
Ricky masuk ke ruangan Arya dengan membawa berkas. "Pagi Pak Boss, wuih cerah sekali wajahnya ...sepertinya ada good news nih..." ujar Ricky lalu duduk di kursi berhadapan dengan Arya di.meja kerjanya.
"Iya bro, aku lagi seneng. Alhamdulillah Andina hamil..." sahut Arya dengan tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, aku turut seneng...nambah keponakan nih..." ujar Ricky tulus. Dia lalu menyerahkan berkas yang dibawanya. "Bro, ada masalah dengan cabang Palembang, besok kita harus berangkat ke sana..."
Arya menautkan dua alisnya, mulai membuka berkas dan membacanya dengan cermat laporan dari MOD Galaxy Palembang, adanya masalah internal pegawai yang akan demo karena tidak setuju dengan kebijakann baru pimpinan cabang.
"Kita harus turun tangan untuk melakukan mediasi. Kalau sampai pegawai demo, akan mengganggu pelayanan kepada konsumen dan merusak image Galaxy," jelas Ricky.
"Oke. Sekalian saja road to Sumatera. Kamu atur schedule kita kunjungan ke cabang Padang dan Medan," Arya menutup berkasnya lalu memijit line telepon menghubungi Meta.
Meta langsung masuk ke ruangan Arya karena pintunya terbuka. "Met, tolong belikan susu ibu hamil untuk istri saya. Untuk merk nya kamu pasti lebih tahu, pilihkan saja yang terbaik dan rasaya campur saja biar nggak bosen," ujar Arya mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompetnya. Dia tampak tahu dengan varian rasa karena pengalaman dulu saat istri pertamanya hamil Athaya.
"Wah, selamat Pak Arya. Athaya akan punya adek, jadi ada teman main di rumah," ujar Meta tersenyum ikut senang. "Maaf pak, selain susu mau beli apa lagi...karena inu kebanyakan..." Meta menghitung uang yang dipegangnya.
"Lebihnya buat jajan anak kamu saja, Met !"
Meta tampak sumringah, dirinya langsung pamit keluar menuju lantai 2 supermarket.
__ADS_1
Ricky hanya fokus dengan iPad nya, tidak ikut nimbrung obrolan mereka. Dia sedang mengirim email konfirmasi ke cabang yang akan dikunjungi. "Bro, mau pakai kelas ekonomi atau bisnis ? kalau bisnis harus ke bandara Soekarno-Hatta, berarti kita harus berangkat dini hari. Kalau dari bandara Husen hanya ada pesawat ekonomi," jelas Ricky.
"Bandara Husen saja biar dekat dari rumah," sahut Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop, jari tangannya lincah mengetik di keyboard.
Ricky mengangguk, membali membuka iPadnya untuk memesan tiket pesawat.
"Tunggu-tunggu, kenapa kita ngomongnya jadi aku kamu ya..." ujar Arya terkekeh, mendongak menatap Ricky di depannya yang sedang fokus dengan iPad.
"Biar gue terbiasa bro...suatu saat aku akan menjadi orangtua sepertimu. Biar nanti anak-anak terbiasa mendengar bahasa yang baik dari mulut orangtuanya," sahut Ricky, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Wuih tumben kamu bisa ngomong bijak...sepertinya sudah siap melepas status jomblo nih," ejek Arya. "By the way, kapan mau melamar Safa ? Kamu harus kabari kita jauh-jauh hari."
Ricky menyimpan iPadnya di meja, selesai memesan tiket. "Aku mau wujudkan dulu cita-cita,bro. Aku sedang membangun sebuah masjid wakaf atas nama almarhum orangtua, pembangunannya baru berjala 25%. InyaAllah 6 bulan lagi selesai. Setelah itu, aku akan fokus membangun masa depan. Aku akan melamar Safa!" ujar Ricky mantap.
"Nah ini yang aku hindari. Bukan menolak kebaikanmu bro, tapi aku ingin memakai dana murni sendiri. Aku menabung bertahun-tahun juga hasil kerja disini. Aku ingin puas mempersembahkan hadiah masjid dari seorang Ricky Al Farizi untuk amal jariyah almarhum Abah dan Mama," ujar Ricky dengan tersenyum lebar.
Arya acungkan dua jempol setelah mendengar penjelasan Ricky. "Kamu bukan hanya sahabat gue, tapi kita masih ada hubungan keluarga satu buyut. Jadi jangan sungkan kalau perlu bantuan, bro..."
Balik Ricky yang mengacungkan dua jempolnya. Ia lalu pamit ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
*****
Andina menutup koper selesai packing pakaian yang akan dibawa suaminya. "Mas, berapa hari perginya..." Andina tampak sendu setelah mendengar cerita Arya saat tadi sore menjemputnya di ruko.
Arya menghampiri Andina yang duduk di sisi ranjang, lalu mengecupi kedua pipinya. "Aku usahakan tiga hari selesai urusan. Sayang, aku pergi untuk bekerja bukan untuk main...jangan sedih dong...kalau gini aku jadi berat untuk pergi..." Arya membawa Andina kedalam pelukannya.
Andina menyembunyikan wajah di dada Arya. Berusaha menahan air matanya yang tiba-tiba mendesak untuk turun. Entah kenapa suasana hatinya menjadi resah mendengar Arya akan pergi ke luar kota.
"Aku terbiasa tidur malam dalam pelukanmu Mas...nanti aku tidur sendiri deh..." ujar Andina dengan nanda manja, dia memainkan jarinya di dada Arya.
Arya menyunggingkan senyum lebar, mencium rambut istrinya yang wangi bunga lembut. "Hm, nanti kalau nggak bisa tidur kita bisa video call sayang... aku akan menemanimu sampai tertidur. Sekarang kasih aku bekal dulu ya..."
Andina menegakkan duduknya, mengerutkan kening. "Bekal apa Mas ?"
"Bekal untuk si junior agar anteng selama pergi sayang...." Arya mendorong tubuh Andina perlahan sampai terlentang. Lampu terang kamar dimatikan berganti dengan lampu tidur yang temaram. Arya menyibak piyama istrinya, dengan hati-hati mulai beraksi menjelajah lereng gunung, menaiki puncaknya, sampai berakhir di lembah.
Kelihaian Arya membuat Andina terus melenguh dan mendesah, terpuaskan. "Sayang, sekali lagi ya..." bisik Arya sambil mengecupi punggung Andina yang terkulai telungkup, dengan nafasnya yang masih memburu.
"Hm...jeda dulu dong Mas....aku masih cape..." ujar Andina dengan mata terpejam.
__ADS_1
Arya sungguh perkasa, semangatnya masih on. Dia kembali beraksi dengan penuh kelembutan, ia berhati-hati mengingat Andina yang sedang hamil muda. Memperbaiki posisi istrinya, untuk bermain dengan gaya yang berbeda......
...Bersambung...