
Sang Raja dan Ratu sehari tampil menawan dalam balutan baju pengantin modern. Mama Papa juga orang tua Rendi berdiri mengapit sang pengantin penuh senyum kebahagiaan. Tamu bergiliran mengantri naik ke atas panggung pelaminan memberikan selamat menempuh hidup baru.
Musik romantis mengalun indah mengiringi para tamu menikmati beragam sajian makanan dan minuman dalam deretan stand yang berhias rangkaian bunga. "Hai Din, sini kubantu bawakan gelasnya..." Mauren berdiri depan stand di sisi Andina yang sepertinya kerepotan membawa piring salad buah dan gelas minuman.
"Eh mbak Mauren, makasih ya..." Andina menyerahkan gelasnya, mereka duduk dikursi VIP yang dikhususkan untuk keluarga. "Mba, nggak makan ?" Andina melihat Mauren yang sedang menikmati Serabi khas Bandung bertoping coklat.
"Kalau malam aku jarang makan makanan berat, ini aja cukup...."
"Kalau aku malah sering makan, bawaannya lapar terus..." Andina terkekeh sambil mengusap perutnya.
"Ya kalau bumil beda, malah bagus kalau banyak makan..jadi nutrisi buat babynya. Kalau aku yang banyak makan nanti malah mekar..." Mauren ikut terkekeh.
"Aku persembahkan lagu ini untuk orang-orang terkasih...."
Andina mendongak, mendengar suara jelas yang dikenalnya dari micropon panggung musik. Tampak Arya berdiri tegap dalam balutan jas hitam, tersenyum dengan lambaian tangan ke arah para tamu yang menyapanya.
"Wah suamimu mau tampil tuh..." Mauren menggoda Andina yang sedang menatap suaminya, takjub.
"Teruntuk Marisa dan Rendi, dua orang yang berarti dalam hidupku. Selamat berbahagia untuk kalian...Baarokallohu Laka Wa Baaroka 'alaika Wa Jama'a Bainakuma Fii Khair..." Arya menunjuk ke pelaminan yang dibalas kissbye dari Marisa dan acungan jempol Rendi.
"And spceial for my lovely wife. Come to me baby...." Arya melambaikan tangan ke arah Andina. Senyum dan tatapannya tak lepas mengikuti Andina yang menuju kepadanya. Arya menuntun sang istri menaiki tangga panggung. Riuh tepuk tangan membuat Andina gugup, tangannya dingin. Tapi ada tangan yang menggenggamnya erat, dengan sorot mata lembut sang suami yang mampu membuatnya mulai rileks.
Intro dari petikan gitar mulai dimainkan, lampu sorot mengarah kepada dua sosok di tengah panggung yang berdiri saling menghadap dengan backround LED kupu-kupu berterbangan.
No one ever saw me like you do
Tak seorangpun pernah memandangku dengan caramu
*All the things that I could ad**d up too*
Satu-satunya hal yang bisa kupahami
I never knew just what a smile was worth
Tak pernah kutahu harga sebuah senyuman
Bur your eyes say everthing without ansingle word
__ADS_1
Namun matamu mengatakan segalanya tanpa sepatah pun kata
Sepanjang bernyanyi, Arya tak mengalihkan tatapannya dari wajah sang istri yang terus merona. Satu tangannya menggenggam erat jemari ibu hamil yang matanya mulai berkaca-kaca.
Cause there's something in the way you look at me
Karena ada sesuatu di dalam carama memandangku
It's as if my heart knows you're the missing piece
Seakan-akan hatiku tahu kaulah bagian yang hilang
You make me believe that there's nothing in this world I can't be
Kau membuatku percaya bahwa di dunia ini aku bisa menjadi apa saja
I never know what you see
Aku tak pernah tahu apa yang kau lihat
But there's something in the way you look at me
The Way You Look at Me - Christian Bautista
****
"Pokoknya kalian pilih saja. Potong gaji 50% atau bonus gaji 50%!" Arya bersidekap tangan di dada. Ricky dan William saling memandang, tangan mereka kompak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ok. Deal!" ujar Willi dan Ricky. Ketiganya melakukan tos, menandakan kesepakatan sudah diraih. Arya meninggalkan kamar Ricky dengan seulas senyum kemenangan tahap pertama.
"Ngapain disediakan kamar kalau gue bakalan tidur di luar..." Ricky menggerutu dengan terus bersungut-sungut.
"Ini nih akibatnya ngerjain si Arya gagal mp jadi gagal semua, termasuk lo nanti." William tampak lebih tenang, toh dia sudah merasakan pembalasan Arya.
