SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
170. Thank You My Baby


__ADS_3

Hayya A'lash sholaah.....


Arya baru selesai mandi saat adzan Magrib terdengar berkumandang. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, ia segera memakai baju koko dan celana panjang yang sudah disiapkan Andina di atas ranjang.


Arya keluar kamar dengan pakaian sudah rapih. Menghampiri Athaya yang masih anteng menonton kartun Omar Hana. "Kak, ayo ke masjid!"


"Bental Papi..." Athaya menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tv.


"Hm, Kakak lupa ya. Kalau dengar adzan harus apa?" Andina yang baru datang dari dapur ikut menimpali.


"Matikan tv!" teriak Athaya. Ia pun beringsut turun dari sofa mengambil remote di atas meja. Dan blep, tv pun mati.


"Lesgow Papiii..." dengan semangat Athaya menarik-narik tangan Papi Arya yang menanggapinya dengan cubitan gemas di pipi sang anak.


"Ini baru anak sholeh. Sini Mama cium dulu.." sedikit membungkuk dan menekuk kakinya, Andina mencium kedua pipi gembul anak ganteng itu.


"Mama, kita pulangnya abis Isya ya..." ujar Arya. Ia keluar menuntun Athaya yang mulutnya bergumam mengikuti sholawatan yang terdengar dari toa masjid komplek.


"Iya Papi...."


Selepas Isya, keluarga A3 duduk bersama di ruang makan. Sop iga panas dan tempe goreng hangat menjadi menu makan malam mereka. Athaya yang duduk di sisi Andina tampak lahap makan sendiri tanpa disuapi. "Mama, kaka dikacih uang cama om Lendi..." Athaya bicara dengan mulut mengunyah. ia mengacungkan uang bergambar Soekarno Hatta yang diambil dari saku celananya.


"Memangnya ketemu Om Rendi dimana?" Andina mengusap mulut Athaya yang basah karena kuah sop.


"Tadi ketemu di masjid bareng Papa. Kan nginep lagi sama Willi di rumah Papa." Arya yang menyahut, menjawab pertanyaan Andina.


"Kakak bilang terima kasih gak?" Andina yang sudah selesai makannya memilih mendengarkan Athaya yang selalu senang menceritakan pengalamannya atau bercerita ulang dongeng yang didengarnya dari Mama Andin. Tentu saja ini tak lepas dari didikan Andina untuk membentuk karakter sang anak di masa Golden Age ini.


"Syudah Ma, Om Lendi bilang ini hadiah kalena kaka mau ke masyjid..."


"Uangnya mau buat apa Kak? Tau gak itu berapa?" tanya Andina lagi.


Athaya menggelengkan kepalanya. Ia memang belum tahu nilai uang.


"Uangnya disimpan di celengan aja. Nanti kalau sudah banyak, kakak bisa berbagi untuk teman-teman di rumah singgah. Setuju?" Andina membuka telapak tangannya untuk melakukan tos. Dengan semangat, Athaya menepukkan tangan mungilnya. Uang yang dipegangnya ia serahkan ke Mama Andin.


Arya ikut tersenyum bahagia melihat Athaya semakin tumbuh besar semakin terbentuk karakter baiknya.

__ADS_1


"Aduh..." Andina meringis memegangi perutnya.


"Sayang, kenapa?" Arya keluar dari kursinya mendekat ke kursi sang istri dengan raut cemas.


"Aku kontraksi lagi...sepertinya utun mau keluar malam ini Mas..." Andina meringis menahan mules yang terasa lebih kuat dari sebelumnya.


"Benarkah?" Arya tampak tak percaya, kaget campur senang. Ia menuntun istrinya pindah ke sofa ruang keluarga. "Sebentar sayang, aku telepon Mama dulu."


Athaya yang menyaksikan drama orangtuanya, pipinya tampak kembang kempis mau nangis. Ia ikut khawatir melihat Mama Andin yang kesakitan


"Hey, Kakak sayang, jangan nangis. Mama gak apa-apa, cuma sakit perut karena adek mau keluar dari perut Mama, mau ketemu kakak katanya..." Andina mengusap sudut mata Athaya yang berair.


"Mas, tolong ambilkan hape sama tas perlengkapan bersalin di kamar!" Andina sudah yakin dirinya akan segera melahirkan kerena merasakan kontraksinya terus berulang.


"Duh gak aktif lagi..." Andina berulang melakukan panggilan.


"Telepon siapa sayang ?" Arya yang tegang tampak mengernyit.


"Safa, Mas. Dia harus ikut nemenin aku ke rumah sakit. Kita udah saling berjanji..."


"Telpon Mamanya aja, yank. Punya gak nomernya?"


Andina mengangguk. Ia baru kepikiran, kenapa gak telepon Mamanya saja...


Setelah Mamanya Safa mengangkat teleponnya dan berbincang sebentar akhirnya Andina bisa tersambung dengan Safa.


"Safa, aku mau lahiran....awww aduh..." Andina berbicara sambil kembali meringis. Arya langsung mengambil alih bicara, dan sepakat akan bertemu di rumah sakit.


