SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
151. Hari yang Adem dan Menegangkan


__ADS_3

Arya duduk bersila berhadapan dengan Andina yang baru selesai mengaji, masih mengenakan mukenanya. Sepulang dari masjid melaksanakan sholat Subuh, Arya menceritakan semua kejadian berikut rencana yang akan dilakukan hari ini bersama Hendra.


"Maafkan aku ya sayang, tadinya aku khawatir dengan kondisimu yang lagi hamil, kan nggak boleh stress..." pungkas Arya usai menceritakan semuanya.


Aku malahan akan khawatir kalau Mas tidak jujur. Apapun yang terjadi menyangkut keluarga kecil kita, kita harus saling terbuka ya Mas...." sahut Andina, menatap lembut sang suami.


"Siap Nyonya!...doakan aku agar malam ini semua masalah tuntas. Aku nggak mau ada orang-orang yang mengganggu kehidupan kita." Arya menggenggam kedua tangan Andina dan mengecupnya penuh perasaan.


"Selalu Mas. Aku tak pernah luput mendoakan agar Allah selalu melindungi setiap langkah suamiku..." ujar Andina dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.


"Terima kasih sayangku," Arya mengecup kening sang istri dengan mesra.


"Oh ya Mas, hari ini aku nggak ke ruko. Mbak Mauren mau belajar mengaji, aku suruh ke rumah aja biar lebih nyaman buat dia. Kalau di ruko kan banyak orang, takutnya dia minder."


"Syukurlah dia berubah. Aku mendukungmu yank, teruslah memberi manfaat untuk banyak orang," kembali Arya mengecup kening Andina dan memeluknya erat.


******


Andina menuruni tangga saat bi Idah memberitahu tamunya sudah datang. Ia baru menemani Athaya tidur siang setelah anak gembul itu cape bermain di rumah Mama Rita bersama dua kelincinya.


"MasyaAllah mbak Mauren....cantik sekali...aku sampai pangling..." seru Andina tampak takjub memandang Mauren yang kini berhijab. Mereka saling berpelukan dengan perasaan haru.


"Bismillah Andin, aku sungguh-sungguh ingin menjadi manusia yang lebih baik. Aku juga menutup butik untuk sementara, karena mau mengganti koleksi dengan jualan busana muslim. Aku terinspirasi pernyataan seorang artis yang sudah hijrah mengenai dosa jariyah....aku takut kelak kena pertanggung jawaban dengan baju yang aku pakai dan aku jual..."


"Aku salut sama Mbak Mauren yang gercep menyambut hidayah..." Andina tersenyum lebar, merasa senang seyelah mendengar penjelasan Mauren.


"Kita mulai yuk mbak...." Andina mengajak Mauren ke ruang keluarga, duduk berhadapan di karpet yang empuk.


"Apa mbak sama sekali belum mengenal huruf Al Quran ?" tanya Andina memandang Mauren yang nampak tersenyum malu. "He he iya Din, aku buta huruf Al Quran..." Mauren menggigit bibir bawahnya, kedua pipinya merona.

__ADS_1


"Tak apa mbak, nggak ada kata terlambat untuk belajar...kita mulai dari oqro1 dulu ya, mengenal huruf hijaiyah..." Andina membuka buku iqro yang sudah dibelinya lengkap.


"Tahukah mbak, membaca Al Quran dengan lancar ataupun terbata-bata tetap mendapat pahala. Satu huruf nya mengandung satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas oleh Allah pahala sepuluh kali lipat. Jadi biasakanlah membaca Al Quran setiap hari, biar hanya sedikit yang penting kontinyu atau istilahnya istiqomah. Banyak mbak, keutamaan dari membaca Al Quran. Diantaranya bisa membuat hati tenang, rumah yang selalu dibacakan Al Quran akan didatangi malaikat, kelak di akhirat akan menjadi syafaat atau penolong, dan banyak lagi...." Andina mulai menerangkan hal dasar fadilah membaca Al Quran. Mauren nampak antusias mendengarkannya.


Dengan sabar Andina membimbing Mauren membaca mulai dari iqro 1, tidaklah sulit mengajarkannya disamping sudah dewasa juga karena otaknya pintar sehingga mudah menyerap penjelasan Andina.