Pesta resepsi sudah berakhir, memberi kesan manis dan bahagia untuk dua keluarga dan sahabat terdekat. Keluarga Rendi dan Marisa mulai memasuki kamarnya masing-masing, mengistirahatkan badan yang lelah. Esok pagi akan kembali berkumpul dalam jamuan makan pagi yang besar sebelum siangnya check out.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu kamar pengantin ada yang mengetuk. Rendi dan Marisa telah selesai membersihkan diri dan bersiap memulai menghabiskan sisa malam di ranjang pengantin. Ketukan di pintu kembali berulang. Rendi yang sebetulnya sudah mendengarnya memilih mengabaikan, karena perasaannya tidak enak.
Melihat Rendi yang diam saja, Marisa segera melangkahkan kaki menuju pintu. "Eh sayang, biar aku aja yang buka..." Rendi menahan tangan Marisa dan menyuruhnya duduk. Sekilas ia menatap jam di dinding, jam 11. Benar saja firasat Rendi, saat membuka pintu tiga orang biang kerok semuanya nyengir kuda menatapnya.
"Kakak ipar,.kamu kan janji nggak akan menggangguku, hanya sampai si Willi.saja kan...." Rendi langsung saja memelas menatap Arya yang dengan santai bersandar di kusen pintu.
"Cih, kakak ipar...ngerayu itu mah. Sebel gue dengernya..." Ricky menyebikkan bibirnya. Ia merasa rayuan Rendi sangat lebay.
"Aku kesini mau ketemu Marisa kok, sebentar saja mau ngobrol. Hanya aku aja kok, mereka cuma nganter sampai pintu." ujar Arya sambil masuk menabrak bahu Rendi yang menghalangi jalan. Rendi hanya mampu menghembuskan nafas berat. "Ya sudah, sana kalian pergi!" Rendi mengusir Ricky dan Willi dan menutup pintu tanpa menunggu jawaban keduanya.
"Marisa..." Arya duduk di sofa letter L menselonjorkan kakinya. Ia memanggil sang adik yang sedang duduk menyisir rambutnya.
"Ada apa kak, udah malam gini..." Marisa menghampiri Arya, ikut duduk di sisinya.
"Bentar dong Sa, kakak mau ngobrol sama kamu ingin mengenang masa lalu. Besok-besok belum tentu kita sering bertemu, kamu kan akan pindah ikut suamimu..."
Marisa termenung sesaat, apa yang dikatakan kakaknya ada benarnya juga. "Ok. Kak Arya mau ngobrol apa ?"
"Sini sambil tiduran..." Arya menepuk pahanya. Marisa menuruti keinginan kakaknya itu, merebahkan diri dengan meluruskan kakinya di atas sofa. Ia langsung megembangkan senyum lebar, "Kak, kayak gini tuh aku jadi ingat saat SMP. Kak Arya suka membantu mengerjakan PR sambil aku tiduran.." Marisa tertawa pelan setelah mengingat kembali kenangan manis.
"Makanya, kakak tuh mengajak dejavu. Kamu suka menyuruhku yang mengerjakan PR, kamunya malah tiduran...." mata Arya menerawang, segala kenangan dengan sang adik tergambar di benaknya. Ia mengusap lembut rambut Marisa penuh sayang.
"Ah rasanya baru kemarin adik imut ini merajuk minta uang jajan padahal udah dikasih Mama. Sekarang udah menikah saja..." Arya menjitak pelan kening adiknya itu. Marisa tidak protes seperti biasanya, ia malah tersenyum dengan kebiasaan sang kakak yang juga usil. Arya terus saja bercerita, sampai tak sadar satu jam kemudian Marisa dengan wajah lelahnya, tidur terlelap di pangkuan kakaknya itu.
"Yes!" batin Arya bersorak.
Rendi yang dari tadi hanya duduk menjadi pendengar, menajamkan matanya menatap Arya yang cengengesan. Mulutnya menggeram dengan kedua tangan diangkat seolah ingin mencekik.
"Kamu tidur aja di ranjang sendiri. Biar Marisa disini berbantal pahaku. Aku masih kangen adik manja ini..." titah sang pemimpin biang kerok. Rendi hanya mampu mendengus dan menghentakkan kakinya sebelum berlalu menuju ranjang.
"Skak!"
Ricky melangkahkan kuda menyerang raja yang mati langkah milik William. Mereka duduk bersila di depan kamar pengantin, beralaskan busa lipat sambil menyelendangkan sarung di bahu. Mereka sedang memainkan catur, sudah 2-0 Ricky menang.
Willi menepuk lengannya saat ada nyamuk hinggap. "Ck, hotel bintang lima kok ada nyamuknya...gue kalau nggak dipotong gaji mana mau tidur depan pintu gini...kayak lagi ngeronda aja.." gerutu Willi.
"Sudahlah kita terima nasib....ayo lanjut lagi.." Ricky menuangkan kopi kedalam dua cangkir dari termos bekalnya. Mereka memulai kembali permainan catur. Kali ini William menyelimuti badannya dengan sarung untuk menahan gigitan nyamuk.
__ADS_1
Kang Willi di harudung sarung 😅😅😅