SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
148. Bertemu Mauren


__ADS_3

"Apa aku mengganggu waktumu, Din ?"


Setelah saling berpelukan dan bertanya kabar, Mauren duduk di sofa samping Andina sambil memiringkan tubuhnya. Sebelumnya, tadi pagi Andina menelpon balik Mauren dan sepakat untuk bertemu jam 1 siang di ruko.


"Nggak kok mbak, sekarang sudah nyantai....ada apa nih sepertinya serius sekali...? Andina ikut memiringkan tubuhnya, menatap lekat wajah cantik Mauren.


Penampilannya masih saja sama, seksi. Dress tanpa lengan press body dengan panjang di atas lutut membuat mata Diki tak berkedip memandangi Mauren saat naik tangga menuju lantai dua. Alhasil, Diki kena timpuk baju yang dilayangkan Safa yang menatapnya sangar. Diki pun hanya menggaruk kepala yang tak gatal sambil tertawa cengengesan.


"Aku kesini mau nagih hutang sama kamu...."


"Aku punya hutang apa ya...?" kening Andina mengkerut. Otaknya berusaha mengingat apa yang sudah dipinjamnya dari Mauren.


Mauren tertawa pelan melihat mimik Andina yang nampak serius. "Waktu di pesta Willi, kamu bilang siap menjadi teman curhatku...makanya aku mau nagih sekarang..." ujar Mauren lanjut terkekeh.


"Aissh kirain hutang apa mbak...aku sempat kaget ih..." Andina menarik nafas lega.


"Din, aku boleh sambil merokok nggak....aku kalau stress atau tegang hanya rokok yang bisa menenangkan untuk sementara..." ujar Mauren dengan sorot mata penuh beban, meminta ijin sebelum mengeluarkan rokok dari tas brandednya.


"Maaf ya mbak, aku nggak kuat dengan asap rokok, suka batuk. Ditambah ada baby di perut..." tolak Andina halus, sambil mengusap perutnya.


"Wow...si Arya tokcer ya....congrats Din....aku turut senang...".Mauren terlonjak girang mendengar penuturan Andina.


"Makasih mbak...." Andina tersenyum. "Sok atuh mau curhat apa....tanpa rokok pun mbak akan tenang kalau sudah mengeluarkan beban di dada..."

__ADS_1


Mauren menegakkan duduknya, ia meneguk dulu air mineral dari botol yang tersaji di meja. Wajahnya mulai serius, pandangannya lurus ke depan menatap kosong. "Aku nggak tahu harus mulai dari mana ngomongnya...yang jelas sampai saat ini hatiku gersang. Aku punya segalanya, uang, rumah, kendaraan, butik, tapi aku tidak punya kebahagiaan. Aku ini anak tunggal dan tinggal di Bandung sendiri. Setelah Mami meninggal, Papi menikah lagi dan memilih stay di Singapura. Karena di Bandung selalu teringat segala kenangan manis dengan Mami katanya."


Andina diam tidak menyahut, menunggu kelanjutan cerita Mauren yang kembali meneguk minumannya.


"Aku malah sebaliknya. Nggak mau tinggal di Singapura karena disana ada kenangan buruk. Atas laporan sekretaris, ada model Indonesia yang selalu datang ke kantor. Aku menciduk suami sedang bergumul di atas meja kerjanya. Sangat menyakitkan dan menjijikkan...." Mauren mendongakkan kepalanya menahan air mata yang akan jatuh.


"Aku memutuskan bercerai dan pulang ke Bandung. Dan aku sempat berharap mendapatkan Arya karena dia sosok yang baik." Mauren tertawa pedih menolehkan wajahnya menatap Andina.


"Tapi aku cukup tahu diri melihat rival sepertimu... sangat-sangat beda kelas...." Mauren kembali tertawa, lebih tepatnya mentertawakan dirinya sendiri.


"Mbak pasti akan mendapatkan jodoh yang lebih baik...." Andina baru menyahut setelah sekian panjang Mauren berbicara.


"Kenyataannya tidak seperti itu Din. Pria yang mendekatiku tidak ada yang tulus, mereka hanya ingin bermain-main dan memoroti uangku. Dan teman-temanku juga hanya dekat disaat having fun " Mauren mendesah putus asa.


