SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
137. Rasa Bahagia


__ADS_3

Andina PoV


Dari kemarin aku merasa menjadi mudah lapar. Nafsu makanku juga sangat besar dan selalu ingin memakan apa yang sedang mas Arya makan. Tadi saat sarapan nasi goreng, aku juga mengambil jatah di piring mas Arya yang tinggal setengah lagi. Padahal di mangkuk pun masih ada tapi aku maunya makan yang punya mas Arya.


"Sayang, pipimu makin berisi apa mungkin hamil ?" tanya mas Arya yang memperhatikan aku yang lagi memakan nasi gorengnya. Aku termenung sesaat, baru ingat bulan ini memang belum haid, sudah lewat tanggal biasanya.


"Tapi aku nggak merasakan gejala apapun mas, hanya jadi doyan makan aja. Aku gendut ya mas ? tanyaku sambil memegang kedua pipi.


"Bukan gendut sayang...tapi makin seksi...aku suka..." mas Arya berkata dengan mengedipkan mata, genit. Aku hanya tersenyum malu.


Author PoV


Andina membuatkan pisang bakar keju dan minuman coklat panas untuk Arya dan Athaya yang sedang berenang. Minggu pagi yang cerah ini Arya mengajak anaknya berenang di kolam renang yang berada di halaman belakang.


"Mama...sini tulun...." Athaya berteriak memanggil Andina yang datang membawa nampan. Dia memakai pelampung tangan sehingga mengambang sendiri dengan pengawasan Arya.


Andina berjongkok di sisi kolam setelah menyimpan nampan di atas meja. "Nggak ah Mama sudah mandi...kakak ayo berenang kesini..." Andina melambaikan tangan agar Athaya mendekat.


Athaya yang berada di tengah langsung menggerakkan tangan.dan kakinya menuju pinggir kolam. "Hap, ayo naik..." Andina menangkap tangan Athaya dan mengangkatnya ke permukaan. "Taya mau belenang lagi sama Papi..." Athaya.berusaha berontak ingin turun kembali.


"Papi juga udahan kok...kakak tunggu disana..." teriak Arya yang akan bersiap melakukan gerakan renang gaya dada untuk yang terakhir. Selesai 2 balikan Arya menaiki tangga kolam, mengambil handuk di sandaran kursi dan mengelap tubuh sixpacknya yang telanjang. Dia membuka celana renangnya dengan melilitkan handuk ke pinggang.


"Nih mumpung hangat mas...." Andina memberikan segelas coklat panas untuk Arya yang duduk di kursi berjemur. Sinar matahari pagi yang hangat menyorot tubuh atletisnya. "Makasih sayang," ujar Arya menerima gelas itu.


Athaya yang sudah memakai handuk kimono ikut duduk di kursi sampingnya. "Papi...mau pisyang bakal...?" dengan mulutnya yang penuh Athaya menawarkan pisang bakar yang sudah di potong-potong oleh Mama Andin.


"Itu buat kakak aja habisin ya..., Papi minta yang punya Mama aja. Yank, suapin..." Arya membuka mulutnya, Andina langsung menyuapi dengan memakai garpu.


"Mas, kita main ke rumah Ayah yuk, kangen pengen kesana," ujar Andina disela menyuapi bayi besarnya itu. "Boleh sayang, habis mandi kita berangkat..." sahut Arya sambil mulutnya mengunyah.

__ADS_1


"Mama mau temana ?" anak gembul langsung mode on mendengar pembicaraan orangtuanya.


"Mama mau ke rumah aki, kakak disini aja sama bi Idah ya ?" jawab Andina dengan senyum. "Nda mau...Taya mau itut Mama..." ujar Athaya dengan mode cemberutnya. "Hehe iya-iya...tapi habiskan dulu makannya...nanti diajak!" mata Athaya berbinar, dia nampak semangat menghabiskan pisang bakar sampai tandas.


****


"Om Zaki....Taya bawa bola..." teriak Athaya yang baru turun dari mobil langsung berlari menghampiri Zaki yang sedang main gitar di teras. "Eh-eh kakak salim dulu dong baru main bola..." dengan gemas Zaki mengangkat tubuh Athaya, mengayun-ngayunkan ke atas sampai Athaya tertawa-tawa.


"Pantesan ada suara rame...ternyata ada cucu nenek kesini..." Ibu muncul dari dalam disusul Ayah dibelakangnya. Andina dan Arya menyalami keduanya setelah mengucap salam. "Kakak salim dulu..." ujar Arya menarik Athaya yang akan berlari ke halaman rumput. Semuanya tertawa melihat tingkah Athaya.


"Teteh lagi hamil ya ?" tanya Ibu yang memperhatikan Andina. "Eh...nggak Bu, maksud teteh nggak tahu...belum cek. Memangnya kelihatan bagaiman Bu ?" ujar Andina sambil menggaruk kepalanya.


