
Arya menginginkan memanggil orang-orang bersangkutan dengan masalah yang menimpa Athaya, malam ini juga. Ia sudah sangat penasaran dengan pelaku utama yang mengganggu ketenangan keluarganya. Dan menjadi kesibukan tersendiri buat Ricky yang memonitoring tugas Rendi dan Willi untuk menjemput orang-orang yang terkait satu keluarga. Rumah Papa Roby pun menjadi tempat 'Eksekusi' pelaku yang kini hadir lengkap dengan suami dan kedua orangtuanya.
Tantri datang dengan wajah ketakutan dijemput paksa Rendi dari butiknya. Gilang yang merupakan suami Tantri datang dengan wajah semringah saat Ricky menelpon meminta datang sekarang juga dengan shareloc rumah Papa Roby. Ia mengira akan ada project baru dari boss jaringan Galaksi itu. Namun menjadi heran tatkala melihat istrinya juga ada di rumah besar itu. Ia urung bertanya saat ayah dan ibu mertuanya juga muncul dari arah pintu masuk diiringi Willi di belakangnya.
"Lho ada Tantri dan Gilang juga?!" Yogi yang merupakan ayah Tantri mengkerutkan kening. Rasa heran yang sama juga terpancar di wajah Maya, ibunya Tantri.
"Aku diundang Arya, Pa." Gilang yang menjawab. Sementara Tantri menundukkan wajah sambil menjalin jemarinya yang menunjukkan kegelisahan. "Papa diundang Arya juga?! Lanjut Gilang yang juga penasaran.
"Papa diundang Pak Roby. Tadi Willi sengaja datang ke rumah buat jemput Papa sama Mama. Tapi Papa bawa mobil sendiri aja."
Sementara di living room lantai atas ada Arya yang sedang diusap-usap punggungnya oleh Andina, ada Papa Roby yang mengelus-ngelus bahu Mama Rita yang emosi setelah mereka mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Rendi dan Willi.
"Jadi biang keroknya anaknya Maya." Mama Rita menggeram menahan kesal. "Kita harus kasih pelajaran, Pa." Lanjut Mama Rita menolehkan wajah kepada Papa Roby yang masih merengkuh bahunya.
"Tenang, Ma. Jangan buat keputusan saat sedang marah." Papa kembali mengusap bahu istrinya itu. Ia lalu mengajak semuanya turun ke bawah menemui tamu yang sudah menunggu di ruang keluarga lantai bawah.
Ricky, Rendi dan Willi turut menyaksikan dengan duduk di satu sofa. Sepertinya sidang keluarga akan segera dimulai usai para tamu ramah tamah dengan Papa dan Mama juga dengan Arya dan Andina. Gilang dan mertuanya tampak tersenyum lebar. Beda dengan Tantri yang senyum terpaksa.
"Pak Roby, ini ada acara apa ya sampe saya dijemput Willi segala. Anak dan mantu saya juga hadir." Yogi mulai merasakan tanda tanya apalagi melihat keluarga tuan rumah tampak berwajah serius.
"Saya mau menanyai Tantri di hadapan suami dan orangtuanya. Sebenarnya saya pribadi tidak kenal dengan dia. "Arya yang mulai angkat bicara dan menunjuk dengan dagunya ke arah Tantri yang duduk dengan menundukkan kepala. "Apa maksud kamu mengintimidasi anak saya Athaya untuk mundur dari lomba, dengan mengatakan siapa ibu kandung yang sebenarnya?"
"Sebentar, saya belum faham masalahnya. Bisa dijelaskan dulu?" Yogi tampak kaget mendengar nada bicara Arya yang dingin. Termasuk Maya dan Gilang yang saling tatap dengan wajah bingung dan heran.
"Tantri anak bapak, menyuruh seseorang bernama Kokom datang ke sekolah...." Andina beralih yang berbicara menjelaskan dengan sikap tenang dan tegas. Ia yang tahu pasti kronologis sampai dengan dampak yang dialami Athaya setelahnya. Keadaan ruang keluarga yang luas itu tampak hening karena fokus mendengarkan cerita Andina.
Tampak perubahan mimik muka Gilang, Yogi, juga Maya. Kaget campur kesal dan malu tentunya, atas sikap tidak terpuji yang dilakukan Tantri.
"Tantri, apa itu semua benar?!" Maya mengguncang bahu anaknya yang semakin dalam menundukkan kepala. Hanya anggukan lemah sebagai jawaban dan itu cukup membuat sang ibu mengusap wajahnya dengan kasar. Malu.
