
Tring.
Notif pesan terdengar, Arya yang sedang menandatangani berkas-berkas sejenak meregangkan tangannya. Ia rebahkan punggungnya kesandaran kursi, sambil membuka hp memeriksa pesan-pesan yang masuk.
Beberapa chat menyangkut pekerjaan, ia balas satu per satu. Terakhir ia buka chat dari mama nya, tampak kiriman video. Ia melihat video anaknya yang sedang bermain dengan Andina, belum puas ia putar sekali lagi. Seulas senyum tersungging dari bibirnya.
"Eh..kenapa bisa mereka bersama ya..." batin Arya. Ah nanti sajalah tanyakan langsung ke mama, batinnya lagi.
Arya membereskan berkas-berkas dimejanya, sudah saatnya untuk pulang. Dengan langkah lebar ia bergegas keluar menuju lobby dimana mobilnya sudah terparkir untuk membawanya pulang.
*********
Arya duduk disofa sambil memperhatikan anaknya yang berjalan kesana kemari tidak bisa diam. Anak itu masih saja bergerak aktif tidak tampak lelah.
"Ma...bagaimana Athaya bisa bermain sama Andina ?" pertanyaan yang membuatnya penasaran dari tadi akhirnya terlontar.
"Tadi mama abis dari Pasar Baru...terus mampir ke Masjid Raya ngajak main Athaya...disana kan rame banyak anak-anak yang bermain jadi sekalian mengenalkan anakmu bersosialisasi. Nah pas mama lagi terima telepon, dia lari-lari menjauh...mama sempat panik kehilangan jejak...eh taunya ini bocah lagi meluk seorang gadis." ujar Mama Rita menjelaskan.
__ADS_1
"Mama kaget waktu dia bilang anaknya Wahyu...nggak nyangka ya dulu waktu dibawa-bawa kesini dia imut dan pemalu...sekarang udah gadis...hmm cantik lagi."
"Iya ma...dulu Arya suka godain dia, colok-colok lesung pipitnya..." Arya terkekeh membayangkan masa itu. "Ma...Pak Wahyu bilang mau pensiun...minggu ini terakhir ia jadi sopir aku ma...."
"Oh...alasannya kenapa ?" tanya Mama Rita.
"Katanya faktor U..."
"Ya wajarlah dia kan udah lama ngikut kita...selain faktor u, pasti jenuh juga ada...jangan lupa kasih pesangon Ar..."
"Pasti ma ! Ya udah Arya pulang dulu...cape mau istirahat."
"Nanti aja ma...belum kepikiran, sepertinya untuk sementara aku mau nyetir sendiri deh."
"Sayang...ayo salim sama Oma..." Arya menuntun anaknya mengajak salim. "Jadi anak soleh ya nak..." ujar Mama Rita sambil menciumi seluruh wajah cucunya itu.
*******
__ADS_1
Kembali ke rumah adalah kehampaan yamg selalu Arya rasakan. Rumahnya ibarat persinggahan, bukan tempat yang dituju. Kenapa ? Karena kenyamanan menjadi hambar, kebahagian menjadi tawar.
Athaya Zaydan Syahputra. Ya, kehadiran nama itu yang memberinya kekuatan untuk terus melangkah.
POV Arya
Aku pandangi foto pernikahan yang terbingkai besar didinding kamar. Foto yang menampilkan sepasang pengantin yang tersenyum bahagia.
Vita Eliza, istriku. Aku merasa kamu melangkah semakin menjauh tak sejalan. Kamu pun mengabaikan anakmu.
Aku tak menduga perjalanan rumah tangga akan sampai ke tahap ini. Istriku dulu begitu patuh, selalu sudah ada dirumah lebih dulu. Nyatanya, kenaikan pangkat membuatnya perlahan merubah segalanya.
Aku putuskan mulai saat ini, aku harus bersikap tegas terhadapnya. Baiklah, aku akan tunggu istriku pulang. Kita bicarakan semuanya dengan baik. Jangan sampai perahu retak dan tenggelam tanpa sampai ke tempat tujuan.
Aku pandangi anakku yang tertidur lelap. Wajah yang tenang, polos tanpa dosa. Terima kasih ya Allah telah menghadiahkan seorang yang sangat berharga dikeluarga kecilku ini. Insyaallah amanah ini akan ku jaga dengan segenap jiwaku.
*******
__ADS_1
BERSAMBUNG