"Arya juga sependapat sama Ibu lho...tadi pagi bilang begitu," sahut Arya sambil mengambil gitar karena Zaki bermain dengan Athaya.


"Ibu mah yakin teteh hamil, Ibu melihat ada perubahan di tubuh teteh, ini sama ini...." Ibu menunjuk pipi dan dada Andina. "Biar yakin nanti teteh beli testpck ya," lanjut Ibu. Andina mengangguk setuju.


"Mumpung pada ngumpul, kita ngaliwet Bu...Ayah ke pasar dulu beli ikannya," sahut Ayah segera mengambil kunci motor.


"Sayang....ayo nyanyikan lagu kebangsaan, aku yang main gitarnya," Arya meraih tangan Andina untuk duduk di sisinya.


"Lagu kebangsaan ?" Andina mengernyit tidak faham. "Lagu kebangsan kita yank, Dia Anji," sahut Arya tersenyum mengangkat dua alisnya. "Issh mas Arya ada-ada saja," Andina ikut tersenyum tipis.


Dan lagu Dia mengalun dari bibir Andina yang diiringi petikan gitarnya. Arya begitu meresapi nyanyian Andina yang lembut dan merdu. Dia tersenyum mengingat kembali saat-saat dirinya jatuh cinta terhadap istrinya itu.


Ada seseorang yang juga ikut merasakan baper. Ia nampak berdiri dekat tiang pilar. Ia senyum-senyum dengan kedua tangan bertautan di bawah dagunya.


"Aeh ceu Edoh kalah cicing didieu...hayu ka dapur (Aeh ceu Edoh malah berdiri disini...ayo ke dapur)," Ibu yang muncul keluar, mencolek lengan ceu Edoh yang tidak menyadari kedatangannya. Ceu Edoh malah cengengesan, dia mengekori Ibu ke dapur.


Keluarga kecil Arya pamit sore harinya setelah botram makan nasi liwet dan berbincang santai. Arya mengepalkan amplop coklat tebal ke tangan Ibu saat bersalaman. Athaya didalam mobil langsung tepar karena tadi tidak bobo siang. Mobil Arya berhenti di sebuah apotek untuk membeli dulu testpack. "Mas tunggu di mobil ya jagain kakak..." ujar Andina saat akan turun. "Iya sayang. Santai aja jangan buru-buru jalannya..." sahut Arya.

__ADS_1


Sebelum magrib, mereka sudah sampai di rumah. Arya menggendong Athaya menidurkan dikamarnya. "Yank, coba tes sekarang...aku sudah penasaran," ujar Arya saat memasuki kamarnya, nampak antusias.


"Tapi katanya sebaiknya urin pagi hari mas..." sahut Andina yang sedang membaca cara pakai yang tertera. "Coba saja yank, kalau nggak ada hasil coba lagi besok," ujar Arya keukeuh. Andina mengangguk patuh.


Arya berdiri mondar mandir di depan kamar mandi, sudah 15 menit Andina belum juga keluar. "Sayang, sudah belum..." Arya berteriak didepan pintu. Tidak ada sahutan. "Yank, aku masuk ya...!" Arya mulai cemas, dia sudah memegang handle pintu tapi lebih dahulu dibuka dari dalam.


Andina keluar dengan menunduk sedih. "Maaf, mas...." lirihnya. "Hei...nggak apa sayang jangan sedih, mungkin belum rejeki," Arya memgang kedua bahu Andina memberi kekuatan.


"Ini mas...." Andina menyerahkan dua testpack yang dipegangnya, masih dengan menundukkan kepala. Arya menerimanya dengan perasaan tegang.


deg


deg


deg


deg


Arya memperhatikan dengan seksama kedua testpack beda merk itu. Matanya terbelalak sempurna melihat hasil alat keduanya. Hasilnya dua garis jelas !


Arya langsung berteriak girang. " Alhamdulillah...sayang....kamu hamil...yes !!!" Arya memeluk Andina dan memutar-mutarnya sambil tertawa bahagia.


"Stop mas...arghh aku pusing..." pinta Andina memukul pelan bahu suaminya untuk berhenti memutarnya.


Arya menatap mesra, dan mencium kening Andina lama, lalu turun mengecup perut rata istrinya itu. "Makasih sayang...aku sangat bahagia," Arya kembali mendekap erat Andina, penuh haru.


Andina mengurai pelukan. "Jangan lupa bersyukur kepada Allah, sayang..." ujarnya dengan lembut, tersenyum manis menatap netra suaminya.


"Tentu sayang !" Arya mencium bibir istrinya dengan rakus. Hatinya diliputi perasaan bahagia yang membuncah.

__ADS_1


****


Vote nya donk.... untuk A4 jangan lupa ya say 😍😍😍😍


__ADS_2