
"Fa, aku nggak bisa stay disini...Athaya lagi butuh kehadiranku. Jadi sekarang mau lanjut ke rumah sakit," ujar Andina. Ia sudah selesai memberikan breafing kepada Safa dan 2 karyawan nya.
"Kamu tenang saja Din...urusan disini percayakan sama Neneng Safa...kamu fokus dulu urus anakmu ," jawab Safa tersenyum smirk.
Andina menjitak kepala Safa, sebel. "Dasar Safa sotoy...". Safa hanya terkekeh geli.
*****
RSIA AMINAH
Hanya butuh waktu 10 menit Andina sudah sampai dirumah sakit. Selesai memarkirkan motornya ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup lengang, suasananya tidak seramai rumah sakit umum.
__ADS_1
Andina berjalan anggun dengan memakai pashmina senada dengan tunik berwarna baby pink dan celana kulot cream, terlihat modis dan cantik. Apalagi senyum manis nan ramah yang selalu mengembang diwajah cantiknya membuat setiap orang yang berpapasan dengannya ikut tersenyum dengan pandangan kagum.
"Andina..." Ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang, terlihat Dokter Rendi tersenyum berjalan ke arahnya. "Mau jenguk Athaya ya ?" tebak Dokter Rendi. "Iya Dok." Andina tersenyum menganggukan kepalanya. "Ya udah kita bareng, saya juga mau visit." Mereka pun berjalan beriringan.
"Assalamualaikum.." Dokter Rendi mendorong pintu kamar perawatan Athaya. Kamar tampak sepi , mereka menatap sekeliling ruangan. Nampak di sofa Arya tertidur, Athaya diranjangnya juga sedang tidur. Terdengar suara gemericik dari kamar mandi. Ceklek, pintu kamar mandi terbuka.
"Eh kalian sudah lama datang ?" ujar Mama Rita. "Baru saja Ma..." Rendi yang menjawab sambil melangkah menuju ranjang. Ia mengecek kondisi Athaya perlahan takut terbangun. Lalu menyuntikan obat antibiotik ke infusan.
"Suhunya sekarang 38.5° C, tadi malam rewel ya Ma..? tanya Rendi. "Iya Ren, nangis-nangis nyariin Mama nya nih," Mama tersenyum melirik ke arah Andina. " Sampai Arya manggil suster beberapa kali karena infusan macet ketarik-tarik terus," lanjutnya.
"Rendi sudah selesai Ma...mau lanjut visit ke ruangan lain." Mama menganggukkan kepalanya. "Din...tolong bantu rawat ya, dia pasti nurut sama kamu, sebentar lagi suster akan mengantarkan makanan," ujar Rendi kepada Andina yang dibalas dengan anggukan
__ADS_1
Beberapa menit berlalu setelah Dokter Rendi keluar, Mama Rita juga pamit keluar dulu ada urusan sebentar katanya.
Andina memperhatikan Athaya yang mengeliat, perlahan matanya terbuka. "Hai adek...sudah bangun hmm ?" Andina tersenyum lembut, diusap-usapnya rambut Athaya yang basah karena keringat.
"Mama....hiks," pipi Athaya sudah kembang kempis mau nangis. "Ssttt jangan nangis...ini mama ada disini...mama akan terus nemenin adek disini," ujar Andina lembut. Mata Athaya berbinar bahagia, ia memegang erat lengan Andina seperti takut pergi lagi.
"Adek ganti baju dulu ya, udah bau acem nih." Athaya mengangguk patuh, Andina membuka bajunya, mengelap dengan air hangat, mengganti diaper yang sudah basah karena pipis. Ritual selesai, sekarang Athaya tampak segar dengan aroma minyak telon yang wangi.
Diliriknya ke arah sofa tampak Arya masih tertidur pulas. Andina memperhatikan dari sisi ranjang, Arya bergerak meringkukan badan seperti kedinginan. Dilihatnya selimut masih terlipat diujung kakinya. "Duh kasihan..selimutin jangan ya," beberapa saat dirinya galau.
"Adek tunggu sebentar ya...mama mau selimutin papi dulu," Athaya mengangguk sambil mengunyah bubur yang sudah disuapi Mama Andin...
__ADS_1
**********
Hmmm co cuit....Mama, Papi....kok jadi akoh yang baper sih 😃