
Arya keluar dari lift dengan langkah tegap penuh percaya diri. Selama berjalan sudut bibirnya selalu tertarik, rona wajahnya sungguh cerah, secerah cuaca hari ini. Aura ketampanannya semakin memancar.
Semakin mendekati ke ruangannya, sekretarisnya berdiri dibalik meja kerjanya dengan tersenyum membungkukkan badannya. "Selamat pagi Pak Arya," ujar Meta.
"Pagi, Meta," jawab Arya dengan tersenyum lebar. Meta kembali duduk setelah bosnya sudah masuk keruangannya. "Si boss tumben cerah sekali, makin seger aja nih mata melihatnya," batin Meta sambil tersenyum tipis.
Meta mempersiapkan berkas-berkas dan tab yang berisi agenda hari ini sebelum dibawa masuk keruangan Arya.
"Jadwal rapatnya jam 11 Pak, akan dihadiri para kepala divisi, MOD, Manajer Produksi dan Manajer keuangan." Meta berada diruangan Arya, menjelaskan persiapan rapat.
"Oke, tolong persiapkan bahan rapatnya !" perintah Arya. "Sudah saya siapkan Pak, sekarang mau diprint. Kalau begitu saya permisi," Meta membungkukkan punggungnya lalu melangkah keluar.
****
__ADS_1
Arya PoV
Suasana hatiku hari ini begitu bagus. Setelah melihat wajah Andina tadi diruko, perasaanku bahagia sekali. Entah kenapa, setelah pertemuan tak disengaja dengannya saat malam minggu itu, wajahnya selalu membayang dimata. Aku baru pertama kalinya menatap dia, menilai penampilannya, dengan sungguh-sungguh. Sebelum-sebelumnya memang dia sudah cantik, tapi malam itu aku memandangnya berbeda. Netraku selalu tidak ingin berpaling dari menatapnya, dia sangat-sangat cantik.
Senyuman manisnya saat tadi aku meninggalkan ruko menjadi moodboster ku hari ini. Berkas yang menumpuk dimeja untuk dikaji, tidak masalah. I'm fighting.
Huft, selesai juga. Aku melihat jam ditangan, masih ada waktu 30 menit lagi menuju rapat. Aku rebahkan punggung kesandaran kursi kebesaranku sambil membuka hape, mendengarkan kembali rekaman nyanyian Andina. Sambil memejamkan maka, aku menikmati suara merdunya yang menyanyikan sebait lagu sura hatiku.
Aku sengaja memainkan dengan mode berulang. Sudut bibirku menyunggingkan senyum, aku merasa sekarang mungkin sedang berada dilangit ketujuh. Karena disekitarku banyak bunga-bunga bermekaran, hamparan rumput hijau dan ada sungai yang mengalir jernih. Disebrang sungai aku melihat Andina berdiri, tersenyum manis menatapku. Gaun putih dan hijabnya melambai-lambai tertiup angin, sangat anggun.
*****
Author PoV
__ADS_1
"Dasar direktur gak ada akhlak ya, semua orang sudah menunggu diruang rapat, lo malah tidur senyam senyum," Ricky berkacak pinggang didepan kursi Arya yang sekarang posisi kursinya menyamping. Ada William juga, ia berdiri didekat meja sambil menahan tawa.
"Astaga, sorry gue ketiduran ya," ujar Arya tampak linglung. Ia baru tersadar dengan apa yang terjadi. Buru-buru diambilnya hape diatas meja, untung saja mati. Arya menarik nafas lega, kalau ketahuam si Ricky bisa-bisa entar jadi bahan bullyan.
"Si Meta kenapa nggak ngebangunin gue sih," sungut Arya. "Eh bro, si Meta udah dua balik kesini tapi lo anteng saja gak terusik, jadi dia minta tolong gue buat menyadarkan lo " ujar Ricky masih dengan muka kesalnya.
"Oke, sorry-sorry...kalian duluan pergi, 5 menit lagi gue nyusul, mau cuci muka dulu," balas Arya.
Ricky dan William meninggalkan ruangan Arya. "Hmm...jam 11.10, berarti aku terlambat 10 menit," gumam Arya.
Ini style kerja Arya, style eksekutif muda. Dia tidak suka memakai setelan formal jas.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...