
Aneka tanaman bunga berjejer rapi dalam pot sepanjang teras di depan rumah. Satu persatu rumput pengganggu yang tumbuh dicabutinya dengan telaten. Dengan menggunakan garpu, Andina menyungkal tanah dalam pot yang sudah memadat agar kembali gembur.
"Kak, lihat ini apa...." Andina mendekatkan telapak tangannya ke Athaya yang sedang membaluri bola dengan tanah.
"Iihhh itu apa Ma...." Athaya bergidik takut melihat makhluk yang menggeliat-geliat di telapak tangan sang Mama.
"Ini namanya cacing Kak....tinggalnya di dalam tanah. Tugas cacing menyuburkan tanah agar tanaman menjadi sehat...."
"Nih Kakak pegang....nggak apa-apa jangan takut...anak laki harus berani !" Andina membuka telapak tangan Athaya yang raut wajahnya tampak mengkerut takut.
"Hi hi hi geli Ma...." Ketakutan Athaya seketika berubah tawa cekikikan karena gerakan cacing di telapak tangannya membuatnya geli.
"Makanya....jangan dulu bilang takut sebelum mencoba..." Andina terkekeh, lucu melihat tingkah Athaya yang meringis geli.
"Mainnya udahan yuk....udah mau magrib..." Andina mengambil cacing dari tangan Athaya, menyimpannya kembali ke tanah salah satu pot. Ia menuntun Athaya menuju kran, mencuci tangan keduanya.
Langit sore mulai meredup, senja akan segera berganti malam. Andina mengajak Athaya masuk ke dalam rumah.
Kata orang-orang tua dahulu, jika wanci sareupna (menjelang magrib) jangan bermain di luar rumah, pamali. Nanti ada jurig dan kelongwewe bergentayangan menculik anak-anak. Sebuah ancaman yang membuat anak-anak takut itu terus di wariskan turun temurun tanpa tahu kebenarannya.
Andina memahami itu bukan sebagai mitos. Ia tahu, ajaran Islam telah menyebutkan larangan itu dalam hadist, salah satu sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Bukhari RA :
"Ketika waktu malam tiba, laranglah anak-anakmu (keluar rumah) karena setan itu berinteraksi dan bertebaran pada waktu itu. Ketika waktu Isya sudah lewat, maka kalian boleh membiarkan mereka bermain. Tutuplah pintu sambil berdzikir kepad Allah SWT."
Arya PoV
__ADS_1
Dua hari ini aku memantau pekerjaan dari rumah. Menganalisa semua laporan yang dikirim lewat email. Sakit ada hikmahnya juga, aku bisa quality time di rumah bersama anak dan istri mengganti tiga hari yang terlewat tanpa kebersamaan. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan Athaya yang terus saja nempel mengekori Andina kemanapun. Apakah karena bawaan mau punya adek jadi dia manja terus,takut tersisihkan nantinya...
Aku mengerutkan kening melihat saldo yang masih cukup besar saat mengecek kartu debit yang dipegang Andina. Aku memberikannya saat persiapan menikah, dan mengisinya setiap awal bulan. Sampai bulan ini aku baru sempat untuk mengecek mutasi pengeluarannya.
Padahal maksudku mengecek, mau menambah uang belanja kalau-kalau kurang, karena Andina tidak pernah mengeluh atau merajuk meminta dibelikan tas branded new arrival atau barang mewah lainnya. Karakter yang berbeda dengan Maminya Athaya dulu.
Author PoV
"Mobil siap ya ini...?" Arya mengernyit, menatap layar LED. Ia masih duduk di ruang kerjanya, melihat rekaman cctv dimulai saat tiga hari tidak ada di rumah. Tak ada yang mencurigakan dari semua sudut camera yang terpasang. Hanya saja di jam yang sama pukul 6 sore, sebuah mobil terparkir di sebrang rumah sebelah kanan.
