
Arya pulang dari masjid langsung berlari kecil menaiki tangga menuju kamar. Dia melihat Andina sedang mengaji diatas sajadahnya, beralaskan karpet empuk. Arya langsung merebahkan kepala dipangkuan Andina yang duduk sila. Dia tidur miring memeluk perut istrinya yang berbalut mukena.
Andina yang kaget sejenak menghentikan bacaannya. Setelah posisi nyaman, dia melanjutkan kembali mengaji. Suaranya yang lembut dan merdu membuat Arya betah dan meresapi ayat demi ayat yang mengalun dari bibir istrinya.
"Shodaqollohul 'Adziim....." Andina menutup Al Qur'an dan menciumnya.
"Mas, semalam pulang jam berapa....kok aku tau tau bangun subuh sudah dikamar..." Andina membelai rambut suaminya penuh sayang.
"Maaf sayang, kamu menunggu sampai ketiduran ya... Aku baru sampe rumah jam 10.30. Mobil terjebak macet karena jalan banjir, ada beberapa mobil yang mogok jadi menghalangi jalan. Yaaa akbirnya kita hanya bisa rebahan di mobil nunggu derek selesai evakuasi."
"Aku khawatir lho...soalnya ditelpon berkali-kali gak aktif. Punya Pak Asep juga sama..." ujar Andina, tangannya berpindah mengelus sebelah pipi suaminya.
"Iya sayang, hape kita sama-sama mati, charger mobil juga lagi trouble. Maaf ya sudah bikin kamu khawatir...." Arya membalikkan badannya menjadi telentang. Ia ambil tangan istrinya itu dan menciumnya lama sambil memejamkan mata, meresapi.
"Mas...udah ya bangun..., kaki aku kesemutan," Andina meringis merasakan keram dan kesemutan.
Arya bangun dari pangkuan Andina. Dia bersandar disisi ranjang dengan kaki diselonjorkan "Sini sayang....luruskan kakinya..." Arya menepuk pahanya. Andina menurut, merebahkan kepala diatas paha suaminya, tidur telentang sambil meluruskan kaki. Tubuhnya masih berbalut mukena.
"Kemarin kemana aja, sayang ?" Arya bertanya, lalu mencium hidung mancung istrinya.
"Kemarin ke Mama dulu...terus ke Bank...lanjut ke ruko. Jam 3 pulang deh..." jawab Andina seadanya.
"Ketemu siapa dijalan ?"
__ADS_1
"Hah ?" Andina menatap mata suaminya. "Oh itu...aku ketemu kang Hendra sama Rima diparkiran Bank." Jawab Andina jujur. "Kang Hendra itu teman aku Mas. Juga istrinya, namanya Mbak Uci. Kalau Rima, anak asuhnya."
"Ceritakan dong yank, siapa mereka. Aku jadi kepo nih..." Arya memencet hidung istrinya, gemas.
"Hm, okay. Sebentar aku minum dulu ya." Andina bangun dan membuka mukenanya. Dia mengambil gelas berisi air putih hangat diatas meja rias.
"Sisain buat aku, yank..." Arya mengulurkan tangan kanannya. Andina yang baru menghabiskan setengah gelas tinggi, langsung berhenti.
"Ini bekas aku, Mas. Aku ambil lagi ke bawah ya...?"
"Nggak usah. Aku mau yang bekas kamu, sini..." Arya kembali mengulurkan tangannya.
"Sini tiduran lagi..." Arya mengkode dengan matanya setelah menghabiskan minumnya.
"Kang Hendra dan Mbak Uci itu pasangan suami istri. Hmm, sekarang mereka sudah 6 tahun menikah tapi belum dikarunia anak. Kang Hendra asli Cimahi, mbak Uci asli Bantul. Awal kenal mereka nggak sengaja sih, waktu dijalan 3 tahun yang lalu. Aku respect dengan mereka yang sehari-harinya turun ke jalan mengajar anak-anak jalanan mengaji. Kang Hendra itu Dosen di UKJ, Mas." Andina mulai bercerita setelah dirinya merebahkan kepala diatas paha Arya.
"UKJ...universitas kolong jembatan, Mas." Andina tertawa geli melihat reaksi Arya yang menggelitiki pinggangnya.
"Kamu bisa aja bikin istilah... Lalu apa aja kegiatannya ?" Arya tambah penasaran.
"Kang Hendra mengajar baca tulis serta mengaji kepada anak-anak laki-laki dikolong jembatan yang disulap menjadi tempat belajar. Istrinya mengajar anak-anak perempuan dirumahnya. Jangan salah, keduanya itu sarjana juga hafiz dan hafizah . Tapi mereka memilih mengabdikan diri ke jalanan. Prinsip mereka sama mengamalkan hadist, Khoerunnas Anfa'uhum Linnas, Sebaik baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain."
"Lalu aku ikut mensuport mereka, Mas.Tiap bulan, keuntungan dari olshop aku sisihkan membantu anak-anak. Yaaa...meski besarnya nggak tentu, tergantung omzet."
__ADS_1
"Hm...gak nyangka ya...padahal penampilannya seperti preman." ups, Arya langsung kaget, keceplosan.
"Lho...Mas Arya tau ?" Andina menatap mata suaminya penuh selidik.
"Hehe...kemarin aku mau ke pabrik gak sengaja lihat kalian mengobrol. Aku khawatir sama kamu, jadi aku temui dia saat kamu sudah pergi," Arya tertawa pelan, balik menatap lembut istrinya.
"Ishh ngapain aku cerita kalau Mas udah ketemu dia," Andina mengerucutkan bibirnya yang langsung disambar oleh bibir Arya. Awalnya ciuman biasa, lama-lama semakin panas, saling menghisap dalam dan lama.
"Mamaaaaah.....Maaaah...." Athaya memanggil dengan suara serak.
Arya langsung melepas paagutannya, keduanya terengah-engah mengatur nafas.
"Adek sini turun....Mama dibawah," Andina mengusap bibirnya yang basah, lalu duduk melambaikan tangannya.
***
"Sayang, kemarin tuh Kang Hendra tidak menceritakan dirinya, malah suruh tanya aja sendiri sama kamu, katanya." Arya menyambung pembicaraan yang sempat terputus saat dikamar. Mereka duduk satu meja menghabiskan sarapan pagi.
"Owh...." balas Andina singkat. Dia sibuk mengunyah makanan diselingi menyuapi Athaya.
"Sayang, besok kita berkunjung ke rumah kang Hendra ya....Aku mau lihat kegiatannya, mungkin aku bisa ikut bantu," lanjut Arya, selesai acara makan menutupnya dengan segelas teh hijau.
"Oke Mas. Aku juga sudah kangen ketemu mereka semua," mata Andina berbinar, nampak bersemangat.
__ADS_1
Seperti biasa rutinitas pagi, Andina dan Athaya mengantar Papi Arya sampai teras, mencium tanganya. Arya selalu mengecup kening anak dan istrinya penuh kasih. "Papi berangkat dulu sayang, Assalamualaikum..." Kompak keduanya menjawab salam.
...BERSAMBUNG...