SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
147. Ngidam Strawberry


__ADS_3

Andina duduk bertumpu pada kedua lututnya didepan Arya yang berdiri menghadapnya hanya memakai celana chino hitam, atasnya masih bertelanjang dada. Dengan ujung telunjuk lentiknya Andina mengoleskan salep antibiotik pada luka yang mulai mengering itu dan menutupnya dengan perban.


"Alhamdulillah...selesai !" Andina mendongak, tersenyum menatap Arya yang sedari tadi memperhatikan kegiatan sang istri itu.


"Makasih suster Andin...." Arya tersenyum lebar. Kedua tanganya meraih tangan Andina dan menariknya ke atas untuk berdiri.


"Sekalian bajuin yank...." ujar Arya dengan senyum manjanya.


"Idihh bayi besar yang manja....ngalahin si Kaka ini mah...." Andina geleng-geleng kepala. Tapi tetap saja menuruti kemauannya Arya. Ia memakaikan kaos dalam warna abu muda kemudian memakaikan kemeja slimfit warna abu tua yang pas melekat di tubuh ramping sang suami yang terus-terusan menyunggingkan senyum kemenangan.


"Tangannya mau dilipat atau dikancingkan?" ujar Andina yang masih mengancingkan bagian atas.


"Dilipat aja sampai siku...sekalian ikat pinggang dan jam tangan juga ya yank...." Arya makin menambah requestnya dengan tersenyum lebar.


"Padahal tadi tuh dimulainya minta dimandiin....terakhir disuapin...." Andina mencebikkan bibirnya. "Ini yang hamil siapa yang manja siapa...." lanjutnya lagi pura-pura memberengut.


Arya tertawa lepas melihat mimik Andina yang cemberut memberengut. Menggoda Andina baginya menjadi hobi dan kebahagiaan hakiki. Ia mengulum senyum melihat sang istri yang memicingkan mata memindai dirinya dari atas sampai bawah. Andina memperbaiki kepala ikat pinggang berlogo G itu yang sedikit miring.


"Perfect! Suamiku guanteng maksimal." Andina mengacungkan dua jempol dan melengkungkan senyum manis menampilkan kedua lesung pipinya.


"Dan ini upahnya sayang...." Arya menarik pinggang Andina, memagut bibir ranum sang istri yang selalu memabukkannya.


Keduanya larut dalam gairah pagi yang bergelora, saling menikmati, saling meresapi dalam bingkai cinta yang terpatri di sanubari. Arya sedikit membungkuk, saling menyatukan kening setelah melepas ciuman panas yang membuat nafas mereka memburu tak beraturan. Sejenak diam menetralkan kembali rasa panas yang menjalar di tubuh dan menormalkan kembali tarikan nafas.


"Ayo ke bawah Mas....Kakak pasti nungguin kita..." Andina kembali berkaca, memastikan kembali penampilannya dan mengoleskan lipstik pink blush mate tipis di bibirnya.


Mereka menuruni anak tangga dengan satu tangan Arya merengkuh bahu Andina. Tangan kirinya menenteng tas kerjanya.

__ADS_1


"Eh ada Mama....udah lama Ma...?" seru Andina saat melihat Mama Rita ada di ruang makan menemani Athaya yang sedang makan roti.


"Belum lama kok, ini Mama bawa strawbery khusuas buat kamu....biasanya bumil doyan yang seger-seger...." Mama membuka kotak yang dibawanya, nampak banyak buah strawbery segar dan besar-besar. Membuat Andina membelalak senang dan menelan ludahnya yang tiba-tiba mengumpul penuh di mulutnya.


"Alhamdulillah...pas sekali aku lagi pengen Ma..." mata Andina berbinar. Ia mengambil satu buah yang merah ranum dan mencium aromanya sambil memejamkan mata meresapi wanginya. Ia ingin memakannya tapi belum sampai mulut, Arya menahannya.


"Sayang, makan nasi dulu...baru boleh makan strawbery..." ujar Arya dengan berkata lembut.


Mama terkekeh melihat Andina yang semangat. "Iya Din, jangan takut kehabisan...masih banyak yang akan dipanen. Itu oleh-oleh Papa dari Lembang. Kemarin panennya, hari ini akan masuk ke pabrik untuk dikemas dan didistribusi ke semua cabang Galaxy se pulau Jawa."


