SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
162. Pasangan Hidup


__ADS_3

Dua orang duduk berhadapan dalam satu meja yang terletak di dekat kolam ikan mini di sebuah cafe. Gemericik air mancur membawa keceriaan ikan-ikan Koi dengan warna yang cantik, bergerak lincah dan ceria mengitari kolam. Seceria pancaran wajah sang pria yang menatap lembut wanita di depannya itu.


"Mauren, aku telah mengenalmu kurang lebih dua bulan. Dan hari ini, aku memantapkan hati untuk melamarmu secara pribadi dulu. Maukah kau menjadi pasangan hidupku, Mauren Nurita ?" Dino dengan tenang mengatakan maksud pertemuannya dengan Mauren di cafe itu.


Mauren sesaat terdiam, kedua tangannya saling bertautan menandakan kegelisahan sedang berkecamuk dalam hatinya. "Dino, apa kamu sudah tahu latar belakangku, masa laluku ?" tanya Mauren menatap manik mata coklat milik Dino. Seolah ingin menelisik apakah ada kebohongan dari niat lamarannya itu.


Dino menganggukkan kepalanya. "Kamu adalah wanita yang pernah menikah dan sekarang berhijrah menjadi wanita soleha. Aku tidak memandang masa lalumu, aku hanya memandang dirimu yang sekarang..." jelas Dino dengan mantap.


"Aku janda dan usiaku lebih tua dua tahun darimu, sementara kamu seorang bujang..."


"Jangan permasalahkan soal status. Cinta tak butuh itu...." Dino kembali meyakinkan Mauren.


"Memangnya kamu mencintaiku?"


Dino kembali menganggukkan kepalanya. "Sejak melihatmu di rumah singgah, hatiku sudah tertarik. Aku pun sudah melakukan Istikharah beberapa kali dan hanya wajahmu yang tergambar jelas hadir dalam mimpi. Untuk itu, disini aku memantapkan diri untuk melamarmu."


"Jadi, apa jawababmu ?" Dino kembali meminta keputusan Mauren setelah panjang lebar ia mencoba meyakinkannya.


Mauren meraih jus mangga miliknya. Sensasi dingin mengalir di tenggorokannya, sedikit mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menguasainya. Tatapan teduh pria tampan di depannya membuat Mauren gugup dan tercekat untuk mengeluarkan suara.


"Bismillaahirrahmanirrahiim", dalam hatinya Mauren.


"Ya. Aku mau menjadi pendamping hidupmu." Ujar Mauren dengan tersenyum malu.


Senyum Dino mengembang sempurna dengan binar bahagia nampak di wajahnya. Ucap Hamdalah pun terdengar dari bibirnya. Ia pun mengeluarkan sebuah kotak bludru kecil berwarna merah dari saku celananya.


"Ini bukti keseriusanku untuk mengikatmu." Dino meraih tangan Mauren, menyematkan cincin putih berhias satu berlian kecil di tengahnya. Sangat manis.


Mauren tampak kehilangan kata, hanya matanya yang berkaca karena keharuan dan rasa bahagia membuncah di hati. Pria didepannya itu begitu sopan memperlakukannya, begitu menghargainya. Tanpa kontak fisik berupa pelukan dan ciuman sebagai pelengkapnya. Cukup saling melempar senyuman manis dan binar mata keduanya, ini sudah cukup romantis.


"Minggu depan aku free. Ayo kita ke Singapura, aku akan meminta pada ayahmu untuk merestui hubungan kita."

__ADS_1


"Secepat itukah ?" Mauren terkejut. Dino begitu bersemangat untuk segera bertemu Ayahnya.


Dino terkekeh melihat reaksi Mauren. "Kita sudah sama-sama dewasa, Ren. Mau menunggu apalagi hmm? Niat baik nggak boleh ditunda-tunda."


"Baiklah, Mas Dino..." jawab Mauren sedikit malu karena dirinya menyematkan kata 'Mas'. Tapi Dino malah senang mendengarnya.


Mereka memulai makan siang setelah waiter mengantarkan menu utama. "Aku nanti jemput kamu ya, kita ke rumah Safa sama-sama!"


Mauren hanya mengangguk, menyetujui ajakan Dino yang sudah resmi melamarnya.


****


Karpet besar sudah terhampar di ruang tengah kediaman Safa. Tenda kecilpun terpasang di halaman rumah sebagai tempat tamu jika tidak muat di dalam. Meja makan panjang berhias taplak putih pun sudah rapih terpasang di teras. Dekorasi bunga dan daun minimalis menghiasi mulai pintu masuk sampai ruang tengah.


Andina sejak siang sudah berada di rumah Safa. Kini ia bersama Safa di kamarnya menunggu waktu acara yang masih leluasa, tiga jam lagi. Athaya, tentu saja ia tak bisa jauh-jauh dari Mama Andin. Ia menangis saat Papinya menyuruh ikut berangkatnya nanti dengannya. Alhasil, ia ikut sang mama dan sekarang sedang bermain dengan adiknya Safa yang mempunyai dua ekor kucing. Athaya sangat senang bisa bermain di karpet dengan kucing gemuk yang hobinya makan dan tidur itu.


