
Arya telah berangkat ke bandara jam 5.30 pagi, diantar oleh pak Asep sekalian menjemput Ricky yang sudah menunggu di lobi apartemennya. Rentetan pesan sebelum berangkat diucapkan Arya agar Andina jangan lupa minum susu, tidak boleh kecapean, tidak boleh menyetir sendiri harus diantar sopir, dan banyak lagi. Tidak lupa Arya juga mewanti-wanti bi Idah untuk memperhatikan pola makan istrinya itu. Andina hanya mengiya-iyakan saja dan tersenyum menanggapinya.
"Hole...Mama sekalang minum susu...sama sepelti Taya..." Athaya berseru girang saat Andina menyajikan dua gelas susu beda ukuran di meja makan, untuknya dan Athaya.
"Iya Kak, agar adek di perut Mama sehat dan cepat besar...ayo kita minum susu....jangan lupa bismillah dulu ya Kak..." Andina memberikan susu di gelas pendek untuk Athaya.
Pagi ini Andina berangkat ke ruko diantar oleh Pak Asep menggunakan Yaris miliknya. Cuaca pagi ini gerimis dan langit tampak mendung. Beberapa kali Andina menguap, "Tumben aku ngantuk begini, apa karena cuaca ya..." Andina membatin.
"Pak Asep, saya hari ini nggak keluar ruko. Biar nggak kesal menunggu, Pak Asep boleh kemana aja dulu...nanti jemput saya jam 4 sore..." ujar Andina saat mobil sudah sampai di parkiran ruko.
"Saya akan ke kantor saja Bu Andin, tadi Pak William kirim pesan minta diantar ke Bank..." sahut Pak Asep.
"Oh gitu...ya udah pakai saja mobilnya pak, jangan naik angkot ya..." Andina turun sambil menuntun Athaya. Sopir yang berumur 45 tahun itu mengangguk sopan.
"Assalamualaikum...." sapa Andina saat membuka pintu ruko. Ketiga orang didalamnya serempak menjawab salamnya. "Tumben Bumil datang pagi..." ujar Safa tersenyum girang, dia kemarin sudah diberi tahu Andina tentang kehamilannya.
"Mas Arya lagi keluar kota, jadi aku bisa kesini awal...." sahut Andina. "Perginya sama pangeran kodokmu kok, apa dia nggak pamit hmm ?" lanjut Andina menaikkan kedua alisnya.
"Pamit dong...tadi malam kita chattingan.. " sahut Safa tersenyum lebar, dia kemudian duduk di meja kerjanya, menuliskan daftar barang yang harus dipacking hari ini.
Andina ikut duduk didepan meja Safa, menopang dagu. "Beb, kapan kak Ricky akan melamar ?" tanya Andina menatap tajam. Safa yang sedang menulis, mendongakkan wajahnya. "Masih lama beb, dia lagi membuat masjid untuk wakaf almarhum orangtuanya dulu, setelah itu baru lamaran.."
"Kamu nggak keberatan Fa...?"
"Tidak Din, aku juga belum siap kalau harus sekarang-sekarang, masih enjoy seperti ini. Kita tidak pacaran, sekadar komunikasi saja, tapi kita sudah komitmen saling menjaga hati..." jelas Safa dengan senyum.
"Aku percaya sama kamu beb...." Andina menepuk bahu Safa, lalu beranjak menaiki tangga. Athaya memilih main dibawah merecoki Diki yang sedang packing barang.
*****
Andina PoV
Untuk pertama kalinya aku merasakan ada sesuatu yang kurang. Biasanya setiap sore aku selalu menyambut Mas Arya pulang, kali ini tidak yang ditunggu. Ahhh, hati ini kenapa merasa kangen sekali, padahal ini belum juga sehari berpisah. Mungkin inikah rasanya, jatuh cinta berjuta rasanya kata lagu...
Selepas sholat Isya aku memilih tiduran di kasur bersama Athaya, untung ada anak gembul ini...jadi aku tidak terlalu kesepian. Tadi siang mas Arya mengabari sudah berada di Palembang, sampai sekarang belum ada kabarnya lagi.
__ADS_1
"Kakak...mau dengar Mama cerita dongeng nggak..." aku mencoba mengalihkan perhatian Athaya yang merajuk ingin menonton tv. Aku sedang malas untuk ke bawah, badan terasa lemas inginnya rebahan saja.
"Iya Ma...Taya mau dengal..." serunya semangat, mata Athaya tampak berbinar. Lalu dia mendekatkan posisi tidurannya, mulai menatapku.
"Alkisah, ada empat orang anak yang tinggal bersama Ayah mereka yang sedang sakit. Anak yang paling bungsu bernama Faiz, merawat Ayahnya dengan tulus dan ikhlas. Sementara ketiga kakaknya tidak mau ikut merawat."
Aku jeda dulu memperhatikan Athaya, dia masih serius mendengarkan.
"Suatu ketika, sang Ayah meninggal dan Faiz menjadi sangat sedih. Saat Faiz bersedih, ketiga saudaranya malah pergi meniggalkan Faiz dengan membawa seluruh harta warisan Ayahnya."
"Kacian Faiz ya Ma...." mata Athaya tampak sedih, sisi empatinya mulai tersentuh. Aku tersenyum melihatnya sambil ku usap-usap rambutnya.
Saat akan melanjutkan cerita, hape dibelakangku berbunyi. Aku senang sekali Mas Arya videa call. "Kak, sebentar ya...kita ngobrol dulu sama Papi..."