"Mungkin yang bertamu ke tetangga..." batin Arya. Ia meregangkan tangannnya, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam 9 malam. Ia menutup pintu ruang kerja, menaiki tangga menuju kamarnya.
"Athaya sudah bobo Ma...?" Arya mencium puncak kepala Andina yang sedang duduk menghadap cermin, menyisir rambut panjangnya yang indah.
..."Sudah Mas. Kakak bobo di kamarnya...tadi sudah perjanjian dulu mau bobo sendiri katanya, asal ditemani dulu sampai tertidur..." sahut Andina tersenyum manis, menatap suaminya dari pantulan kaca....
"Sini, yank..." Arya menepuk-nepuk sisi kasur empuknya.
Andina mendekat, ikut duduk bersandar disamping sang suami. "Ada apa Mas ?"
"Aku baru mengecek kartumu kenapa saldonya masih banyak hmmm..." Arya menatap lembut wajah cantik natural istrinya itu.
"Aku pakai sesuai kebutuhan Mas. Belanja dapur, bayar listrik dan air, gaji Bi Idah, skin care, kebutuhan Athaya, ah pokoknya semua kebutuhan....." Andina mendikte dengan memainkan jarinya menghitung.
"Sayang, kamu bisa beli apapun yang kamu mau....biasanya kan perempuan suka shopping..." Arya mencubit hidung mancung Andina yang selalu membuatnya gregetan.
__ADS_1
"He he he...kalau aku mah nggak gitu Mas. Utamakan beli kebutuhan, bukan karena keinginan apalagi hanya untuk koleksi. Tas branded kan udah ada tiga dari hantaran, tak perlu beli setiap new arrival. Karena Allah tidak menyukai sesuatu yang mubazir dan berlebih-lebihan...." jelas Andina memiringkan tubuhnya, tersenyum manis menatap lembut netra sang suami.
"Sudah sangat jarang wanita zaman sekarang punya pemikiran sepertimu, makin cinta deh...." Arya mengecup mesra kening Andina
"Karena apa yang kita punya kelak akan dipertanggungjawabkan Mas. Diantaranya akan ditanya soal harta. Hartamu didapat dari mana dan dibelanjakan kemana....padahal harta yang sesungguhnya adalah yang di infaqkan di jalan Allah...." jelas Andina sambil memainkan telunjuknya di dada Arya.
"Sayang, aku makin kagum dengan pemikiranmu dan ketulusanmu. Setiap kamu mau bersedekah, ambil saja dari uang belanja yank, tak perlu minta ijin lagi. Karena sedekah istri, pahala juga untuk suami...."
Andina menganggukkan kepalanya dan menyunggingkan senyum manisnya, menyetujui perkataan sang suami.
"Oh ya, besok aku mulai ke kantor lagi....tapi pengen di charge dulu..." Arya tersenyum menaikkan kedua alisnya.
"Di charge gimana Mas ?" ujar Andina menatap polos.
"Karena gerakan jarimu udah membuat si joni bangun...jadi dia sekarang butuh charger..." Arya mengarahkan tangan Andina ke pusat tubuhnya yang menonjol.
"Ishhh mulai deh mesum. Kan puasa dulu Mas..." Andina menarik tangannya, wajahnya langsung merona merah karena kelakuan Arya itu.
"Mana tahan aku puasa lama-lama....Udah nggak sakit kok makanya besok mau ngantor lagi. Yang penting aku mainnya nggak bergerak dulu biar jahitannya aman. Jadi kamu yang pegang kendali ya...." sahut Arya tersenyum tipis.
"Caranya ?" Tanya Andina mengernyit.
Dengan gemas melihat wajah polos istrinya, Arya berbisik sensual di telinga Andina. "Naik ke atasku sayang....seperti naik kuda...." ujarnya, sambil kedua tangannya bergerilya menyusuri pegunungan kembar.
Aksi naik kuda pun dimulai......
__ADS_1
...Bersambung...