SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
44. Rendi dan Marisa


__ADS_3

Dirumah Mama Rita, masih ada Rendi yang tinggal. William dan Celine telah pamit pulang beberapa menit yang lalu.


"Ma pa...Rendi mau ajak Marisa nonton, boleh ya ?"


"Hmmm ya...pulangnya jangan malam tapi," jawab Mama Rita. "Siap ma..." Rendi mengacungkan dua jempol tangannya.


"Bentar aku ganti baju dulu ka..." Marisa melangkahkan kaki menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang keluarga.


"Kamu udah buka praktek sendiri belum Ren..." tanya Papa Robby sambil menyalakan tv.


"Belum pa...masih nunggu izinnya keluar, tempatnya sih udah siap."


"Ayo ka...jalan..." tiba-tiba Marisa datang menghampirinya. Rendi memperhatikan penampilan Marisa dari atas sampai bawah.


"No no no...ganti lagi dresnya kependekan Sa..." Rendi menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan penampilan Marisa yang terlihat seksi.


"Ish ka...ini kan udah bagus bajunya," Marisa cemberut.


"Mama juga nggak setuju itu terlalu terbuka nak...nanti digoda cowok iseng gimana...ganti ya sayang," dengan lembut Mama Rita memberi pengertian.


"Ya deh...aku ganti dulu," Marisa balik badan menuju kamarnya lagi.


Tak lama...

__ADS_1


"Sekarang gimana ?" Marisa memutar-mutar badannya dihadapan semuanya. Ia mengenakan dres yang panjangnya dibawah lutut, berwarna soft pink dengan corak bunga dipadu bolero jeans biru. Tak lupa memakai sepatu kets putih, tampak modis.


"Ini baru oke..." Arya mengacungkan dua jempolnya. Mama dan papa hanya tersenyum.


"Kami jalan dulu ma pa...Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," dijawab serempak.


*****


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan utama kota Bandung. Suasana sore di akhir pekan ini cukup rame ditambah cuaca cerah sangat mendukung. Melewati jalan Braga nampak terlihat orang-orang yang menikmati senja dengan berjalan kaki menyusuri gedung-gedung tua khas Eropa yang kental dengan sejarah.




"Kamu mau nongkrong dulu disini...?" tawar Rendi sambil memelankan laju mobilnya.


"Hmm..lain waktu aja ka...filmnya keburu main ntar telat."


"Ok"


******

__ADS_1


"Hufft..." Marisa menghirup nafas lega selesai keluar dari bioskop. Selama pemutaran film ia nampak bosan dengan ceritanya karena tidak sesuai seleranya. Saat tadi beli tiket, ia kalah berdebat dengan Rendi yang memilih film action bukannya drama romantis.


"Ayo ka...time to shopping..." Marisa menarik tangan Rendi dengan semangat.


"Lapar Sa...makan dulu ya biar ada tenaga muter-muternya," Rendi memelas sambil memegang perutnya.


"Hmm baiklah...sepertinya aku juga lapar." Marisa memegang tangan Rendi menuju foodcourt. Perlakuan Marisa membuat jantung Rendi berdebar kencang. Sudut bibirnya tertarik, ia merasa bahagia.


Selesai makan, Marisa buru-buru bangkit dan menarik lengan Rendi. "Ayo ka antar nyari baju sama sepatu...keburu malam nih." Diliriknya jam ditangannya, hmm sudah jam 8.


Rendi mengangguk patuh mengikuti Marisa yang terus menggenggam tangannya. "Ingat...jangan beli baju yang terbuka kayak tadi !" ancam Rendi mengingatkan.


"Kenapa...?"


"Kamu tuh cantik...bahaya kalau pakai baju seksi. Bisa-bisa kamu dilecehkan sama laki-laki kurang ajar. Jangan bikin kaka khawatir oke..." Rendi memeluk bahu Marisa dengan erat.


Deg. Oh jantungku kenapa berdetak cepat...perasaan apa ini...kenapa lututku rasanya lemas dipeluk ka Rendi, batin Marisa. Tanpa sadar Marisa memegang dada kirinya.


"Kamu kenapa, sakit ?" tanya Rendi khawatir.


"Eh...eng engak kok...," Marisa tiba-tiba gugup.


"Ya udah cepetan gih belanjanya biar nggak kemalaman," Rendi memberikan kartu debit ke Marisa. "Kakak tunggu dikursi itu," ujar Rendi menunjuk ke arah kursi tunggu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2