Author PoV
"Papiiii..." baru saja Andina mengggeser tombol hijau, Athaya langsung berteriak girang memanggil Papinya.
Arya di sebrang sana tersenyum lebar melihat dua orang yang disayanginya nampak di layar hapenya. "Mama sama Kakak lagi apa...?"
Arya tertawa melihat anaknya yang ceria dan semangat. "Iya Papi juga mau dengar ah...ayo Mama lanjut ceritanya..." seru Arya menatap wajah Andina yang kembali terlihat.
"Hm, baiklah-baiklah....Mama akan lanjut ceritanya..." Andina memperbaiki posisinya menjadi setengah bersandar dengan menumpuk bantal, dan mendudukkan hape dengan holder.
"Beberapa tahun kemudian, Faiz bermimpi bertemu dengan Ayahnya. Dalam mimpi itu sang Ayah menyuruh Faiz untuk pergi ke suatu tempat untuk mengambil uang sebanyak 100 dinar."
"Faiz pun hanya mengabaikan mimpi itu. Tapi anehnya, Faiz terus bermimpi hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut. Akhirnya, Faiz pergi ke tempar yang disebutkan sang Ayah."
"Fais pelginya kemana Ma....?" Athaya nampak penasaran, menimpali.
"Hm, Faiz perginya ke sebuah kebun jagung Kak..." jawab Andina.
"Sesampainya di tempat, Faiz benar-benar menemukan ada uang 100 dinar. Tapi, ia hanya mengambil 1 dinar saja atau 1 lembar saja karena Faiz tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Dengan gembira, Faiz lalu pergi ke pasar membeli dua ekor ikan. Sesampainya di rumah, istrinya Faiz segera membersihkan ikan-ikan itu.
Dan betapa terkejutnya istrinya Faiz, saat membelah perut ikan tersebut, ia menemukan ada dua buah mutiara paling indah di dunia."
__ADS_1
"Nah, jadi setiap perbuatan baik, Allah akan membalasnya dengan yang baik pula...Kakak misalkan kalau melihat kucing dijalan, lalu kakak memberinya makan. Itu namanya perbuatan baik Kak...." Andina mengakhiri ceritanya dengan menatap ekspresi Athaya yang nampak terbawa suasana cerita. Mungkin saja ada kosakata yang belum difahami anak seusianya.
"Mama...Allah itu apa...?" tanya Athaya dengan tatapan polosnya.
Andina menatap layar hape, melihat Arya yang dari tadi ikut menyimak ceritanya. "Papi mau bantu jawab ?".tanya Andina dengan senyum.
Arya yang sedang telungkup di kasur dengan menopang dagunya nampak menggelengkan kepala. "Mama saja yang jawab...." ujarnya ikut tersenyum menaikkan kedua alisnya.
Andina memiringkan badannya, menghadap Athaya yang kini tidur telentang.
"Kakak, Allah itu yang menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, sungai, laut, kucing, kelinci, pokoknya semuanya. Termasuk menciptakan Mama, Papih, Oma, Opa, Kakak, juga adek yang ada di perut Mama sayang...." ujar Andina dengan menatap mata Athaya penuh sayang.
Mata Athaya berbinar mendengar penjelasan Mama Andin. "Allah itu sepelti siapa, lumahnya dimana Ma...."
Andina menghembuskkan nafasnya keras, kembali menatap suaminya di layar yang sedang tersenyum lebar dengan gestur tangan mempersilakan...
"Kakak tahu kan bentuk gunung, ayam, kelinci, atau gajah ?" tanya Andina sambil merapihkan rambut di kening Athaya yang nampak mengangguk.
"Nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apapun yang pernah kakak lihat. Allah sangat dekat dengan kita. Allah selalu dekat dengan orang yang baik dan soleh. Jadi Kakak harus menjadi anak yang nurut sama Mama dan Papi, jadi anak soleh, sayang sama adek bayi, dan sayang kepada semuanya," Andina menjelaskan dengan lembut dan sabar sambil menepuk-nepuk paha Athaya yang mulai menguap.
Tak berselang lama mata Athaya mulai terpejam setelah Andina menuntunnya berdoa dulu. Andina mengecup kening Athaya, lalu menyelimutinya.
"Maaf Mas, kesel ya...Mas malah jadi penonton..." ujar Andina terkekeh. Ia duduk bersila memfokuskan diri ke layar.
"Nggak sayang, aku malah menikmatinya....kamu hebat bisa menjawab pertanyaan Kakak..." sahut Arya disebrang, ia tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.
"Huft, Kakak makin kritis Mas, selalu bertanya setiap hal yang baru dilihatnya..." lapor Andina.
"Ilmu agamamu lebih tinggi dari aku, yank. Kamu mentor yang baik untuk anak-anak kita....Kalau aku mah mentor di ranjang, aku akan selalu membuatmu melayang...." ujar Arya menatap mesra, sambil tersenyum lebar.
"Ishh Mas....mulai kambuh deh mesumnya..." Andina mencebikkan bibirnya, tapi hatinya bahagia mendengar godaan suaminya itu.
Mereka lanjut mengobrol penuh canda tawa, sampai tak terasa sudah 2 jam dan Andina mulai mengantuk. Sesuai janjinya, Arya dari sebrang sana menemani sampai Andina tertidur.
**********
__ADS_1