"Kamu tidak ada hak ikut campur urusan keluarga kami. Sangat tidak etis dan merugikan. Saya bisa tuntut kamu secara hukum!" Ucapan tegas Arya mampu membuat Tantri terperanjat kaget dan lalu menatap Arya dengan kedua tangan menangkup di dada.
"Jangan Pak Arya. Jangan penjarakan saya. Gimana dengan psikologis Raul kalau tahu ibunya dipenjara. Maafkan kesalahan saya--" Pungkas Tantri yang mulai terisak.
"Kamu juga bertindak nggak mikirin psikologis anak saya. Ngapain saya harus peduli!" Arya tersenyum sinis. Tak terpengaruh dengan air mata Tantri yang memelas meminta maafnya.
__ADS_1
"Pak Yogi, saya mau tarik seluruh saham di travel." Mama Rita berkata tegas yang membuat tamunya itu terperanjat kaget.
"Saya atas nama pribadi dan keluarga meminta maaf atas kelakuan tak terpuji anak saya." Wajah Yogi tampak diselimuti penyesalan atas tindakan yang dilakukan anaknya. "Tapi kami mohon Bu Rita, jangan berimbas menarik saham. Perusahaan travel itu jadi sumber rejeki untuk kami makan. Jangan sampai gulung tikar."
Berbeda dengan Gilang yang tak bicara apa-apa saking tidak percaya dengan kelakuan istrinya itu. Ia terlihat bertanya dengan nada pelan kepada Tantri apa alasan melakukan semua itu.
"Saya mau bicara empat mata dengan Tantri!" Andina mengajak Tantri berpindah tempat ke ruang tamu. Membiarkan dua keluarga berbincang yang mengarah pada islah yang diharapkan pihak keluarga Tantri.
"Kita sama-sama seorang ibu yang bertujuan mendidik anak-anak menjadi tak hanya pintar tapi juga soleh, bukan? Makanya memilih sekolah Abu Bakar yang unggul dalam pendidikan agamanya." Andina langsung pada tujuan mengajak Tantri bicara 4 mata.
"Saya minta maaf, mbak Andin. Tekanan di keluarga besar yang selalu memamerkan prestasi anak-anaknya baik di grup atau di setiap acara kumpul keluarga, membuat saya melakukan itu."
"Kadang sesama ipar menyindir secara halus sampe cari muka depan orangtua supaya anaknya menjadi cucu kesayangan."
"Masih ada waktu 4 hari lagi menuju lomba. Saya akan datang ke kepala sekolah kalau Raul akan mundur dan Athaya bisa maju lagi."
Andina menghembuskan nafas kasar dan geleng-geleng kepala mendengar jawaban pendek akal Tantri.
"Kamu itu bertindak tanpa berpikir panjang ya."
"Saya yakin Raul gak tahu kalau dia bisa maju karena kecurangan ibunya. Biarkan saja dia tampil. Kamu jangan bikin masalah baru yang ngecewain perasaan anak. Cukup anak saya yang jadi korbanmu!"
Andina sudah merasa plong mengeluarkan unek-unek di hatinya. Ia menatap tajam mamanya Raul itu yang tampak kacau dan stres karena akan menghadapi lagi penghakiman di rumahnya nanti.
"Saya sangat menyesal. Maafkan saya mbak Andin." Tantri memohon untuk yang kesekian kalinya.
"Saya sudaah maafin kamu. Tapi ada harga yang harus dibayar. Dan itu sudah menjadi keputusan suami saya. Saya tidak bisa mencegahnya."
Keputusan akhir pertemuan 2 keluarga itu ada di tangan Arya dan tidak bisa diganggu gugat. Permasalahan dianggap selesai setelah keluarga Tantri meminta maaf. Namun suami Tantri harus menanggung akibat perbuatan istrinya itu. Perusahaan EO miliknya yang menjadi vendor untuk setiap exhibition Galaksi, diputus kontrak kerjasama sampai 2 tahun ke depan tanpa pinalti.
Lima hari kemudian, wali kelas mengabarkan kepada Andina jika Raul hanya lolos sampai 20 besar.
"Bu Andin, andainya Athaya yang maju saya yakin lolos sampai final. Saya tahu pasti kemampuan Athaya diatas Raul." Dari sebrang sana Ibu Puspa terdengar bernada mengeluh dan kecewa. Wali kelas itu sudah tahu alasan sebenarnya Athaya mundur entah dari siapa. Padahal Andina tidak mengumbarnya ke luar.