******


Selepas Magrib, di ruangannya Arya berkumpul dengan Ricky dan William. Hendra yang siaga satu diluar gedung mengawasi situasi sejak sore, telah mengabarkan strategi yang akan dibuatnya.


"Bro, kamu yakin nggak perlu ditemani...?" tanya Ricky usai memasangkan rompi pelindung di tubuh Arya agar luka diperutnya aman jika kemungkinan kena pukulan.


"Aku bukan berhadapan dengan mafia, jadi nggak usah khawatir....lebih baik nyetir sendiri biar lebih meyakinkan pancingannya..." sahut Arya sambil memakai kaos dan hoodie yang sudah dipersiapkan dari rumah.


"Aku sudah aktifkan GPS di jam tangan ini, sebagai opsi jika hape mu di rampas mereka. Hati-hati bro !Semoga Tuhan melindungimu !" ujar William memberi suport. Mereka bertiga ber tos tinju, Arya pun keluar meninggalkan ruangannya.


"Bismillahirrahmanirrahiim...." ucap Arya sebelum mesin mobilnya. Arya membawa sendiri mobil kesayangannya meninggalkan basement gedung Galaxy. Dengan kecepatan sedang dan seluruh kaca hitam mobil tertutup rapat, Arya terus melirik spion mengawasi situasi di belakangnya. Suasana jalan nampak ramai lancar dengan cuaca malam yang cerah. Belum terlihat adanya hal yang mencurigakan.


"Sepertinya itu mereka...." Arya membatin.


Arya mengeratkan cengkraman di kemudinya. Penuh konsentrasi ia menelisik jalan yang sedang dilaluinya sambil terus melirik spion. Semakin jauh dilalui, jalanan nampak sepi karena semakin dekat memasuki area TPU.


Arya melihat dari mobilnya komplek makam yang penuh, jajaran nisan terpantul sinar bulan membuat bulu kuduk berdiri. Rumah-rumah terlihat jarang, hanya ada deretan pohon-pohon mahoni menaungi sisi-sisi jalan menambah kesan angker karena dekat dengan area TPU.


Tiba-tiba salah satu motor menyalipnya, dan berhenti berjarak 50 meter menghadang mobil Arya.


Arya spontan mengerem mendadak, agar mobilnya tidak menabrak motor di depannya.


"Turun!"

__ADS_1


Seseorang mengetuk kaca dan menyuruhnya turun. Arya menyaksikan ada 4 orang mengepung mobilnya dengan berkacak pinggang dan sorot mata tajam serta wajah sangar memandang ke arahnya.


"Cepat turun atau gue pecahkan kacanya!!" kembali salah seorang dari mereka menggertak Arya.


Perlahan Arya keluar dari mobilnya. Dirinya langsung di tarik oleh seorang yang berperawakan tinggi besar. Tubuh Arya di dorong ke pintu mobil yang sudah tertutup, kedua tangannya ditarik ke belakang.


"Lo, kalau nggak melawan kami, dipastikan tubuhmu aman tanpa lecet sedikitpun. Karena si boss ingin mencicipi tubuhmu ha ha..."


Bughhh!


Belum selesai preman itu tertawa, sebuah pukulan telak di belakang kepalanya membuat si preman itu jatuh tersungkur tak bergerak lagi.


Tiga preman lainnya nampk terkejut, tak menduga adanya orang lain di sekitar mereka.


Krek krek.


Sang preman beriman, membunyikan leher dan jari-jari tanganya, berdiri di sisi Arya menatap tajam tiga preman di depannya yang mengeluarkan pisau belati dari dalam bajunya.


"Maraneh wawanianan ngaganggu dunungan aing !!" gertak Hendra, menatap satu demi satu.


"Sia geus bosen hirup hah !? Hayang dikubur ayeuna didieu maraneh teh...."


Hendra maju selangkah, tiga preman itu pun ikut mundur selangkah.


"Buru lawan aing ! Lain jadi undur-undur. Era siah ku beungeut!!"


Hendra kembali maju selangkah. Lutut ketiga preman itu mulai bergetar, mereka mundur dua langkah. Tak sadar di belakangnya ada solokan, dan akhirnya.....


****

__ADS_1


translatenya di next episode ya....


Maaf panjang ceritanya dibatasi, ulah pundung nya 😍


__ADS_2