SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
161. Antusias Menanti Baby Born


__ADS_3

Arya tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menggagalkan malam pertama Rendi maupun siang pertamanya. Karena saat pagi menjelang, ketukan di pintu kembali terdengar, seorang Room Boy diutus Mama Rita untuk turun sarapan pagi bersama dua keluarga yang sudah menunggu di restoran hotel. Siangnya, sepasang pengantin itu ikut pula check out pulang ke rumah Mama karena malamnya dengan diantar sopir, mereka akan ke bandara Soeta  untuk berangkat bulan madu ke Inggris. Pekerjaannya sebagai dokter membuat Rendi tidak bisa berlama-lama mengambil cuti, makanya ia mengambil keputusan langsung honeymoon sehari setelah menikah.


Hari-hari berlalu adalah kebahagian dan ketentraman yang Arya rasakan. Marisa kini sudah pindah rumah mengikuti Rendi, suaminya. Arya merasa tenang melepas sang adik ke tangan Rendi yang nota bene adalah sahabat baiknya sejak SMA.


Kini dirumah utama hanya tinggal Mama dan Papa ditemani asisten rumah tangga juga security. Sebagai anak laki-laki Arya tahu, ia masih punya  tanggung jawab terhadap orangtuanya. Ia bersyukur rumahnya dekat dengan orangtua. Arya dan Andina bisa sering mengunjungi dan Athaya menjadi sering bermain di rumah Oma dan Opanya itu.


"Mama...adek main bola lagi..." Athaya mendongak menatap Mama Andin dengan mata berbinar. Athaya sedang memegang perut Mamanya yang tidur miring menghadapnya saat tendangan kuat dirasakan.


"Karena adeknya perempuan, itu bukan lagi nendang bola tapi menyapa kakak, katanya udah kangen pengen ketemu, pengen main sama kakak..." sahut Andina sambil mengusap-ngusap rambut Athaya.


"Ade kapan kelualnya Ma..." Athaya tampak antusias setiap membahas tentang sang adek. Andina dengan gemas mencoel pipi Athaya, "InsyaAllah dua bulan lagi kakak akan melihat adek, nanti kakak harus sayang ya..." Athaya menganguk kuat, ia memerosotkan badannya agar bisa menciumi perut mama Andin. Athaya tertawa senang setiap ciumannya direspon dengan gerakan-gerakan tendangan calon adeknya itu.


"Udah ya jangan diajak main terus adeknya, kakak sekarang waktunya bobo...mau dibacain sholawat atau dengar cerita?" Andina membetulkan posisi kepala Athaya kembali ke atas bantal.


"Kakak mau dengel celita!" seru Athaya dengan semangat.


"Wah, tungguin...Papi juga mau ikut dengerin..." Arya setengah berlari menuju ranjang. Ia baru selesai dari ruang kerja mengerjakan beberapa berkas yang dibekalnya dari kantor. Arya merebahkan diri di belakang Andina sambil memeluk dan mengusap perut istrinya itu.


"Mama akan bercerita tentang Si Kura-Kura yang Sombong." Andina bersiap memulai ceritanya.


 


Ada seekor kura-kura yang sombong dan merasa dirinya lebih pantas terbang dibandingkan berenang di perairan. Ia jengkel karena memiliki tempurung keras yang membuat tubuhnya terasa berat.


Ia juga kesal melihat kawan-kawannya sudah berpuas diri dengan berenang. Saat melihat burung yang bebas terbang di langit, kejengkelannya makin bertambah.

__ADS_1


Tidak hanya Athaya yang fokus menyimak, Arya pun ikut senang mendengarkan ceritanya. Setiap akhir pekan di rumah singgah, Arya dengan setia mengantar kesana dan ikut menjadi salah satu pendengar setia sang narator.


Suatu hari, kura-kura ini memaksa seekor angsa untuk membantunya terbang.


"Hai angsa, aku juga ingin bisa terbang seperti kamu. Bantu aku ya angsa!"  Andina berkata dengan menirukan suara anak kecil yang cempreng sebagai peran kura-kura.


