
Andina memperbaiki posisi duduk dengan menegakkan punggungnya. Dengan anggun dan luwes dalam bertutur, ia mulai masuk pada topik cerita . "Sebelumnya Bunda mau tanya, yang bisa jawab angkat tangannya ya..."
"Siapakah nabi Sulaiman Alaihi salam ? Andina mengedarkan pandangan, ada tiga orang anak yang mengacungkan tangannya.
"Ya, Andi..." Andina memberi kesempatan anak tambun berusia 10 tahunanuntuk menjawab.
"Nabi Sulaiman as adalah nabi yang mempunyai mukjizat bisa mengerti bahasa binatang dan bisa memindahkan istana Ratu Balqis," jawab Andi yakin dengan jawabannya.
"Jawabannya betul! Tapi sekarang yang akan Bunda ceritakan adalah kisah Nabi Sulaiam, bersama Semut, Katak, dan Cacing Buta.
"Papi...kaka duduknya mau cama Mama boyeh ?" Athaya mendongakkan wajahnya mengharap persetujuan sang Papi. Arya menganggukkan kepalanya,"Tapi nggak boleh mengganggu mama ya sayang..."
Athaya mengangguk kuat, ia setengah berlari menghampiri Andina yang sedang fokus berbicara, ikut duduk di sisi sang Mama. Andina menoleh sesaat dengan mengulas senyum sambil mengusap kepala Athaya.
Pada suatu ketika, Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau, kemudian tampaklah seekor semut membawa sebutir gandum menuju ke tepi danau.
Di tepi danau itu, muncul lah seekor katak dari dalam air, katak itu membuka mulutnya, lalu semut itu bersama sebutir gandum yang dibawanya, masuk ke dalam mulut katak, kemudian katak itu pun menyelam ke dalam danau dalam waktu yang cukup lama.
Suasana ruangan tampak hening, semuanya baik anak-anak maupun dewasa mulai larut dalam cerita yang disampaikan Andina. Intonasi dan ekspresinya seperti membawa mereka terbawa berfantasi berada pada masa itu.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya, sehingga tampaklah semut tadi yang sudah tidak membawa sebutir gandum lagi bersamanya.
Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan, ”Wahai semut, apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?”
”Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekungan batu itu terdapat seekor cacing yang buta,” jawab semut.
“Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya,” lanjut semut.
”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah swt. telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membantu membawaku kepadanya. Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku. Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya,”
“Kemudian setelah aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu, aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini. Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”
”Ya, cacing itu mengucapkan: Yâ man lâ yansani fî jaufi hâdzihi bi rizqika, lâ tansâ ‘ibâdakal mu’minîna bi rahmatik (Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu).”
"Jadi adek-adek, dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa selama kita masih hidup di dunia , Allah sudah menyiapkan rezeki untuk anak Adam." pungkas Andina.
"Bunda mengajak adek semua untuk selalu HAQQUL YAKIN bahwa Allah SWT akan menolong hamba-Nya yang berusaha dan berdoa sserta membantu sesama. Bahkan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." Andina menebarkan senyum manisnya selesai mengakhiri petikan hikmah dari ceritanya.
Riuh tepuk tangan terdengar tanpa dikomando. Anak-anak tampak senang dan belum puas ingin terus mendengar cerita yang lainnya.
__ADS_1
"InsyaAllah setiap hari sabtu akan membuat jadwal cerita hikmah. Kalau Bunda ada halangan, nanti ada kakak-kakak volunteer yang mewakili..." sahut Andina dengan intonasi lembutnya.
Hendra menutup acara dengan bacaan doa. Pujian kepada Allah dan sholawat atas Nabi Muhammad saw mengawali untaian doa. Rasa syukur dipanjatkan, serta memohon kepada Allah keridhoan, keselamatan dan kelancaran kegiatan rumah singgah kedepannya.
Arya PoV
Aku tak pernah mengalihkan perhatianku sedetik pun selama Andina bercerita. Aura keibuan dan kelembutan semakin memancar begitu mulai menyapa anak-anak. Hm, aku sungguh pria beruntung mendapatkan gadis sepertinya. Ia tak pernah absen menebar senyum manis menampilkan kedua lesung pipi yang selalu saja senyum itu mendebarkan jantungku.
Rasanya, setiap hari aku selau jatuh cinta berkali-kali dan terus menerus terhadapnya. Athaya pun tampak anteng duduk di sisinya ikut menyimak cerita. Suasana begitu hening selama ia bercerita, mungkin terbius dengan caranya menyampaikan narasi. Aku benar-benar bangga pada Andina, kehadirannya telah memberi manfaat untuk banyak orang. Aku sering mengulang pertanyaan padanya, kenapa aksi sosialmu tidak diposting di medsos ? Dan jawabannya selalu sama, "Saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Aku takut tidak bisa menjaga hati dari sifat riya."
Jawabannya sungguh membuatku speechlees. Aku akan selalu mendukung segala kegiatan positifnya. Tak mengapa dia tersenyum untuk semua orang, asal hatinya tetap tertuju padaku.
Love you more and more my wife,
Rasanya ingin segera membawanya pulang, mengunci kamar, memeluknya sampai puas dan menciuminya bertubi-tubi. Ah, aku ingin lebih dari itu.....
*******
Tuh kan, si Papi mah ujung-ujungnya pengen itu.....
__ADS_1