Mama dan yang lainnya datang tergopoh-gopoh menghampiri Andina. "Kontraksinya terus-terusan, Din?" Mama dengan tenang mengusap punggung Andina yang duduk sedikit membungkuk merasakan mules yang hebat. Andina hanya mengangguk lemah.


"Ayo berangkat sekarang!" Rendi menghampiri semuanya setelah dirinya menelepon rumah sakit untuk mempersiapkan tempat dan juga dokter Ai yang akan menangani persalinan Andina.


"Ma, ketubannya pecah..." Andina yang baru berjalan beberapa langkah dipapah Arya, memandang cairan yang menetes ke lantai.


"Tenang sayang, jangan panik. Ayo ganti baju dulu, disini aja gak apa-apa, sekalian pakai pembalut biar nyaman selama di jalan..." Mama mengusir yang laki-laki untuk menunggu diluar. Dibantu Arya dan Bi Idah, Andina bisa berganti baju.


Dua mobil beriringan menuju rumah sakit. Rendi membawa mobil Arya, dan William membawa mobil Papa Roby. "Ren, bisa lebih cepat gak?" Arya setengah berteriak meminta Rendi untuk ngebut, karena melihat Andina yang sebentar-sebentar mengaduh dan mencengkram kuat lengan Arya.

__ADS_1


"Tenang Bro, ini juga sudah cepat..." Sebagai seorang dokter, Rendi lebih bisa menguasai situasi dan kondisi tidak ikut terbawa panik.


Sampai di depan IGD, Ricky dan Safa sudah menunggu gelisah. "Din, aku sudah disini...aku akan temani kamu..." Safa memegang tangan Andina yang di dorong menggunakan blankar. Andina tersenyum kecil, melihat Safa ada didekatnya.


"Baru pembukaan empat, perkiraan 3-4 jam lagi proses persalinannya melihat kondisi Ibu Andin sangat stabil. Tapi nanti 1 jam sekali saya akan cek kembali..." Dengan ramah dan tenang Dokter spesialis kandungan itu memberi arahan kepada Andina dan Arya untuk membantu mempercepat pembukaan.


"Ar, bantu usap-usap punggung Andina biar nyaman!" Arya mengangguk patuh arahan Mama. Andina jalan-jalan disekitar ruangan diikuti Arya yang mengusap punggungnya. Kemudian Safa bergantian membantu mengusap Andina. Sambil melafalkan dzikir dalam hati, Andina berusaha untuk tetap tenang.


Di luar ruangan, Willi dan Rendi menahan tawanya melihat muka Ricky yang lesu. "Yang namanya sahabat itu, harus senasib sepenanggungan. Selamat menikmati malam pertama di rumah sakit!" Rendi berbicara sedikit berbisik dengan tersenyum miring. William terkikik ikut puas melihat nasib Ricky. Seandainya bukan di rumah sakit, ia ingin tertawa dengan lepas.


Waktunya persalinan tiba setelah 3 jam menunggu. Andina didorong menuju ruang tindakan, tangannya tak lepas dari memegang tangan Arya sebagai tambahan kekuatannya. Termasuk waktu yang cepat mengingat ini kelahiran anak pertama.


Hanya Arya yang diperbolehkan ikut masuk. Safa dan Mama Rita hanya bisa menunggu diluar, lalu datang juga Ayah dan Ibu bergabung. Mereka dalam hatinya berdoa untuk kelancaran dan keselamatan Ibu dan bayinya.


Oek oek


Tangisan kencang terdengar sampai ke luar. Semua orang yang berkumpul menghela nafas lega. Pukul 23.04 putri Arya lahir dengan sehat dan selamat.


Di dalam ruangan, tangis haru nampak di wajah Arya yang menyaksikan perjuangan sang istri antara hidup dan mati. Dikecupnya kening Andina dengan segenap perasaan membuncah. "Terima kasih sayang, sudah mau berkorban melahirkan anak kita...I love you.." Arya mencium kedua pipi Andina yang basah karena ikut menangis bahagia.


Arya memangku putrinya yang sudah dibersihkan oleh perawat dan dibedong cantik. Ia melantunkan adzan dengan khusyu dan syahdu di telinga sang putri yang matanya masih terpejam.



Cantik. Itu kesan pertama melihat bayi dalam gendongannya. Arya belum puas untuk terus menatap sang putri yang hidungnya mancung warisan Mama Andin.


Andina kembali berkaca, saat bayi cantiknya menempel di dada, bibir mungilnya tampak bergerak mencari titik sumber ASI.


Setelah dipindah ke ruang perawatan VIP, barulah keluarga bisa melihat Ibu dan bayinya. Semuanya berucap syukur dan berdecak kagum menatap bayi yang anteng terlelap saat Mama dan Ibu giliran menggendongnya.


"Alhamdulillah, anak gue pengertian. Impas kan semua...." Arya sekarang bisa tersenyum lega setelah melewati ketegangan selama proses melahirkan istrinya. Ia menaikkan kedua alisnya memandang ketiga cs nya.


"Huft. Bapaknya gue kalahin, anaknya turun bantuin...." Ricky duduk pasrah menyandarkan punggungnya di sofa.


"Anak gue gitu lho..." Arya menepuk dadanya bangga. Misi pembalasan si Pitung akhirnya selesai.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2