
Acara camping di kamar pengantin bubar jam 4.30 subuh. Mereka meninggalkan kamar tanpa pamit karena William dan Celine nampak masih tertidur pulas. Arya bersiul-siul sepanjang jalan menuju kamarnya diikuti kedua CS dibelakangnya yang repot menenteng matras dan tenda lipat.
"Lo seneng banget Ar, udah berhasil ngerjain si Willi..." ujar Ricky.
"Of course. Gue kan udah bilang, akan ada pembalasan si pitung." sahut Arya kalem.
"Bro, berarti kita juga bakal kena ?" tanya Rendi.
Arya berhenti didepan pintu kamarnya. "Kalian aman. Gue kasih remisi karena kalian sudah setia kawan bantu misi," ujar Arya dengan tersenyum tipis penuh arti. Hanya dia dan author yang tahu.
"Yes" Ricky dan Rendi melakukan tos, tersenyum lega.
"Sudah-sudah....sholat dulu keburu akhir. Itu tenda bawa pulang...nanti kita camping beneran di Lembang," ujar Arya.
Mereka berpisah dipintu kamar masing-masing yang bersebelahan.
Arya masuk ke dalam kamar, melihat Andina sedang melipat mukenanya
"Sudah sholat, Mas ?"
"Belum sayang. Aku mau mandi dulu..." Arya mencium pipi istrinya sebelum masuk kamar mandi. Andina segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
__ADS_1
Selepas melaksanakan sholat, Arya menghampiri Andina di sofa. Arya mengambil roti yang ada di meja.
"Roti dari mana ini,yank...masih subuh udah ada makanan," tanya Arya sambil mengunyah rotinya.
"Itu... beli waktu di rest area. Adek kan seneng ngemil, jadi aku nyetok makanan..." jawab Andina.
Arya hanya mengangguk. Dia lalu menyeruput tehnya, rasa hangat dan aroma teh melati mengalir ke tenggorokan.
"Mas ada urusan apa sih sampai harus pulang subuh...."Andina menatap Arya yang duduk di sisinya.
"Biasa....urusan laki-laki, acara ngumpul-ngumpul. Udah ah gak usah dibahas ya... aku pengen olahraga, sayang. Jangan kalah sama pengantin baru...." Arya merengkuh Andina, mencium dan menyesap lehernya sampai meninggalkan jejak.
"Athaya masih lelap kok....kita mainnya disini sayang...." Arya merebahkan tubuh istrinya di sofa. Bibirnya mulai mem😚gut bibir ranum menggoda. Tangannya mengarah membuka pengait bra. Wajahnya langsung dibenamkan, menjelajah, menyusuri dua gunung kembar, tak lupa meninggalkan jejak-jejak pendakian. Dan olahraga pagi pun berlangsung..., membuat tubuh menghangat dan berkeringat.
****
Keluarga Willi dan Celine memilih pulang ke rumah setelah acara resepsi selesai karena jarak rumah dengan hotel tidak jauh. Kini, keluarga Bandung berkumpul satu meja di restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Tak lupa, sepasang pengantin turut serta.
"Will, pengantin kok mukanya gak seger gitu...kalah sama muka mereka..." ujar Mama sambil menatap keempat anak laki-lakinya.
"Ma...maklum dong pengantin baru... jangan digoda ah..." sahut Papa.
__ADS_1
Ketiga biang kerok tampak menahan tawa.
"Heh lo lo pada...kalau mau ketawa, ketawa aja...gak usah sok jaim..." William menatap tajam sambil mengangkat garpu ke arah mereka. Dan tanpa dikomando, mereka tertawa lepas.
"Ada apa sih sebenarnya mbak...?" Marisa menatap Celine yang duduk berhadapan, dengan sorot mata heran.
"Ah kayak gak tau aja mereka, Sa. Gengster gesrek..." jawab Celine santai, sambil memainkan sendok di atas meja.
"Mukanya Bang Willi kayak bete, jangan-jangan...." Andina berbisik ke telinga Celine yang duduk bersisian.
"Bener, Din. Semalam kita tidur aja karena cape. Tadi pagi aku palang merah...." jawab Celine ikut berbisik. Keduanya tertawa cekikikan.
Waiter datang mendorong troly berisi aneka menu, menghidangkannya ke atas meja. Semua tertunduk hening, berdoa dalam hati sebelum mulai menyantap hidangan.
Pukul 10 siang semuanya check out. Arya dan keluarga pulang ke Bandung. Pengantin baru pulang ke rumah Celine menghabiskan sisa cuti di Jakarta.
****
Maafkan othor ga bisa up banyak. Misua ngajakin malam mingguan nih.
Lanjut besok ya say. Laf U all 😍
__ADS_1