
"Yah, besok kami akan pindah rumah. Masih satu blok dengan rumah Mama. Besok Ayah dan Ibu jangan lupa datang ya," ujar Arya disela sarapan rotinya.
"InsyaAllah nak, jam berapa mau syukurannya ?" tanya Ayah sambil.menyeruput kopinya.
"Setalah Ashar Yah, karena mau beres-beres dulu. Nanti siang juga mulai berkemas pakaian."
Athaya sedang main mobil remote diteras ditemani Mama Andin yang menyuapinya. Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya. Menyorot hingga ke teras, terasa hangat menyentuh kulit.
"Sayang, siap-siap packing baju-bajumu ya. Nanti siang sebelum ke Mama, kita mampir dulu ke rumah baru." Arya datang manghampiri. Ia berjongkok membetulkan mobil anaknya yang terguling.
"Okay Mas. Aku nitip adek dulu ya mau ke dapur. Adek mamamnya habis lho Papi..." ujar Andina memperlihatkan mangkuknya.
"Anak Papi memang pinter sekali..." Arya mencium gemas pipi gembul anaknya. "Dan tentu saja Mama nya paling pinter membujuk," sambil bangkit Arya mengecup pipi istrinya. Pipi Andina langsung merah merona , "Mas ih malu...gimana kalau ada yang lihat."
"Uhuyyy....pengantin baru !" teriak seseorang yang berdiri dipintu pagar yang terbuka. Tadi Zaki berangkat sekolah membawa motor, lupa menutup pintu lagi.
"Eh eh... Ceu Edoh...sini masuk Ceu..." teriak Andina, merasa terkejut serasa maling tertangkap basah.
"Iya nuhun neng...eceu habis beli gula, si akang pengen ngopi. Lanjutkan Mas ganteng..." Ceu Edoh tersenyum genit, lalu pergi menuju rumahnya.
"Ya Allah Mas...aku malu banget," Andina menutup mukanya yang dibalas Arya dengan terkekeh.
Siangnya mereka pamit kepada Ayah dan Ibu menuju rumah baru. Di jok belakang dan bagasi mobil Arya terisi penuh. Ada koper baju, kado yang belum dibuka, serta 1 koper barang hantaran yang sudah dibuka dari kotak-kotaknya.
Mereka memasuki rumah 2 lantai kado dari orangtua Arya. Seolah sudah tahu selera anaknya, rumah ini direnovasi dengan gaya minimalis tapi tetap mewah dengan dominasi cat putih.
"MasyaAllah...bagus sekali Mas rumahnya..." Andina memandang takjub setelah berkeliling dari bawah sampai atas. Kini mereka sedang dikamar utama, selesai memasukkan pakaian ke dalam lemari. "Baju Mas sama adek mau dibawa kapan ?"
"Hmm besok aja deh sekalian. Aku juga harus pesan furniture untuk ruang kerja dibawah," jawab Arya.
"Sayang, tahu nggak....Mama tuh yang paling antusias menginginkanmu jadi menantu. Mama cerewet banget mendorongku mendekatimu. Makanya, saking bahagianya...sampai ngasih kejutan rumah ini," Arya memeluk Andina dari belakang, menyandarkan kepala dibahunya. Mereka berdiri didepan jendela balkon yang terbuka, menikmati terpaan angin.
"Yank, mumpung Athaya bobo...olahraga siang yuk !" tangan Arya menjelajah meremas bokong Andina yang padat berisi.
"Ya udah...adeknya pindahin dulu Mas..."
Arya buru-buru akan menggendong Athaya, tapi hape di sakunya bunyi. Ada telepon dari Mama..
__ADS_1
"Assalamualaikum Ma.."
"Waalaikumsalam, Ar kalian lagi dimana ?" tanya Mama disebrang.
"Dirumah baru Ma. Ada apa ?"
"Kalian kesini sekarang, Mama pengen ketemu. Cepet ya !" Mama memutus telepon sepihak.
Arya menarik nafas berat, melirik Andina yang sedang memperhatikan. "Gagal, Yank...". Andina hanya mengulum senyum.
*****
"Kalian jadi kan menginap disini..." sambut Mama saat mereka baru tiba. "Iya Ma, kan baru pindahnya juga besok, tadi tuh baru nyicil beres-beres barang Andina." Arya yang menjawab.
"Ma, kita ke kamar dulu ya mau nidurin Athaya," lanjut Arya yang sedang menggendong anaknya tertidur.
"Iya nak, sekalian aja kalian juga istirahat..." sahut Mama. Andina permisi untuk meninggalkan Mama.