Si angsa setuju. "Hei Kura-Kura, kalau kamu mau terbang kamu harus berpegangan pada sebatang kayu, agar aku bisa mengangkatnya," kata si angsa. Kali ini Andina berkata dengan suara lembut sebagai peran angsa.


Karena tangan kura-kura agak lemah, ia menggunakan mulutnya yang lebih kuat. Ia pun akhirnya bisa terbang dan merasa bangga. "Hore, aku bisa terbang!" si kura-kura bersorak gembira di dalam hatinya.



Melihat teman-temannya yang tengah berenang, ia ingin menyombongkan diri. Ia lupa bahwa mulutnya harus terus dipakai untuk menggigit kayu. Ia pun terjatuh dengan keras. Beruntung, ia selamat berkat tempurung yang pernah dibencinya.


"Mama, lagi celitanya...."


"Besok lagi ya sayang, udah malam...kan kakak mau ikut Papi subuh ke masjid, sekarang ayok bobo..." Andina menepuk-nepuk paha Athaya yang tidur telentang. Tak butuh waktu lama, anak penurut itu pun terlelap.


"Kakak pindah ya bobonya, Papi mau menengok adek dulu..." bisik Arya seolah Athaya mampu mendengarnya. Perlahan ia mengangkat Athaya, membawanya ke kamar sebelah. Andina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.


****


"Mas, besok siang aku berangkat duluan ke rumah Safa ya..." Andina menyandarkan kepalanya di dada Arya yang telah tercapai keinginannya menengok baby. Arya mengecup rambut sang istri dengan mesra. "Iya sayang. Tapi nggak boleh cape-cape ya..." Andina hanya mengangguk sambil tetap menyandarkan kepala di dada bidang sang suami. Arya memekik senang saat merasakan gerakan di perut polos Andina. Arya menatapnya dengan takjub, gerakan menyeruak sang bayi yang tak bisa diam seolah berpindah-pindah posisi .


Safa adalah sahabat terbaiknya, mereka selalu bersama saling mendukung dan saling mengingatkan. Safa juga yang menemani perjalanan merintis dari nol usaha olshop yang ditekuni Andina sehingga berhasil menjadi besar sampai sekarang.

__ADS_1


"Waktunya bobo sayang, kasihan Mamamu biar istirahat. Kan Papi sudah menengokmu..." Arya berbicara di perut sang istri dan mengusap-ngusap lembut. Mungkin karena pengaruh sentuhan dan perkataan Arya, baby tak lagi bergerak, tampak tenang.


"Mas, sudah persiapkan nama belum ?" Andina membenahi posisinya setelah memakai kembali pakaiannya, perut yang besar membuatnya sulit mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi ia tidak mengeluh, ia bersyukur selama kehamilannya tidak banyak keluhan, hanya mual jika mencium bau amis saja. Ia pun sangat nyaman dengan aroma tubuh suaminya baik pakai parfum ataupun tidak. Akhir-akhir ini, dada Arya adalah solusi ternyaman untuk dijadikan bantal saat dirinya susah tidur.


"Belum sayang, masih memilih-milih yang terbaik. Aku berharap dan berdoa, ia akan secantik dan soleha seperti Mamanya..." Arya mengecup pipi Andina yang langsung merona hanya dengan sedikit pujian darinya.


"I love you Andinaku..." Arya kembali mengecup bibir ranum Andina, merengkuh tubuhnya dengan perut buncit yang sedikit menghalangi. Andina meresapi luapan perasaan kasih dan sayang suaminya itu dengan mata terpejam, mengantarkan diri pada tidur lelap dan tenang.


Besok adalah acara lamaran Ricky-Safa yang akan dilaksanakan setelah magrib. Tak akan semeriah seperti lamaran sahabat sebelumnya, Ricky menyetujui keinginan Safa yang ingin acaranya sederhana, hanya bersifat silaturahmi yang dihadiri keluarga dan tetangga terdekat.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2