
Menjelang siang, mobil yang dikemudikan kang Adang tiba di pekarangan rumah usai menjemput Arya dan Ricky dari bandara. Ricky sudah turun di depan rumahnya, tersisa Arya yang bergegas membuka pintu mobil ketika melihat Al berlari menyambut kedatangannya.
"Papi----Papi." Teriak Al yang senang melihat papinya pulang. Ceu Edoh yang menemani Al bermain hanya mengawasi dari teras.
"Sayangnya Papi lagi main apa, hmm?" Ciuman bertubi-tubi dilayangkan Arya di wajah menggemaskan Al yang memiliki lesung pipi warisan dari sang mama.
"Main pedahan---" sahut Al diiringi gelak tawa sebab Papinya menciumi lehernya sehingga kegelian.
Sambil berjalan masuk ke dalam rumah, rasa kangen terhadap anak ketiganya itu tersalurkan dengan terus menggendongnya dan tanpa henti menciuminya. Pandangannya bersirobok dengan Andina yang baru keluar dari kamar dengan tampilan cantik dan segar dengan wangi menguar ciri khas parfum yang dipakainya.
Ia turunkan Al, dan beralih meraih tubuh Andina yang mencium tangannya, meraihnya ke dalam pelukan. "Kangen, sayang." Ia mengetatkan pelukanya untuk menyalurkan rasa rindu yang memenuhi dada. Terakhir mencium kening istrinya itu dengan lama penuh perasaan.
"Aku juga." sahut Andina yang menenggelamkan wajah di dada bidang suaminya itu. Tempat berlabuh yang sungguh memberikan ketenangan dan kenyamanan.
"Athaya dimana, sayang?" Arya menerima segelas jus jambu merah yang sudah disiapkan Andina di meja. Sensasi segar dan dingin mengaliri tenggorokannya. Nikmat.
"Kakak baru saja bobo. Abis minum obat." Andina menyimpan kembali gelas jus yang tersisa setengahnya.
Arya beranjak dulu untuk melihat Athaya di kamarnya. Ia tatap penuh sayang sosok putra yang kian beranjak remaja. Wajah yang terlelap pulas itu tampak tenang. Suhu tubuhnya masih panas saat ia raba. Dengan perlahan ia menutupkan kembali pintu kamar usai mencium kening Athaya
"Papi mau bertindak gimana?" Andina menatap was-was melihat wajah Arya yang kini gusar menunggu kedatangan Pak Asep yang masih di jalan usai disuruh Andina mengantarkan dokumen ke kantor.
"Kita liat saja nanti." Arya mengusap kepala Andina yang duduk di sisinya. "Orang yang sudah ikut campur urusan keluarga kita harus dikasih pelajaran."
Yang ditunggu kini tiba. Pak Asep mengambil duduk di karpet namun dicegah Arya, harus duduk sofa.
"Pak Asep tahu ciri-ciri mobil yang membawa Athaya kemarin?"
"Plat nomernya ingat nggak?"
Arya to the point pada tujuannya memanggil sopir pribadinya itu.
"Mobilnya CRV warna abu, Pak. Plat nomernya saya nggak ingat. Hanya depannya aja plat B."
"Kalau drivernya?"
"Saya lihat sekilas dari spion, perempuan."
Merasa tak ada lagi keterangan yang bisa dikorek, Arya mempersilakan supirnya itu untuk keluar. Ia lalu menghubungi Ricky untuk memberinya tugas. Andina hanya menjadi pendengar apa yang disampaikan suaminya itu terhadap Ricky.
****
Di ruang kerja direktur keuangan tengah berjalan meeting bersama tim audit internal. Dengan penuh ketelitian, William mendengarkan laporan hasil audit keuangan yang disampaikan tim ahli.
__ADS_1
Asistennya bernama Rey masuk ke dalam dan berbisik pelan di samping telinganya. "Pak, ada telpon penting dari Pak Ricky."
"Kita break dulu." Willi pun keluar ruangan. Jika tidak ada sesutu yang urgent, kawannya itu tak akan mengganggu kegiatan rapatnya.
