SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
66. Awas Ada Lambe Seuhah


__ADS_3

Setelah 3 hari dirawat akhirnya Athaya diperbolehkan pulang dihari ketiga siang harinya. Andina ikut mengantarkan Athaya ke rumah Mama Rita karena anak itu tak mau lepas darinya. Sementara motor Andina sudah ada suruhan Arya yang membawanya.


"Bu Rita dan semuanya...saya mau pamit pulang sekarang," ujar Andina selesai ikut makan siang bersama keluarga Arya. Athaya sudah tidur setelah dikelonin Andina tadi.


"Istirahat saja dulu disni Din...nanti sore pulangnya ya ," bujuk Mama Rita.


"Nanti saja Bu dirumah istirahatnya. Mau pulang sekarang saja.." balas Andina.


"Yuk kalau mau pulang sekarang...aku yang anterin," Arya menimpali obrolan Mama dan Andina, ia beranjak meraih kunci mobil diatas nakas.


"Eh nggak usah Pak Arya...saya pulang sendiri saja...kan bawa motor," tolak Andina tampak kaget.


"Motornya biar nanti diantar sama mang Rahmat, kamu naik mobil saya sekalian mau ucapkan terima kasih sama Ibumu karena sudah membolehkan anak gadisnya diculik dulu," ujar Arya sambil tersenyum mengangkat kedua alisnya.


"Ulu uluh....manisnya babang Arya," celetuk Marisa. Yang membuat Andina bersemu malu.


Mama sama Papa hanya tersenyum. Andina akhirnya mengalah, ia lalu pamit kepada semuanya.

__ADS_1


****


"Ehm..pulangnya kemana, ke rumah atau ke ruko ?" tanya Arya memecah keheningan saat mobil sudah melaju. "Ke rumah saja Pak, ke rukonya besok saja." jawab Andina. Kembali mereka diam, Arya fokus melihat ke depan memegang setirnya. Andina fokus melihat ke samping memandang bangunan-bangunan yang dilewati. Tak ada pemandangan yang menarik sebenarnya, hanya ia bingung harus melakukan apa.


"Ehm...Din, bolehkah saya meminta kamu untuk tetap berperan sebagai Mama nya Athaya ?" Arya memulai lagi percakapan, matanya masih fokus ke jalan.


"Maksudnya Pak ?" Andina menolehkan wajahnya melihat Arya, keningnya mengkerut.


"Maksud saya ijinkan Athaya tetap memanggilmu Mama. Karena saya melihat pancaran kebahagiaan dimatanya, yang selama ini tidak pernah saya lihat sebelumnya. Hanya untuk Athaya, Din," Arya mempertegas ucapannya.


"Hmm sampai kapan ?" tanya Andina lagi.


"Baiklah saya bersedia, demi Athaya saja kan ?" ujar Andina memastikan lagi.


"Iya demi dia. Hmm kamu boleh kok jelaskan ke pacarmu soal ini, biar dia tidak kaget dan mau mengerti."


"Saya tidak punya pacar," jawab Andina tertunduk malu.

__ADS_1


"Owh. Maaf," ujar Arya. Sudut bibirnya tertarik melukiskan senyum, hatinya serasa ringan dan mengapung mendengar kalimat itu.


****


"Bu Desi, saya kesini untuk mengantarkan Andina. Dan saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada Andina yang sudah mau ikut merawat anak saya dan terima kasih juga kepada Bu Desi sudah mengijinkannya," ucap Arya setelah duduk diruang tamu ditemani Andina dan Ibunya.


"Sama-sama Den Arya, syukurlah kalau Den kecil sudah sehat, Ibu ikut senang," jawab Ibu.


Arya meminum teh yang dihidangkan. "Baiklah kalau begitu saya langsung pulang saja Bu Desi, masih ada urusan yang lain, maaf saya tidak bawa apa-apa cuma ada ini tadi beli dijalan." Arya memberikan dua paper bag berisi Bolen pisang dan Brownis masing-masing berisi 4 kotak.


"Ya ampun Den...meni repot-repot bawa bingkisan segala. Nuhun atuh ya.."


Ibu dan Andina mengantarkan Arya sampai teras depan. Setelah mobil melaju tak terlihat, mereka balik badan untuk masuk.


"Adeuh Bu Desi...eta calonnya Andina ya...duh meni kasep," celetuk Ceu Edoh tetangganya.


Andina dan Ibu saling pandang. " Hadeuh lambe seuhah bakal heboh diwarung ieu mah."

__ADS_1


**************


LIKE DAN VOTE JANGAN SAMPE LUPA YA SAY 😍


__ADS_2