
"Mau pesan apa ?" tawar Niko.
"Aku minuman aja...Vanilla Latte."
"Ok"
Niko melambaikan tangan ke arah waiters, ia memberikan catatan pesanannya.
"Dalam rangka apa ada disini Ko..?" tanya Vita sambil mengeluarkan sebatang rokok.
"Sejak kapan kamu merokok ?" Niko mengkerutkan keningnya. Tidak menjawab pertanyaan Vita.
"Sejak mencobanya, dan aku ketagihan..." balas Vita sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya. "Kamu belum jawab pertanyaaanku," Vita memicingkan matanya menatap ke arah Niko.
"Aku sudah 2 hari disini untuk urusan pekerjaan. Besok pagi balik ke Jakarta."
"Jelaskan padaku....," Niko mencondongkan badannya untuk lebih mendekat menatap pita. "Kamu cerai dan pindah kesini tanpa memberi kabar, kenapa hmm ?"
"Aku lupa..." Vita terkekeh melihat Niko menatapnya serius.
__ADS_1
"Oh came on Vit...kamu tahu aku sudah stay di Jakarta, kenapa tidak ngabari...udah nggak nganggap sahabat ya ?" Niko terlihat kesal.
"Kamu tahu aku sudah cerai dan pindah kemari...itu artinya kamu tahu dan kenapa tidak dari dulu menemuiku, menghiburku, hmm ?" skak mat. Ucapan Vita membuat Niko diam, salah tingkah.
Waiters datang menghidangkan 2 gelas minuman diatas meja, membuat obrolan mereka terjeda.
"Itu tu...karena aku ingin kamu yang menghubungiku, yang merasa butuh diriku..." jawab Niko sedikit tergagap.
"Huftt...iya maafkan aku Ko, 3 tahun kamu pergi membuatku jadi lupa kalau kamu sudah di Indo lagi...." Vita terkekeh melihat Niko yang kesal.
Niko menyeruput Capucino yang ada didepannya. "Aku mau jujur 1 hal sama kamu...apa kamu tahu kenapa 3 tahun lalu aku pergi ke luar negeri tanpa pamit ?"
"Itu karena aku mencintaimu Vita Eliza...." ujar Niko dengan menatap lembut dan tersenyum miris.
Vita mematikan rokok dengan menekannya diatas asbak. Pandangannya menelisik manik mata Niko mencoba mencari tahu jujur atau bohong kah dia.... "Kamu bercanda kan ?" tanyanya.
Niko menggelengkan kepalanya. "Aku akan jujur menceritakan semuanya,.jangan memotong...setelah itu terserah apa pendapatmu."
Vita tampak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak kita berteman dekat saat SMA aku sudah punya perasaan lebih, aku mencintaimu. Tapi melihat sikapmu yang biasa saja, aku nggak berani mengungkapkan. Apalagi waktu itu kamu berpacaran dengan Yosep si anak basket dan nangis-nangis dibahuku saat kamu diputusin, membuatku makin yakin kalau kamu hanya menganggapku teman." Niko terkekeh membayangkan masa lalu.
"Saat kuliah tingkat akhir kamu jadian sama Arya. Sampai saat kamu sudah bekerja, hubunganmu sama Arya semakin dekat bahkan merencanakan pernikahan. Aku merasa sudah tidak ada harapan mendapatkan hatimu. Makanya aku putuskan pergi saat melihatmu sudah bahagia memilih Arya.
"Kenapa kamu nggak ungkapin saat itu ?" Vita mengkerutkan keningnya.
"Karena aku nggak mau kita menjadi canggung, aku tahu cintaku bertepuk sebelah tangan," ujar Niko sambil terkekeh.
"Meski jauh darimu, setiap saat aku selalu tahu kabarmu kok, bahkan sampai hari ini pun saat mantan atasanmu masuk ke apartemen !" Niko menatap tajam Vita, sampai-sampai Vanilla Late yang baru diteguknya tersedak ditenggorokan.
Vita tak bisa berkata apapun, matanya melotot kaget. Tubuhnya menegang dan berkeringat dingin. Tak menyangka Niko tahu sejauh itu tentang dirinya. "Apa Niko tahu juga apa yang aku dan Edward perbuat..." batin Vita.
"Sweety...aku berani ungkapin semuanya sekarang karena kini kamu single. Apakah ada harapan untukku, aku masih mencintaimu sampai detik ini," Niko menggenggan tangan Vita penuh perasaan.
Hening melingkupi keduanya, masing-masing tenggelam dalam perasaan yang berbeda. Niko yang merasa lega atas ungkapan cinta yang dia pendam bertahun-tahun. Vita dengan perasaan syok atas uraian cerita Niko yang bagaikan stalker tahu tentang detail dirinya.
"Beri aku waktu Ko..."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1