"Belum rejekinya Athaya, Bu Puspa. Lain waktu semoga ada kesempatan untuk ikut lomba lagi." Andina memilih bijak menanggapinya.
__ADS_1
****
2 tahun kemudian
Festival Mom and kids Happy akan segera dimulai 1 jam mendatang. Acara yang disponsori oleh brand ponsel ternama dalam rangka mengisi libur panjang sekolah itu diselenggarakan di salah satu mall besar di Bandung. Setiap pemenang berkesempatan membawa pulang hadia ponsel keluaran terbaru dan uang jutaan rupiah, trofi serta piagam.
Dari 6 kategori lomba, Andina mendaftarkan 2 orang anaknya di 2 lomba berbeda. Ia dan Lala ikut serta di Mom and Kids Singing Contest. Dan Al akan ikut lomba fashion show. Andina tidak menekankan pada anak-anaknya untuk menargetkan juara. Ini acara seru-seruan jadi harus fun. Ini sebagai trik agar anak-anaknya berani dan percaya diri tampil di depan umum. Seperti yang berhasil diterapkannya pada Athaya yang kini sudah duduk dibangku SMP kelas satu.
"Papi, posisi di mana?" Andina menghubungi Arya yang belum tampak batang hidungnya. "Al bentar lagi mau tampil nih." Ia mengeraskan suaranya di antara keriuhan suasana LG Floor karena banyaknya pengunjung yang menonton.
"Di basemen, sayang. Bentar lagi ke sana."
Benar saja, tak lama Arya datang tapi tidak sendiri. Ia dan Ricky mengawal pasukan anak-anak sebagai suporter. Yang selama di mobil berisiknya tak ketulungan. Ada Athaya si remaja tampan. Memey anaknya Willi, Rezvan anaknya Rendi, si kembar Ifa dan Ica anaknya Ricky, dan Nana anaknya Satya.
Andina dan Safa saling tatap dan terkikik geli melihat suami mereka menjadi pengasuh anak-anak. Safa membantu sebagai stylist untuk Al yang mengenakan wardrobe sponsor dari Mauren Butik.
"Barudak, jangan berisik ya. Semangati Al dengan acungan jempol aja. Jangan berterik-teriak." ujar Ricky mengingatkan 6 orang anak yang kini duduk manis di kursi penonton.
"Iya, Ayah Iki----" enam anak itu menjawab serempak dengan nyaring. Menjadikan pusat perhatian penonton lain yang pada menolehkan wajah.
"Ya Allah. Baru dibilang jangan berisik." Ricky menepuk jidatnya.
Safa terkekeh melihat suaminya yang pusing. "Aa baru ngasuh 6 orang. Apalagi kalau jadi guru, ngasuh anak sekelas."
"Bisa migrain aku." sahut Ricky sembari meminta minuman yang dipegang Safa.
Sementara Arya sudah berdiri leluasa di ujung catwalk bersama Athaya. Bersiap mengabadikan aksi si bungsu memperagakan busana rancangan Mauren. Ia mengacuhkan pandangan kaum hawa yang menatapnya penuh kagum terhadap fisiknya. Bahkan terdengar bisikan yang mengira jika ia dan Athaya adik kakak karena wajah yang mirip. Sebagian bahkan berbisik kaget karena mengenal Arya sebagai owner galaksi.
"Al, jangan lupa bismillah dulu. saat berjalan tegakkan kepala, lihat ke depan dan pasang senyum ya. Al jangan tegang, oke. " Andina menemani Al bersiap di backstage menunggu giliran dipanggil.
"Oke, Mama." Al menyahut dengan percaya diri.
Musik live yang disajikan DJ dimainkan. Pembawa acara mulai memanggil peserta fashion anak kategori usia 4 sampai 7 tahun dengan tema casual wear.
"Peserta nomer urut 11, Albiru Syahputra." Tiba giliran Al tampil. Anak usia 4 tahun itu mulai memasuki catwalk dengan langkah tegak dan santai. Mengenakan kaos putih dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan celana selutut serta sepatu kets putih, Albiru melenggang dengan gaya cuek sembari menebar senyum. Wajah ganteng dengan dua lesung pipit itu mencuri perhatian penonton yang mengarahkan kamera ponsel mengiringi setiap langkahnya Al. Arya antusias mengabadikan dengan handycam dan Athaya merekam menggunakan ponselnya.
__ADS_1
Selesai lomba fashion show, berganti dengan lomba bayi merangkak. Menjadi ajang berpindah tempat untuk rombongan Andina ke stage sebelah kiri karena kategori lomba duet nyanyi ibu dan anak akan dimulai.