
Andina mengerjapkan matanya tanpa menggerakkan badannya. Ia masih enggan membuka mata karena merasakan nyaman penuh kehangatan melingkupi tubuhnya. Saat nyawa sudah terkumpul, barulah tersadar ia bukan sedang memeluk guling tapi tangannya memeluk dada bidang suaminya dengan kepala menyusup di ketiaknya.
Dirinya tersenyum lebar, merasa lega memandang wajah sang suami yang masih terlelap, ia terlihat baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun. Alhamdulillah, penuh syukur Andina mengecup bibir Arya karena rasa bahagia, kembali dirinya bisa menatap wajah rupawan suaminya.
Selepas sholat Subuh dan mengaji beberapa lembar ayat, Andina beranjak membangunkan suaminya. Tidur larut dan rasa lelah membuat Arya pulas dalam tidurnya.
"Mas, bangun....Subuh dulu..."
"Hm"
Arya hanya bergumam, belaian tangan Andina di pipi Arya bukannya membuatnya bangun, malah dirinya semakin nyaman merapatkan mata.
"Mas sudah mau jam 5 sholat dulu ya...nanti boleh tidur lagi...." kali ini Andina mencubit gemas hidung Arya hingga berhasil membuatnya membuka mata. Arya langsung menyeruakkan wajahnya ke perut Andina yang sedang duduk di sisi ranjang.
"Hai anak Papi...." Arya mengecup perut Andina dan mengusapnya pelan. Lalu ia duduk bangkit memandang istrinya itu. "Kok pucat sayang, kenapa ?" Arya dengan suara serak nampak khawatir, ia memegang dahi Andina tapi tidak panas.
"Nggak apa-apa kok. Tadi di dapur pas ambil air minum, mencium bau amis ikan yang lagi dibersihkan bi Idah. Eh ini perut langsung bergejolak mual dan muntah-muntah, bi Idah memberi minuman air jahe langsung enakan deh."
Arya tersenyum lega, "Kalau lemes tiduran aja yank, aku sholat dulu." Arya mengecup kening Andina sebelum beranjak turun dari ranjang.
***
"Jadi Dea dalangnya!" Andina menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Sangat menyayangkan ya, padahal dia punya fisik yang bagus tapi akhlaknya buruk sekali. Aku juga nggak nyangka ternyata Dea juga yang merusak rah tangga mbak Mauren " Andina mengomentari cerita Arya sambil meminum tehnya. Pagi ini mereka masih di dalam kamar, duduk bersama di sofa sambil menikmati sarapan roti bakar dan teh manis.
"Aku kasihan sama Om Agung, dia pasti makin bertambah merasa malu. Dulu, aku inginnya memanggil om Agung tetap dengan sebutan Papa Agung meski ia telah menjadi mantan mertua. Tapi ia enggan, karena merasa malu dengan perilaku anaknya yang menurutnya telah mencoreng muka keluarganya. Ditambah kasus keponakannya sekarang, bisa dibayangkan betapa beban moral yang om Agung rasakan." Arya menerawang disela menghabiskan rotinya.
__ADS_1
"Oh ya, mumpung ingat. Aku minta no rekening kang Hedra,yank. Meskipun dia sudah menolak, aku tetap akan memberinya ucapan terima kasih. Siapapun yang sudah membantu keluargaku, harus mendapat hadiah!"
"Iya my lovely husband." Andina mengedipkan matanya yang membuat Arya gemas, langsung menyosor mencium kilat bibir sang istri.
Perhatian mereka teralih saat pintu kamar terbuka. Athaya masuk sambil mengucek-ngucek matanya yang baru bangun.
"Mama....." dengan serak manja khas bangun tidur Athaya menghampiri Andina, naik ke atas sofa dan duduk di dipangkuan sambil mendusel-dusel wajahnya di dada sang mama.