Andina terenyuh melihat kondisi Mauren yang tampak rapuh itu. "Mbak, maaf sebelumnya ya....apa mbak muslim ?" tanya Andina hati-hati.


"A-aku terlahir sebagai muslim...tapi orangtua tak pernah mengajarkan pendidikan agama..tak pernah menyuruh sholat tak pernah mendatangkan guru mengaji...." Mauren sedikit tergagap, ia menunduk malu dihadapan Andina.


Andina tersenyum tipis menatap Mauren yang tertunduk. "Tidak ada kata terlambat untuk berubah mbak....mbak bisa memulai hijrah dari sekarang karena aku rasa hati mbak mulai mendapat secercah hidayah...."


"Maaf-maaf ya mbak....bukan aku sok menggurui....mbak mulailah memperbaiki penampilan. Setiap muslimah itu wajib menutup auratnya. Mbak kalau belum siap, bisa dimulai dengan memakai pakaian yang tertutup, tidak lagi seperti ini..."


"Mbak Mauren itu cantik, dengan pakaian seperti ini, mbak pasti selalu jadi pusat perhatian laki-laki. Tapi mereka memandang mbak karena nafsu, mungkin sebagian akan berfantasi liar. Aku malah khawatir mbak mendapat pelecehan."

__ADS_1


Andina sejenak menjeda bicaranya, kalau-kalau Mauren akan mendebatnya atau tersinggung dwngan ucapannya. Tapi Mauren tampak diam seakan merenungi ucapan Andina.


"Mbak, jodoh itu cerminan diri. Jika kita ingin mendapat pasangan yang baik, maka diri kita dulu yang harus baik. Kalau perilaku kita buruk maka kita pun akan mendapat jodoh seperti itu...."


"Kamu benar Din, tak ada lelaki baik yang mendekatiku. Mulai sekarang aku akan berubah..." Ada kilat asa di manik mata Mauren. "Andin, maukah ajari aku sholat dan mengaji...aku sama sekali buta..." sorot mata Mauren berubah penuh permohonan menatap mata Andina.


"InsyaAllah mbak, aku akan membantu membimbing mbak Mauren. Kalaupun aku berhalangan, ada Safa yang bisa membantu mbak. Aku juga akan kenalkan dengan mbak Uci, dia temanku juga, seorang hafidzah." Andina tersenyum lebar, ikut bahagia dengan niat hijrah Mauren.


Mauren memeluk Andina dengan erat, menyalurkan rasa senang dan rasa terima kasihnya. "Din, makasih ya sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Aku harap kamu mau menjadi temanku, aku butuh teman yang bisa mengajak pada kebaikan..." mata Mauren berkaca-kaca. Benar kata Andina, hatinya merasa lebih lega setelah mencurahkan beban yang menyesak di dada.


"Iya mbak, sudah kewajiban kita sesama muslim untuk saling mengingatkan dan saling membantu...." Andina menepuk-nepuk punggung Mauren dengan senyum tulusnya.


Setelah saling melepas pelukan, Andina beranjak dari sofa. Ia memilih beberapa hijab voal dan dua gamis kualitas premium dari rak etalase.


"Mbak, ini kenang-kenangan dari aku....aku nggak menyuruh segera memakainya. Biarlah hati mbak Mauren yang memantapkan..." Andina menyerahkannya dengan senyuman tulus tersungging di bibirnya.


"Ya ampun Andin...aku sungguh speechless mau ngomong apa lagi..." Mauren mendekap erat di dadanya, hadiah dari Andina yang baginya sangat berharga dan istimewa. Kembali matanya berkaca-kaca karena haru.


...Melimpah harta, memiliki semua apa yang kita mau, tapi tetap saja tidak bahagia ?...


...BAHAGIA ITU KETIKA DIRI DEKAT DENGAN ALLAH...


...Standar kebahagian seorang muslim tidak ditentukan oleh materi, melainkan ketika dia bebas beribadah dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya ...

__ADS_1


...(Author)...


__ADS_2