Andina nyengir kuda karena mendapat teguran dari Arya dan Mama. "Ya udah kita makan dulu...Mama juga ya..." Andina menyiapkan makan untuk Arya terlebih dulu.


"Mama sudah sarapan di rumah. Mama kesini sekalian mau ngajak Athaya jalan-jalan ke kebun binatang sama rombongan Ibu-Ibu pengajian. Kakak mau ikut kan ya...?" Mama memastikan lagi Athaya yang sebelum Arya dan Andina datang


sudah dibujuknya dengan penjelasan akan melihat banyak binatang disana.


"Iya Ma...kaka mau ikut Oma liat dajah, bulung..." ujar Athaya dengan mulut yang masih penuh roti.


Athaya dengan penuh semangat menuruti. Ia meraih gelas didepannya dan meneguknya dengan cepat.


"Abis Ma...." Athaya berseru girang memperlihatkan gelasnya yang kosong.


"Pinter ih anak Mama....ucapkan apa setelah makan dan minum....?" tanya Andina selalu mengingatkan kebiasaan yang harus dituruti Athaya.


"Al ham du.....lillah...." jawab Athaya semangat, dengan nada bicara diputus-putus.


Mama Rita dan Arya tersenyum lebar, bahagia melihat Athaya yang penurut dan selalu ceria meramaikan suasana.

__ADS_1


****


Andina mencium tangan Arya saat mobil sudah sampai.di parkiran ruko. "Mas, nanti aku pulangnya jam 3 ya..." lapor Andina sebelum membuka pintu mobil.


"Oke sayang. Aku pulangnya jam 7an banyak berkas yang harus diperiksa. Nanti tunggu Pak Asep jemput ya. Jangan pulang naik taksi !"


Andina menganggukkan kepalanya. Ia membuka pintu mobil, tersenyum cerah melangkah menuju pintu ruko.


Andina mengucap salam dan tersenyum lebar melihat tiga rekan kerjanya mulai sibuk mempersiapkan packing barang. Meskipun dirinya selama dua hari tak masuk, mereka tetap bisa dipercaya dan diandalkan.


"Alhamdulillah Bu Arya sudah masuk lagi...akutu kangen beb..." Safa dengan riang memeluk Andina setelah menjawab salamnya. Reni dan Diki ikut tersenyum senang melihat kedatangan sang pemilik olshop.


"Bagaimana kabar kak Arya sekarang ?" lanjut Safa.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, sudah ke kantor lagi mulai hari ini...makanya aku bisa kesini...." jawab Andina yang langsung membuka kotak strawbery nya.


"Ishh aku jadi ngilu Din...pagi-pagi udah makan strawbery...awas sakit perut lho..." Safa meringis dan menelan ludahnya dengan berat melihat Andina dengan santainya menggigit strawbery satu demi satu.


"Ini enak banget beb. Feeling Mama Rita pas deh, tadi pagi ngirim ini. Aku emang lagi pengen strawberry...."


"Eh maaf ya aku nggak akan nawarin kalian...Mas Arya aja aku larang memakannya. Kalian mah aku traktir bakso nanti siang ya... sekalian jus nya..." ujar Andina sambil lanjut mengambil strawbery berikutnya.


"Aseeekkk ngabaso...." kompak Reni dan Diki ber tos ria.


"Sok ah dilanjut lagi kerjanya ya yang semangat, aku ke atas dulu..." Andina bangkit dari kursinya. Ia melangkah menaiki anak tangga dengan tenang.


Usia kandungannya yang masih rawan membuatnya selalu berhati-hati dalam setiap gerak langkahnya. Tak lupa dalam hatinya selalu dibarengi dengan berdzikir, tidak lalai dari mengingat Allah.

__ADS_1


Andina mengeluarkan hape dari dalam tasnya. Sejak pagi hapenya pakai mode silent. Ia menormalkan kembali ke mode suara. Nampak ada beberapa pesan dari relasi konveksi dan grup SMA yang pagi-pagi sudah rame membahas hal unfaedah. Ia mengernyit melihat ada 2 misacall dari Mauren.


"Hm, mbak Mauren...ada apa ya ? Andina membatin.


__ADS_2