"Kaka makin pinter lho Papi....kalau bangun tidur nggak pernah nangis...." Andina mengusap-usap punggung Athaya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Arya mengulas senyum menyaksikan pemandangan pagi di dekatnya itu. Sungguh, baginya bahagia itu sederhana, hanya melihat kebersamaan dan kedekatan anak istri saja bisa menjadi obat lelah, resep sehat.
"Bagus dong, kalau kaka mandiri nanti bisa jagain adek bayi kalau sudah keluar dari perut mama...." Arya menimpali sambil ikut mengecup rambut Athaya.
"Yank, pantesan kaka nyaman mendusel di dadamu, aku juga sangat betah apalagi kalau tanpa memakai baju...." Arya berbisik pelan di telinga Andina, lalu mengecup-ngecup menelusuri leher jenjang sang istri.
"Lihat sikon atuh mas...." Andina menggeram pelan.
***
Dua bulan berlalu, kandungan Andina sudah memasuki bulan ke empat. Pengajian empat bulanan sudah dilaksanakan dengan dihadiri keluarga besar, tetangga, dan teman-teman terdekat.
Hari ini akhir pekan, adalah saatnya peresmian rumah singgah "Silih Asuh" yang didirikan Andina dengan dukungan biaya dari sang suami dan wakaf tanah dari mertua.
Syukuran kecil dilaksanakan di rumah singgah, bersama 20 anak asuh yang kesehariannya ada yang mengamen dan pemulung dengan rentang usia 6 sampai dengan 13 tahun . Dengan kerjasama kang Hendra dan istrinya, mereka diambil dari jalanan yang menjadi korban pemalakan para preman. Setengah dari mereka sudah dibiayai sekolahnya oleh Andina sejak dirinya masih gadis.
__ADS_1
Dengan menggelar karpet di ruang pengajaran, semua orang duduk khidmat mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Uci, istri dari Hendra. Suaranya yang merdu dan penjiwaan yang dalam, semua orang dewasa yang hadir tergetar hatinya dan berkaca-kaca setiap ayat Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan berulang dilantunkan sampai 31 kali dalam satu surah Ar Rahman. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yamg kamu dustakan"
Giliran Papa Roby memberikan sambutan singkat menyatakan kebanggaannya terhadap anak dan mantunya atas kegiatan sosial yang diprakarsanya.
"Anak-anak sudah lama tidak mendengar cerita dari Bunda Andin. Bagaimana kalau kita suruh Bunda untuk bercerita, setuju anak-anak....?" Hendra sebagai pembawa acara meminta pendapat anak-anak asuh.
"Setujuuuuu" anak-anak riuh berteriak.
"Ayo Bunda Andin...." seru Rima, anak yang dulu bertemu di parkiran Bank.
Andina menoleh ke suaminya yang duduk di sisinya memangku Athaya. "Maju sayang...aku.juga mau dengar" ujar Arya sambil tersenyum.
Dengan perut yang terlihat sedikit membuncit, Andina melangkah ke depan duduk di kursi yang telah disediakan.
Ada sedikit gugup saat semua mata memandang padanya. Karena yang hadir bukan hanya anak asuh, tapi juga keluarga dan teman dekat ada Safa, Mauren, Dino.
Andina memegang mikropon, dalam hatinya mengucap basmallah. "Anak-anak, siap mendengar ceritanya ?"
"Siap, Bundaaaaa...." anak-anak berteriak sangat bersemangat. Beberapa diantaranya memperbaiki posisi duduknya. Menyiapkan diri pasang mata dan telinga.
*****
Kakak-kakak, siap ngasih poinnya lagi ???? Triple up nih akoh.
Yeay. Hari baru, tahun baru, semangat baru. Semoga kita semua sehat dan bahagia selalu! 😍😍😍😍
__ADS_1
Intip juga novel kedua "Perjalanan Takdir" yang sudah up ramai lancar. InsyaAllah di tahun yang baru akan up kontinyu....