Entah karena masih terasa sisa-sisa lelah setelah rentetan prosesi pernikahan, Arya dan Andina pun ikut terlelap tidur menemani Athaya tidur siang.
Sore harinya, mereka bencengkrama bersama Mama dan Papa di taman belakang, menemani Athaya yang sedang main dengan kelincinya.
"Kok bisa barengan kalian ?" tanya Mama.
"Aku yang jemput Marisa, Ma. Mobilnya nanti dibawa sama sopir aku," jawab Rendi. Mama hanya menganggukkan kepala.
"Hallo pengantin baru..."Rendi menepuk bahu Arya sambil tersenyum smirk.
"Awas lo ya....lihat nanti pembalasan gue !" Arya mendengus, rupanya masih ada kesal dengan kelakuan tiga sahabatnya itu. Rendi hanya terkekeh menanggapinya.
"Ngomongin apa sih kalian ?" Marisa mengerutkan dahinya. "Bukan apa-apa." Kompak keduanya menjawab. Semua yang melihatnya hanga menggeleng.
"Ren, jangan dulu pulang ya, nanti ikut makan malam bareng," ujar Papa.
"Maaf Pa, nggak bisa. Rendi ada jadwal jam 7, sekarang kan udah buka praktek sendiri."
Mereka melanjutkan obrolan santai sampai menjelang magrib dan Rendi pamit pulang.
__ADS_1
Malam, selepas makan bersama. Arya memilih menghabiskan waktu didalam kamar, bercanda tawa dengan anak dan istri. Athaya tampak gembira dan bermanja dengan Mama Andin diatas ranjang. Athaya mulai menguap beberapa kali, "Hei..jangan dulu bobo, ayo kita pipis sama gosok gigi dulu," Andina buru-buru menggendong Athaya ke kamar mandi.
Arya duduk di sofa fokus dengan laptopnya , mengecek email laporan-laporan yang masuk. Ia melirik ke atas ranjang saat mendengar Andina melantunkan sholawat menina bobokan Athaya. Suaranya lembut, adem mendengarnya, menelusup dingin ke dalam hati.
"Sudah bobo, Yank ?" Arya duduk disisi ranjang memperhatikan. "Sudah pulas, nih sampai mendengkur gini..." Andina merapihkan rambut depan Athaya yang berantakan.
"Sekarang giliran Papi yang kelonin Mama..." Arya menggendong Athaya perlahan agar tidak terbangun.
"Eh...Mas, mau dibawa kemana ?"
"Evakuasi ke kamar Marisa !" Arya berlalu keluar kamar.
Tak lama sudah balik lagi, mengunci pintu kamar.
"Sekarang waktunya kita berdua..." bisik Arya. Mulai mencumbu istrinya dari telinga turun ke leher meninggalkan jejak kissmark. Andina mulai mendesah dan melenguh, membuat Arya makin naik gairahnya. Tangannya mulai membuka kancing piyama Andina, melepas pengait bra, menelusup meremas dua gundukan kenyal.
"Mamaaaaa.....Papiiiii.....buka hiks..." gedoran dipintu dan teriakan Athaya membuyarkan konsentrasi mereka.
"Mas...itu suara adek..." Andina mendorong Arya untuk membuka pintu.
"Sayang, kok bangun hmm." Arya berjongkok didepan pintu mensejajari anaknya yang terisak.
"Taya nda mau bobo sama onti...Taya mau bobo sama Mama sama Papi...hiks," Athaya merajuk sambil terisak.
"Oke oke....ayo kita bobo," Arya menuntun anaknya masuk. Mereka naik ke atas ranjang.
"Mama...peyuuukkk," Athaya merajuk manja menatap Mama Andin. "Iya sayang..." Andina memeluk sambil menahan senyum, matanya melirik suaminya yang tengkurap membenamkan wajah ke bantal.
Flashback On
"Onti napa Taya bobo disini...Mama mana..." Athaya terjaga saat Papi nya sudah keluar.
"Thaya malam ini bobo sama onti dulu, besok sama Mama ya..." Marisa mencoba membujuk.
"Nda mau...Taya mau sekalang sama Mama hwua hwua...."
"Eh cup cup...Taya berhenti dulu nangisnya oke !. Sekarang Taya pergi ke kamar Papi sendiri ya, nanti onti liatin dari sini, oke ?"
__ADS_1
Athaya mengangguk, dia turun dari ranjang. Marisa mengawasi dari pintu kamarnya yg dibuka sedikit, Athaya sampai dengan aman didepan pintu kamar Papi nya.
Flashback Off