"Ada apa, bro?!" Willi menautkan kedua alis selama mendengarkan penjelasan panjang dari sebrang sana. Alhasil ia harus memutuskan melanjutkan meeting esok karena mendapat tugas penting dari boss Arya.
"Honey, maaf ya nggak jadi lunch bareng. Ada tugas negara dadakan." Willi lanjut mengabari Celine dimana tadi pagi sepakat akan makan siang bersama di resto Chinese food.
"Arya ada masalah apa?" Terdengar nada keingintahuan Celine. Mendengar kata 'tugas negara' adalah kode jika ada hal serius dengan Arya.
"Ceritanya panjang. Nanti aku ceritain kalau pulang."
Willi ditemani Rey yang menyetir mobil, bergerak menuju sekolah Athaya. Setibanya di sekolah, keduanya menuju ruang kepala sekolah dan menyampaikan maksud dan tujuannya datang untuk meminta rekaman cctv selama 2 hari ke belakang karena berkaitan dengan masalah Athaya. Sang kepala sekolah dan wali kelas tampak ragu. Melihat gelagat itu, Willi mempersilakan pihak sekolah untuk menghubungi orangtua Athaya untuk meyakinkan ucapannya.
"Iya pak, bu Andina meminta tolong rekaman cctv untuk menyelidiki siapa orang yang sudah mempengaruhi Athaya." Bu Puspa meyakinkan kepala sekolah usai ia menelpon Andina.
Dua jam lamanya Willi dan Rey berada di sekolah untuk memeriksa rekaman cctv dari beberapa titik kamera yang terpasang. Begitu dapat rekaman yang diperlukan, Willi mengirimkan video tersebut pada teman polisi yang bertugas di Polda Jawa Barat sesuai arahan Arya.
Kini keduanya melajukan lagi mobil ke sebuah rumah makan untuk mengisi perut yang telat diisi makan siang. Sambil menunggu hasil investigasi teman polisi yamg membantu menganalisa wajah perempuan yang berbicara dengan Athaya itu.
"Kamu yakin tidak akan membuat laporan ke kantor polisi?" Andre sang polisi yang dimintai tolong, memastikan lagi saat sudah mengirim data identitas perempuan berambut belang merah ungu.
"Arya belum ada niat. Mau selesaikan sendiri. Tenang, tidak akan ada kekerasan." Sahut Willi yang berkomunikasi via telepon.
"Oke. Ingat ya, jangan main hakim sendiri!" sekali lagi sang polisi menegaskan.
****
"Papi, kapan datang?" Athaya tersenyum lebar, begitu sampai di tangga bawah mendapati Papi Arya tengah berkumpul bersama mama Andin, Aki dan nenek juga Oma dan Opa.
"Sini sayang." Arya melambaikan tangan. Mengajak Athaya duduk di dekatnya.
"Alhamdulillah udah turun ya panasnya." Arya menempelkan tangan ke kening dan leher si sulung dimana teraba suhu badannya tak lagi panas.
"Siapa dulu dong mamanya yang hebat. Dengan sayang ngerawat kakak dari semalam." Mama Rita tulus membanggakan Andina. "Peluk dong sayang mamanya." Ia menyuruh sang cucu mendekat ke Andina. Sengaja, agar psikologisnya makin membaik.
Athaya beranjak dari posisinya yang duduk di dekat Papi Arya, beralih ke hadapan Mama Andin lalu bersimpuh dan menenggelamkan wajah di pangkuan mama sambungnya itu. "Aku sayang Mama. Mama jangan tinggalin aku ya?!" ujarnya sambil terisak.
Semua orang yang menyaksikan tampak terharu. Semua keluarga tahu kelemahan Athaya adalah Andina. Anak itu sangat ketergantungan dengan sang mama.
Andina menarik Athaya untuk berdiri. Ia beralih memeluk tubuh yang bongsor itu sambil mengusap-ngusap belakang kepalanya. "Jangan takut, sayang. Mama selalu ada buat kakak. Mama sangat sayang sama kakak." Ia pun tak kuat menahan buliran air mata yang menetes di pipi karena haru.
Semua yang menyaksikan merasa kasihan juga melihat Athaya yang menjadi rapuh setelah mengetahui kenyataan bukan sebagai anak kandung mama kesayangannya itu.
