SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
60. Ikuti Peran Sebagai Mama


__ADS_3

Dengan perlahan Andina memasangkan selimut menutupi kaki sampai bahu Arya. Sebentar ia tatap wajah lelah laki-laki itu, tidurnya sangat pulas. "Meskipun terlihat lelah tapi kok tampan sih," batinnya. Andina tersenyum tipis. "Eh Astagfirullah..." Andina tersentak dari lamunannya.


Selesai menyelimuti, Andina kembali ke ranjang Athaya. "Ayo mamam lagi sayang.." suap demi suap masuk ke mulut Athaya sampai tersisa sedikit anak itu menggelengkan kepala. "Udah...Taya mo minum Ma.." Andina memberikan minum dari gelas memakai sedotan.


Flashback On


Selesai menelepon Andina, Mama melihat Arya sudah terkapar disofa. Ia terlihat ngantuk berat, padahal baru saja selesai makan tapi langsung tumbang.


"Aha..." Mama menjentikkan jari tangannya." Mama akan menguji perhatian Andina, semoga dia memang calon mantuku," Mama senyam senyum sendiri.


Mama menuju lemari, diambilnya satu selimut baru yang ada didalam lemari. Lalu ia menyimpannya di ujung kaki Arya.


Flashback Off


****

__ADS_1


"Sekarang adek mau apa ?" tanya Andina.


"Mau tulun Ma..." Athaya terduduk di kasur dan beringsut mau turun. "Eits nda boleh...adek masih lemes...mama gendong mau ?" Athaya mengangguk senang, tangannya direntangkan menyambut uluran tangan Mama Andin.


"Du du duh...anak mama belat juga...jadi gemes pengen gigit.." Andina menggigit pelan dada Athaya sampai anak itu tertawa geli. "Ssstt jangan kelas-kelas nanti papi bangun," ujar Andina bicara dengan pelan. Ia menggendong Athaya dan mengajaknya bicara dan bercanda. Dengan hati-hati tiang infus ikut digeser sejalan dia bergerak.


Andina PoV


Sejak Dokter Rendi dan Ibu Rita keluar, diruangan ini hanya ada aku, Athaya, dan Pak Arya yang sedang tidur. Tiba-tiba Athaya terbangun, melihatku dan memanggilku Mama...dia tampak mau menangis tapi aku bisa menenangkannya.


Saat dia memanggilku Mama...ada rasa bahagia dan haru membuncah dihati. Karena diruangan ini tidak ada seorang pun yang melihat dan mendengar, aku pun mulai masuk pada alur anak tampan ini, menikmati peran sebagai Mama nya.


Aku bermain-main sambil menggendongnya. Ia tampak bahagia, tertawa-tawa, sungguh menggemaskan. Aku tidak lama membawanya bermain karena badannya masih lemah dan panas.


*****

__ADS_1


Author PoV


"Udah ah mainnya..mama cape gendongnya...bobo lagi yuk," ajak Andina.


"Nda mau mama...Taya mau duduk disitu," Athaya menunjuk ke arah sofa. "Ok deh tapi ga boleh ganggu papi ya kasihan papi nya lagi cape." Athaya mengangguk.


Andina menuju sofa yang berbentuk letter L itu. Dengan pelan-pelan ia duduk dekat kepala Arya sambil memangku Athaya. Ia juga memposisikan tiang infusan didekat kaki kanannya.


"Hufftt cape juga dari tadi berdiri, batinnya". Athaya duduk nemplok dipangkuannya...ia mendusel-dusel wajahnya ke dada Andina. Karena usapan-usapan lembut dipunggungnya, membuatnya Athaya menguap berkali-kali sampai akhirnya tertidur.


Semilir hembusan AC suhu rendah yang mengarah ke sofa membuat Andina serasa dibuai. Tak sadar dirinya pun ikut tertidur dengan leher terkulai disandaran sofa dan kedua tangan memeluk erat punggung Athaya.


Ada sepasang mata yang sejak tadi menyaksikan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tampak tersenyum, dengan pelan ia masuk ke dalam.


"Aku akan kirim foto ke Papa dan Marisa," batin Mama dengan wajah sumringah.

__ADS_1


***************************************************


...BERSAMBUNG...


__ADS_2