
"Kalian berani menggangu majikan saya!!" gertak Hendra, menatap satu demi satu.
"Kalian sudah bosan hidup hah !? Mau dikubur disini sekarang....!!!"
Hendra maju selangkah, tiga preman itu pun ikut mundur selangkah.
"Ayo lawan saya! Jangan jadi undur-undur. Malu sama muka!!"
Hendra kembali maju selangkah. Lutut ketiga preman itu mulai bergetar, mereka mundur dua langkah. Tak sadar di belakangnya ada solokan, dan akhirnya.....
"Awwwrrrghhh...."
Ketiga orang preman itu terperosok nyungseb di solokan. Pisau mereka terlepas, ikut jatuh ke solokan yang dalamnya 1 meter. Alhasil ketiganya basah kuyup, saling merapatkan badan dan gemetaran saat Hendra mendekat.
"Cih, wajah preman tapi mental bubur kacang." Dengan berjongkok, Hendra menjambak rambut salah satu preman. "Siapa yang nyuruh kalian hah! Cepet bilang....atau mau patah ini leher....!!" Hendra memelintirkan leher sampai si preman itu mengaduh kesakitan.
"Ampun kang ampun aduhh sakitttt," teriaknya. Dua preman di sisinya tak sadar saling berpelukan dengn wajah meringis takut.
"Yang nyuruh kita Bang Jago, kang...." akhirnya preman yang dipelintir itu memberitahukan.
"Hmm bukan perempuan..." Hendra menggumam lirih, tapi bisa didengar oleh preman yang rambutnya masih dijambak oleh Hendra.
"Masa Bang Jago perempuan kang, kalau Neng Jago mah baru iya...." setengah takut preman itu berkomentar, membuat 2 preman lain yang berpelukan tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Kurang ajar....berani menertawakan saya...." geram Hendra.
Plak plak plak.
Rentetan tamparan Hendra melayang ke pipi mereka, membuat ketiganya meringis ngilu.
"Buru hanjat (Ayo naik), seusueh eta beungeut loba leutakan (cuci mukanya banyak lumpur)!!!"
Ketiganya patuh mengikuti perintah Hendra. Dengan basah kuyup mereka berdiri berjajar, dengan muka tertunduk dan dua tangan bertautan di depan menahan rasa dingin yang menelusup.
"Apa rencana kalian kalau sudah menangkap boss saya ?" tanya Hendra berkacak pinggang memandang mereka satu per satu.
"Kami akan membawanya ke rumah kosong di jl stasiun kang..." sahut salah seorang dari mereka.
Sebuah mobil berhenti di belakang mobil Arya. Tampak Rikcy, William, dan Asep turun dari mobil menghampiri Arya yang sedang mengawasi Hendra.
"Nggak apa-apa bro..." jawab Arya.
Hendra menggiring tiga preman yang sudah terikat tangannya, menghampiri Arya.
"Boss, kita lanjut skenario 2. Ada yang bisa bawakan mobil mereka ?" ujar Hendra melirik mobil putih yang tadi dipakai mengikuti.
"Pak Asep, tolong bawa mobilnya !" perintah Arya menatap Pak Asep yang sigap menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Satu preman yang tadi menyandera Arya mulai sadar dari pingsannya. Ia memegang belakang kepalanya sambil meringis merasakan pusing dan nyeri.
Arya mendekati preman itu, "Lo berani-beraninya sudah nyentuh badan gue. Rasakan ini..."
"Bughh"
Sebuah tendangan kaki Arya menghantam burung perkutut yang bersarang di balik celana. "Auwwww" preman berbadan tinggi besar itu mengaum sambil tangannya memegang belahan pahanya.
"Lo kenapa ikutan pegang burung..." bisik William menyikut Ricky yang spontan meringis.
"Eh eh, berasa punyaku yang kena..." sahut Ricky nyengir kuda.
Hendra selesai memasukkan 4 orang preman ke dalam mobil. "Ayo kita jalan akang-akang. Ikuti mobil saya..." Hendra masuk ke dalam mobil, duduk di depan samping kemudi yang sudah ada Pak Asep di dalamnya.
Tiga mobil beriringan keluar meningggalkan area TPU, dua motor milik preman dibiarkan tertinggal. Kembali mereka memasuki jalan utama yang selalu ramai lalu lalang kendaraan, melewati cafe-cafe yang ramai dengan orang-orang yang hang out melupakan sejenak kepenatan setelan bekerja seharian.
"Cepat telepon bos kalian ! Bilang padanya kalau target sudah ditahan !" Hendra mengetuk-ngetuk meja dengan pistol yang dipegangnya membuat nyali para preman ciut.
Mereka sudah tiba di rumah kosong yang dimaksud. Meskipun tak berpenghuni, rumah itu nampak bersih dan terawat. Ada satu kamar utama dengan ranjang ukuran no 1, dengan seprai warna hijau seperti baru dan seolah dipersiapkan untuk kedatangan seseorang.
Preman yang berkepala plontos buru-buru mengeluarkan hapenya. Ia menetralkan dulu suaranya agar tidak terdengar gugup. Cukup 1 menit, obrolan di telepon berkahir.
"Bang Jago akan datang 15 menit lagi kang..." lapor si plontos dengan tubuh menggigil karena dingin dari pakaiannya yang basah campur takut melihat Hendra yang garang.
__ADS_1
"Oke. Skenario 2 dimulai..."
Arya cs mengangguk faham.