu, yank. Brian sedang menyelidikinya...." Arya meringis saat terasa ada kedutan ngilu dari jahitan diperutnya.
"Sakit ya Mas....?" Andina menangkap raut nyeri dari wajah Arya. Ia menunduk meniup-niup permukaan perban.
"Sayang...kalau kamu meniupnya si joni jadi bangun...." Arya memijit gemas hidung mancung Andina.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana dong....biar Mas nggak kesakitan..." Andina mengerucutkan bibirnya. Membuat Arya semakin gemas akan menyambar bibir menggoda itu, tapi suara Athaya menyurutkan niatannya.
"Papi...." Athaya yang datang dengan berlari langsung naik ke sofa ikut duduk di sisi Arya.
"Papi...pelutnya kenapa..?" Athaya mencondongkan wajahnya memperhatikan perut sang Papi.
"Perut Papi lagi sakit Kak, Kakak untuk sementara jangan minta digendong ya...." ujar Arya. Tangannya mengelus puncak kepala Athaya.
"Kakak habis dari mana....?" tanya Andina yang melihat Athaya baru muncul.
"Kaka abis pipis ke dapul...diantal bi Idah..." jawab Athaya tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Papinya.
"Mas, makan dulu yuk...nanti istirahat di kamar"
"Ayo Papi mamam...bial cepat syembuh..." Athaya turun menuntun tangan Papi Arya mengajaknya ke meja makan.
Arya menuruti saat tangan kirinya ditarik Athaya. Tangan kanannya menarik lengan Andina yang berjalan di depannya.
"Padahal saat pulang aku ingin memakanmu, tiga hari aku malarindu, yank...." bisiknya di telinga Andina.
Andina balas berbisik. "Selamat berpuasa !"
*******
Aku kasih oleh-oleh 2 bab hari ini. Nanti satu lagi up malam ya, aku mau tarik nafas dulu, huft......
Vote jangan lupa ya pemirsah 😍
__ADS_1