SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
142. Boleh Pulang


__ADS_3

Andina mengerutkan kening saat akan mengangkat panggilan dari Arya tapi mendadak terputus. Ia lakukan telepon balik tetapi hanya suara operator yang terdengar. Dicobanya berkali-kali pun masih sama.


"Ada apa dengan Mas Arya ya..." Andina bergumam sendiri. Raut kecemasan terlihat di wajah cantiknya. Mata indahnya berkali-kali mengerjap pertanda dirinya sedang gelisah.


"Mamaaa...." Athaya merengek saat medekati Andina yang sedang duduk di sofa. Ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Andina, kedua tangn mungilnya memeluk pinggang Mamanya itu.


"Kenapa Kak, ngantuk ya...?" ucap Andina. Tangan lembutnya mengusap kepala Athaya yang nampak mengangguk. "Cup cup anak soleh, bageur... bobonya di kamar yuk..." Andina segera menuntun Athaya ke kamar yang matanya sudah sayu itu.


Tak butuh waktu lama, mata anak gembul itu pun terpejam. Hanya bulu matanya yang lebat dan lentik saja yang terlihat. Jikalau gadis, sudah tak perlu bulu mata palsu untuk mempermanis penampilan wajahnya. Andina mengecup penuh sayang kening Athaya, lalu beranjak keluar kamar setelah merapihkan selimutnya.


"Fa, minta nomer kak Rendy dong, Mas Arya nggak bisa dihubungi...." ujar Andina mendekati Safa yang sedang merapihkan stok hijab yang baru datang.


Safa mengangguk, ia mengeluarkan hape dari saku gamisnya. "Tuh...sudah ku kirim via chat.."


"Thanks beb!"


Dengan segera Andina menghubungi nomor Ricky. Nada sambung terdengar, tapi tak kunjung diangkat.


"Fa, teleponku nggak diangkat. Perasaanku nggak enak dari tadi...jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Mas Arya...." Andina mengusap wajahnya sambil beristigfar. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan terus berdzikir.


Safa ikut duduk di sofa, samping Andina. "Jangan berprangka buruk beb, mungkin bawaan hamil aja jadi sensi. Mungkin saja mereka lagi sibuk...aku yakin nanti suamimu akan telepon lagi..." Safa menepuk-nepuk bahu Andina agar tenang.

__ADS_1


"Din, aku ke bawah dulu ya...ini harus di packing. Soalnya kurir akan jemput jam 3..." ujar Safa menunjukkan tumpukan hijab yang sudah dipisahkan.


"Oke"


*****


Medan


Arya mendapat perawatan di ruang IGD rumah sakit. Perawat dengan sigap membersihkan lukanya. Kini ia berbaring menutupkan mata, selama dokter menjahit luka diperutnya itu. Rikcy dan Brian setia menemani didekat bed.


"Dok, apakah tidak perlu dirawat ?" tanya Ricky setelah dokter selesai dengan pekerjaannya.


"Tidak perlu Pak. Luka sobeknya memang panjang, beruntung tidak menembus organ dalam. Kedalaman lukanya 1,5 cm hanya perlu dijahit saja.


"Pak Arya apa nggak sebaiknya nginap semalam lagi ? kata dokter harus istirahat, tidak boleh banyak bergerak dulu." Brian yang sedang menyetir, berbicara dengan menatap Arya dari spion tengah. Mereka menuju hotel tempat Arya menginap.


"Nggak usah. Nanti saja sekalian istirahatnya di rumah," sahut Arya yang duduk menyandarkan kepalanya. Rasa ngilu dan perih masih terasa, sesekali dirinya meringis.


Sampai di lobi hotel Arya turun dipapah oleh Ricky. Brian langsung pamit akan mendatangi cafe untuk melihat rekaman cctv saat kejadian tadi dan berjanji akan kembali untuk mengantar ke bandara.


Arya perlahan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tidur telentang di ranjang membuat jahitan di perutnya terasa tegang dan nyeri tentunya. Ia memilih tiduran setengah duduk di sofa.

__ADS_1


"Bro, ada banyak misscall dari Andina...pasti dia mengkhawatirkanmu..." Ricky memberikan hapenya kepada Arya yang sedari tadi ber mode silent.


"Hapemu pecah dan mati bro, harus ganti baru !" ujarnya lagi. Ricky menunjukkan hape Arya di genggamannya.


"Hm, dia pasti cemas...tadi pas kejadian aku sedang meneleponnya..." sahut Arya. Kemudian melakukan panggilan balik dari hape Ricky


"Waalaikum salam, sayang...." Arya berusaha menetralkan suaranya ceria, saat membalas salam Andina.


"Nggak ada apa-apa sayang...tadi ada sedikit masalah saja tapi sudah beres kok...hape aku terjatuh langsung mati, maaf ya sudah bikin kamu khawatir.."


"Iya jadi pulang dong...ini aku sudah beli bika ambon pesananmu....aku juga sudah kangen sama si cantik..." Arya terkekeh pelan dengan hape yang masih menempel di telinganya.


"Tunggu aku ya sayang, InsyaAllah jam 8 sampai di rumah."


"I miss you more, sayang....mmuachh" Arya memberi kecupan di akhir obrolannya. Ia tersenyum sumrimgah, sakit yang dirasakannya sejenak hilang setelah mendengar kata rindu terucap dari Andina, istrinya.


*********


Pemirsah, maaf ya telat up. Othor seharian ini jelong-jelong dan baru pulang hi hi hi....


👧 : "thor, dikit amat up nya...."

__ADS_1


"Hm, protes aja kau....😌. Lumayan lah mengobati kepinisirin pemirsah akan kondisi Arya 😉"


__ADS_2