__ADS_1
Arya turut berdiri dan memeluk anak dan istrinya itu. Si kecil Al tak mau ketinggalan, heboh berjingkrak-jingkrak ingin ikutan memeluk. Membuat semuanya tertawa melihat tingkah Al.
"Hore ada Papi---"
"Ih kenapa kayak teletubbies sih....pada pelukan gitu."
Suara riang Lala yang baru pulang sekolah membuat semua tatapan beralih pada si ceriwis.
"Lala, kenapa nggak salam dulu?" Mama Andin memicingkan mata.
"Hi hi hi...lupa, Ma." Lala mengangkat dua jarinya. Ia berlari ke arah pintu lalu mengulang masuk sambil berucap salam. Ia pun menyalami Aki, nenek dan terakhir Papinya.
"Papi, gendong Lala. Lala kangen Papi." Tanpa menunggu jawaban, lala naik ke sofa untuk meraih naik ke punggung papinya. Semakin heboh saat Al mengikuti jalannya Papi yang berkeliling dalam rumah dan dengan usil menggelitiki kaki Lala sampai menjerit-jerit kegelian.
Keluarga yang penuh kehangatan dan saling berkasih sayang, membuat siapapun mungkin iri dengan pola didik yang berkualitas itu.
"Papi, ada telpon dari Om Willi." Athaya memberikan ponsel kepada Arya yang dengan pasrah tengkurap di karpet karena Lala memaksa ingin memijat kakinya dan Al memijat tangannya sebagai upah karena sudah menggendong.
"Ya, Will?!" Arya menerima panggilan tanpa merubah posisinya.
"Bagus. Bawa ke rumah Papa aja."
Mama bertanya tanpa suara yang dibalaa Arya dengan anggukkan dan kode dagu mengarah ke arah rumah mamanya.
****
Arya, Andina, Ricky, Willy, Mama Rita serta Papa Roby duduk bersama menatap seorang perempuan berpostur tubuh tinggi gemuk dengan rambut pendek di cat belang merah ungu. Tampak sekali tubuh perempuan itu bergetar dan menundukkan wajah dalam-dalam. Sementara Ayah Wahyu dan Ibu Desi berinisiatif menemani ketiga cucunya di rumah Arya.
"Kamu yang menemui Athaya di sekolah?" Arya bertanya dengan nada marah. Dari data E KTP diketahui perempuan itu bernama Kokom Sarkomah. Dan begitu Willi menuju alamat tempat tinggalnya, tetangganya bilang jika Kokom sedang bertugas sebagai sekuriti di sebuah rumah makan. Hingga Willi menggiringnya dari rumah makan tersebut.
"Iy-iya, pak. Ta-tapi sasa--saya disuruh." Jawabnya dengan gugup dan terbata-bata.
Tak hanya Arya yang mengerutkan kening karena heran, namun yang lainnya juga sama.
"Siapa yang suruh? Apa motifnya?" Dengan nada dingin Arya kembali menginterogasi.
"Sa saya disuruh mengatakan tentang mama kandung Athaya yang sebenarnya, pak. Lalu besoknya memeperlihatkan foto-foto mama kandungnya. Tugas saya cuma itu." Perempuan itu mengangkat wajah sesaat lalu menunduk lagi dan tampak menciut ketakutan.
"Yang nyuruh kamu siapa hah?" Mama Rita mulai tersulut marahnya karena si terdakwa belum juga buka suara saat Arya kembali bertanya siapa pelaku utamanya.
"Heh, rambut kamoceng. Kalau nggak mau ngomong juga, saya telepon polisi nih." Ricky dengan nada santai menggebrak perempuan bernama Kokom itu.
"Jangan, pak. Saya mohon jangan." Kokom mengangkat wajahnya sambil memelas. "Saya punya bapak di rumah yang sakit-sakitan. Kalau saya dipenjara, siapa yang rawat bapak."
__ADS_1
"Buru atuh ngomong (cepetan ngomong)!" Ricky kini yang menghardik. Arya tampak mengepalkan tangan dengan wajah memerah menahan kesal dan marah. Ada Andina siaga mengusap dada, menenangkan suaminya itu.
"Yang nyuruh Tantri, Pak."