"Fa, aku seneng banget kita akan terus bersama. Nggak nyangka ya kita sahabatan, dapat jodohnya juga sahabatan..." Andina yang duduk selonjoran bersama Safa di atas ranjang, tertawa pelan.


"Aduh." Andina meringis saat merasa ada tendangan dalam perutnya. Pelan-pelan ia mengusap perut buncitnya itu.


"Wah dia bergerak lagi ya Din." Safa langsung terduduk begitu melihat perut Andina yang terbalut gamis katun itu tampak pergerakan.


"Iya. Ia aktif sekali. Kalau aku bacain sholawat atau mengaji ia akan anteng diam, seolah menikmati. Kalau malam, maunya di elus-elus Papinya baru deh anteng, aku bisa tidur nyenyak."


"MasyaAllah, aku takjub dengan peran Ibu. Perjuangan dan pengorbanannya luar biasa. Allah sampai menghadiahkan pahala syahid bagi Ibu yang gugur saat melahirkan." ujar Safa merasa terharu.


Andina mengangguk, membenarkan perkataan sahabatnya itu. "Fa, nanti kalau aku melahirkan, kamu harus ikut menungguiku ya. Meskipun nggak ikut masuk ruang bersalin, pokoknya kamu harus ada!"


"InsyaAllah beb, aku akan menjadi saksi lahirnya keponakan baru. Kamu juga sama, kalau nanti aku melahirkan..."


"Tentu saja beb. Kita kan solmet..." sahut Andina dengan tawa tercipta berbarengan Safa.

__ADS_1


****


Kedatangan rombongan keluarga Ricky dengan membawa hantaran cukup banyak, disambut dengan hangat oleh keluarga Safa.


Dua keluarga duduk bersama di karpet yang tergelar di ruang tengah. Suasana santai penuh kekeluargaan tercipta dalam obrolan-obrolan ringan juga candaan.


"Bapak Sujana yang saya hormati, karena ini kunjungan kami yang pertama. Beda dengan Ricky yang mungkin sudah berkali-kali ya Ky..." Papa Roby tersenyum melirik Ricky yang mendunduk, duduk diapit olehnya dan Mama Rita.


Arya cs duduk berjajar di samping Papa, sementara pasangannya duduk di kelompok tamu khusus wanita. Kecuai Andina yang setia mendampingi Safa.


"Jadi, enaknya perkenalan dulu ya Pak Bu. Saya Roby dan ini istri saya Rita, dan kami sebagai orangtua Ricky yang masih ada. Ayah dan Ibu kandung Ricky sudah lama meninggal dunia. Kami datang kemari untuk bersilaturahmi sekaligus mengkhitbah putri bapak yang bernama Safa Fauzia..."


Papa mulai masuk pada pembicaraan yang serius. Suasana hening langsung tercipta, orang-orang yang saling mengobrol langsung terhenti.


"Jadi apakah neng Safa mau menerima Ricky seorang yatim piatu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya ini ?" Papa merengkuh bahu Ricky dan menepuk-nepuk lembut sebagai ungkapan rasa sayangnya.


Safa yang nampak makin cantik dengan gaun biru muda masih menundukkan kepalanya. Ia duduk diapit Andina dan orangtuanya.


"Terima kasih Pak Roby dan keluarga, sudah mau menyempatkan waktu untuk berkunjung ke gubuk kami ini. Untuk jawabannya, saya serahkan kepada yang bersangkutan saja. Safa, bagaimana...?" Bapak Sujana menoleh ke samping, dimana Safa duduk di sisinya.


"Ayo beb, jawab. Jangan malu-malu..." Andina berbisik di telinga Safa yang membuat pipi Safa merona.


Safa mengangkat kepalanya menatap Ricky yang juga sedang intens menatapnya. "Ya. Aku mau..." ujar Safa pelan. Jawaban Safa membuat Ricky tersenyum lebar dan spontan berdiri, tangan kanannya terkepal "Yes!" teriaknya.


Sontak saja, kelakuannya disambut tawa lepas Arya cs dan tamu lainnya. Safa hanya menutup mukanya sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan konyol calon suaminya itu.


...………………...


Pemirsah, harap sabar dan tidak bosan menunggu update. Ini adalah bab-bab menurun menuju akhir cerita. Dan sungguh ini teh sulit bingit buat othor menyusun kalimat-kalimatnya. Othor ingin novel pertama ini berakhir apik dan epik.


So, harap sabar jika othor tidak up tiap hari. Karena konsepnya selalu gagal, ketik hapus, ketik hapus...huft.

__ADS_1


Yang pasti othor always laff u penggemar SP semua 😍😍😍


__ADS_2