SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
113. Kado Mama


__ADS_3

Pagi ini, Arya dan Andina selesai melaksanakan Sholat berjamaah untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.


Arya benar-benar membuktikan perkataannya meminta tiga kali lagi. Sore, malam, dan pagi ini. Sejak kemarin, mereka sama sekali tidak keluar kamar . Setiap makan, Arya memilih pesan antar dari restoran dibawah.


Selesai sarapan pagi, Arya menggendong Andina penuh semangat menuju ranjang. Dan, terjadilah apa yang diinginkan Arya.


"Mas, memangnya gak lelah apa ?" Andina mengatur nafasnya yang memburu, ia terkulai lemas setelah melayani permainan suaminya selama 1 jam.


"Nggak dong....malah pengennya nempel terus. Coba nih rasain junior sudah On lagi," Arya yang memeluk Andina dari belakang, menggesekkan juniornya.


"Ampun Mas, aku nyerah," Andina mengangkat kedua tangannya depan dada. Arya terkekeh, ia membelai rambut istrinya yang masih setengah basah setelah keramas subuh.


"Mas, pulang sekarang yuk ! Aku teringat adek, dia nangis apa anteng ya ?" Andina membalikkan badannya menjadi telentang, dengan selimut menutupi sampai bahu. "Mas hape kita dari kemarin dimatiin, coba cek Mas...kali aja ada kabar dari Mama."


"Hm, kita mandi aja dulu baru nyalain hape," Arya beranjak menuju kamar mandi dengan memakai dulu celana boxer, menyiapkan air hangat di bathtube.


"Ayo sayang kita mandi bareng, aku bantuin gosok badanmu..." Arya mengecup kening lalu menggendong istrinya dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Andina tidak menolak karena untuk jalan pun lututnya masih lemas.


Arya kembali menggendong istrinya selesai mandi bersama. "Mas, aku udah gak lemas lagi...turunkan ih...." pinta Andina. " Sstt...sudah diam. Aku harus bertanggung jawab sudah membuatmu seperti ini," sambil berjalan, Arya tersenyum menaikkan kedua alisnya.


"Mau sekalian kupakaikan baju ?" tawar Arya setelah mendudukkan istrinya yang hanya berbalut handuk, di ranjang. "Nggak usah...aku bisa sendiri," tolak Andina.


Selesai berpakain dan menyapukan make up tipis diwajahnya, Andina buru-buru menyalakan hape. Banyak chat baik dari grup maupun japri yang masuk yang isinya ucapan selamat, ada juga ledekan soal malam pertama dari Kintan cs. Andina hanya mengulas senyum tanpa membalasnya. Ada chat dari Mama...


"Din, kalau sudah ol, tolong VC Mama ya. Ini Athaya mogok makan pengen ke Mama Andin."


Andina segera melakukan VC yang langsung terhubung, tampak Athaya murung menatap layar.


"Mamaaaa....Mama dimanaaa...Taya mau ke Mama...hiks.." Athaya langsung menangis saat melihat wajah Mama Andin.

__ADS_1


"Adek...cup cup jangan nangis dong...bentar lagi Mama sama Papi jemput adek. Tapi kata Oma, adek gak mau makan ya...kalau gak makan Mama gak akan jemput ah..."


"Iya....Taya mau makan...Mama jangan lama datangnya..." Athaya merajuk sambil membuka mulut saat Oma nya sigap menyuapi.


"Ayo...Mama mau lihat dulu adek makan sampai habis."


Arya ikut bergabung setelah seselai mempacking kopernya dan koper istrinya.


"Wah anak Papi makannya hebat....ayo habiskan sayang..." Arya menyemangati sambil tangannya memeluk Andina.


"Papi...jangan peyuk peyuk Mama Taya...." Athaya berteriak protes, bibirnya merenggut.


"Haha iya ya maaf...gak akan peluk lagi." Arya melepaskan pelukannya sambil terkekeh.


Obrolan VC pun berakhir setelah Athaya menghabiskan makannya.


*****


"Mama jangan pelgi lagi...Taya mau sama Mama...sama Papi juja..." Athaya merajuk, menelusupkan kepalanya ke leher Andina.


"Iya sayang, mulai sekarang adek akan bersama Mama dan Papi, iya kan Pi," Andina melirik suaminya yang sedang melihatnya. "Iya sayang..." Arya mengecup puncak kepala anaknya penuh sayang.


"Ma, hari ini kita mau menginap di rumah Ibu. Besok atau lusa baru menginap disini. Arya juga mau survey rumah baru, kemarin-kemarin belum sempat nyari," ujar Arya setelah berkumpul dengan Mama dan Papa diruang keluarga.


"Ciee pengantin baru....Teh Andin mukanya kok pucat," celetuk Marisa datang ikut bergabung.


Arya langsung menoyor kepala adiknya itu.


"Papi...kata Mama nda boyeh pukul kepala..."Athaya langsung protes. Andina hanya mengulum senyum.

__ADS_1


"Eh ini bukan mukul...tapi mengusap, sayang..." Arya meralat dengan mengusap rambut Marisa.


"Arya, Andina...Papa sama Mama mau kasih kado buat kalian. Ini, bukalah...." Mama menyerahkan box persegi berhias pita ke tangan Andina.


Andina menatap Arya seolah minta persetujuan. Arya menganggukkan kepalanya.


Andina membuka kotak itu, dahinya mengernyit melihat isinya, kunci dan surat SHM.


"Ar, kamu lihat gak ada rumah yang direnovasi, posisinya 2 rumah sebelum rumah ini ?" tanya Mama.


"Iya, Arya lihat Ma. Bagus rumahnya, Arya juga tertarik dengan desainnya."


"Nah, itu kunci dan surat-suratnya. Rumah itu untuk kalian sudah lengkap dengan perabotannya. Mama gak mau jauh-jauh dari cucu dan menantu Mama ini," ujar Mama tersenyum sambil memeluk Andina yang duduk disisinya memangku Athaya.


"Ma...makasih ya," Andina terharu membalas pelukan Mama Rita.


"Iya, sayang," sahut Mama. "Kapan mau pindahannya...nanti kita adakan syukuran undang tetangga," lanjut Mama.


"Bagaimana kalau lusa, Ma ? Nanti kita mau sekalian bilang sama Ibu," sahut Arya.


"Oke. Mama setuju...nanti Mama pesan catering."


Selesai obrolan santai, Arya dan Andina pamit mau ke rumah Ibu dengan membawa Athaya.


...Bersambung...


"Thor, ganti cover ya ?"


Othor menjawab :

__ADS_1


Aku juga terkejut lho kenapa berganti cover mana serem lagi kayak cerita horor. Ternyata pihak noveltoon yang mengganti, katanya biar fresh. Tapi aku sudah layangkan complain karena cover ga cocok sama isi cerita. Semoga segera direvisi oleh adminnya. Atau balikin lagi ke cover asliku.


__ADS_2