
"Ehm...ke Musholla atau pacaran ditaman," sindir Arya berbisik ke telinga Andina.
Andina menoleh ke arah Arya sambil mengkerutkan kening, "Maksudnya, pak ?"
"Nggak...lupakan. Tadi aku salah lihat ada sejoli ditaman lagi bercanda mesra. Kamu kan di Musholla," Arya bicara pelan, lagi-lagi seperti menyindir.
Andina berpikir sejenak mencerna kata-kata Arya. "Owh itu..." ujar Andina sambil mengulum senyum.
"Owh apa...jangan ambigu deh," ujar Arya mencebik kesal. " Papi cama Mama napa bicik-bicik telus..." Mereka lupa, dari tadi ada anak kecil yang memperhatikan keduanya.
Sontak Arya tersadar, "Eh sa sayang, Papi mau keluar dulu, sama Mama dulu ya." Arya buru-buru bangun dari duduknya meninggalkan Andina dan Athaya.
"Mau kemana nak...buru-buru amat," tanya Mama yang lagi baca majalah di sofa. "Keluar dulu Ma, disini gerah," Arya menjawab sambil jalan tanpa melihat Mamanya.
"Gerah ?? perasaan dari tadi AC nyala," heran Mama dalam hatinya.
Mama Rita melangkah menuju ranjang. "Din, kondisi Athaya selama ada kamu disini terlihat makin membaik. Hmm bisa gak kamu jangan pulang, nginap disini. Kata Rendi kalau terus membaik besok Athaya sudah bisa pulang."
"Hmm...kalau saya sih gak keberatan. Tapi saya mau ijin dulu ke Ibu...bentar ya Bu saya telpon dulu," ujar Andina. Ia berlalu duduk di sofa untuk menelpon Ibunya. Setelah beberapa menit bicara, Andina mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
"Iya Bu...saya dibolehkan menginap. Nanti adik saya akan kesini mengantar baju ganti."
"Alhamdulillah, makasih banyak nak...Ibu jadi tenang kalau nanti pulang. Kamu jangan khawatir nanti Marisa menemani disini juga."
"Assalamualaikum..." Dokter Rendi masuk dan berjalan ke arah ranjang Athaya.
"Kumcalam Om...," Athaya menjawab setelah mendapat bisikkan dari Andina.
"Wah...jagoan Om udah celia, coba Om peliksa lagi ya..." Dokter Rendi ikutan berbicara cadel, dengan seksama ia mengecek kondisi Athaya.
"Gimana Ren ?" tanya Mama.
"Alhamdulillah mau makan banyak meskipun harus dibujuk ekstra, rasanya nggak enak katanya," Andina menjelaskan sambil terkekeh.
"Ya itu wajar, karena infeksi bakteri diperutnya membuat perut mual dan tidak nafsu makan. Dibujuk terus ya Mama...." ujar Dokter Rendi tersenyum smirk menggoda Andina.
"Athaya mau cepat pulang nda ?" Athaya menganggukan kepalanya."Taya mau pulang mau main cama Mama di luko," jawabnya.
"Biar cepat pulang, Athaya harus nurut sama Mama Andin, makannya harus banyak. Oke ?" Dokter Rendi melakukan tos dengan Athaya. "Oke Om"
__ADS_1
Dokter Rendi duduk di sofa bersama Mama, matanya mengamati sekitar. "Arya kemana Ma..."
"Tadi keluar dulu...katanya disini gerah," jawab Mama. "Nanti malam Mama sudah suruh Andin nginep disini, biar Arya gak kewalahan seperti kemarin."
"Iya itu bagus Ma mempercepat kesembuhan Athaya...kelihatan sekali Athaya kalau ada Andin semangat sembuhnya tinggi. Chemistry nya bagus lho Ma, seperti Ibu dan anak beneran. "
"Mama juga berharap dia mau jadi mantu Mama," bisik Mama ke telinga Rendi yang direspon dengan acungan dua jempol.
"Rendi pergi dulu ya Ma...mau visit 3 pasien lagi."
"Pergilah...jangan terlalu cape," Mama menepuk lembut bahu Rendi.
******
Jariku udah keriting nih, udah up 4 bab seharian ini. Sambung besok lagi ya say...
Hibur akoh dengan LIKE and VOTE oke !
Laf u all 😍
__ADS_1