SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
154. Malam Yang Melelahkan (1)


__ADS_3

Andina memilih turun menuju ruang keluarga setelah


menidurkan Athaya di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 11 malam tapi Arya masih


belum pulang. Chat terakhir sang suami selepas Magrib mengatakn, ia akan


memulai misinya dan jangan mengkhawatirkannya. Mana bisa, hati  Andina tetap merasakan kecemasan menanti


kepulangan suami tercinta. Dzkir dan doa tak henti ia panjatkan untuk


keselamatan semua orang yang terlibat malam ini.


“Neng, kenapa belum tidur?” tanya Bi Idah yang


terbangun karena haus, berjalan menuju ruang keluarga karena lampunya menyala.


“Aku menunggu Mas Arya pulang Bi…” lirih Andina


menoleh sesaat ke arah Bi Idah yang berdiri di samping sofa yang di dudukinya.


TV dibiarkan menyala menyiarkan berita malam, hanya sebagai teman sepi.


“Bibi temanin ya, Neng mau makan atau minum apa biar


bibi buatkan?”


Andina mengangguk tanda setuju. “Hm, tolong buatkan


jeruk panas saja Bi…”


Bi Idah menganggukkan kepalanya, ia meninggalkan


Andina menuju dapur.


******


Kamu akan bebas dari kematian asal selalu mau jadi teman tidurku sayang, gimana hmmm...." ujar Dea dengan tatapan lapar mengarah ke bibir Arya yang membuatnya bergairah. Ia membuka


tutup air mineral dan memasukkan serbuk obat ke dalamnya.

__ADS_1


"Minumlah babe...." Dea tersenyum lebar, ia membuka mulut Arya dengan tangan


kirinya, sementara tangan kanannya siap menuangkan minuman ke dalam mulut Arya.


Dengan gerakan cepat, Arya menepis tangan kiri Dea dengan keras dan merebut botol air mineral sampai tubuh Dea terdorong ke belakang. Tentu saja Dea tersentak kaget menyaksikan Arya


bangun dari kursi tempatnya diikat.


“Bagaimana bisa kamu melepaskan ikatan?”  Dea memicingkan matanya menatap tajam wajah Arya.


“Karena anak buahmu tidak mengikatku dengan benar,” sahut Arya lugas, membuat Dea mendengus kesal.


“Kamu ingin aku minum air ini kan ? Aku akan meminumnya, tapi jawab dulu pertanyaanku,”


Arya berdiri berhadapan, mengacungkan botol air ke depan wajah Dea yang terlihat mengkerutkan keningnya.


“Apa kamu yang menyuruh orang menusuk  aku saat di Medan ?” Tanya Arya datar, menelisik netra perempuan di hadapannya itu.


Dea tersenyum sinis menatap Arya. “Iya, aku yang menyuruh mereka. Itu peringatan untuk orang yang sudah merendahkan harga diriku. Aku tak akan menerima namanya penolakan!” ujar Dea dengan amarah. “ Ha ha ha bagaimana rasanya perut tergores hmm? Sakit kan!”


“Dan ah, kamu nggak bisa melaporkanku, tak ada bukti yang bisa membawaku ke penjara.”lanjutnya dengan senyum menyeringai. Ia  penuh percaya diri dan waspada melihat Arya yang melangkah lagi mendekatinya.


“Kamu membutuhkan orang ini?” Hendra masuk menggiring Bang Jago dengan kedua tangannya terikat ke belakang, wajahnya menunduk pasrah.


Dea tersentak kaget melihat situasi yang kini balik mengancam dirinya. Dengan cepat ia bergeser ke sisi ranjang meraih sesuatu dari dalam tasnya. “Aku akan membunuh kalia semua!” dengan tatapan marah, Dea  menodongkan pistol mengarah ke tubuh Arya.


Arya mengangkat kedua tangannya di samping bahu. “Jangan lakukan itu Dea, itu akan memperberat hukumanmu!” ujar Arya penuh waspada, sambil otaknya memindai mencari cara melumpuhkan Dea.


“Tak ada bukti kejahatan yang aku buat, kamu jangan mimpi mau menjebloskanku ke penjara!’ Dea tertawa puas merasa dirinya menang.


“Sayangnya aku nggak sebodoh yang kau kira. Di bawah kursi ini ada recorder terpasang.” Arya


menunjuk dengan dagunya ke sebuah kursi tempatnya tadi tersandera.


“Dan lihatlah  ke atas, dua kamera sedang merekam perbuatan jahatmu ini!” Arya tersenyum sinis, menatap Dea yang melirik ke sudut plafon sebelah kirinya yang tampak kamera pas menyorot kepadanya. Dengan gerakan cepat, Arya melayangkan tendangan kaki untuk menepis pistol dari tangan Dea yang sedang lengah saat


menatap kamera. Pistol pun terlempar membentur pintu, dengan sigap Hendra mengambilnya menggunakan sapu tangan, agar sidik jari perempuan itu tetap ada.


******

__ADS_1


“Tak baik seorang wanita berada di luar sendiri malam-malam!” suara seorang pria mengagetkan Mauren yang sedang mengintip ke arah rumah, dari balik pagar tembok luar. Spontan Mauren membalikkan tubuhnya menatap pria tinggi di depannya. Cahaya kuning sedikit remang dari lampu PJU di sebrang jalan membuat Mauren cukup jelas mengenali sang pria di depannya itu.


“Ricky!”


Yang dipanggil mengkerutkan keningnya, merasa familiar dengan suara itu tapi dirinya ragu. Wanita yang kini berhadapan dengannya berhijab, cantik dan anggun.


“Ky, aku Mauren. Kenapa kamu ada disini?” Mauren yang awalnya takut kini bernafas lega karena pria yang menegurnya adalah temannya.


“Mauren? Beneran kamu Mauren bukan jin yang menyerupai Mauren?” Ricky bukannya menjawab malah ingin meyakinkan pandangannya takut salah lihat. Karena Mauren yang temannya beda jauh penampilannya.


Mauren mendelik, kesal mendengar ucapan Ricky. “Aku asli Mauren,Ky. Aku berhijab baru mulai hari ini, aku sudah insyaf.” Sahut Mauren dengan ucapan mantap.


“Alhamdulillah, kamu jadi  beda, Ren. Pangling.…makin cantik.” Ricky tersenyum lebar, merasa senang dengan perubahan Mauren. “Eits tunggu, kamu sedang apa disini ngintip-ngintip rumah orang…” Ricky kembali ke mode siaga menatap tajam Mauren penuh selidik.


“A-aku tadi mengikuti seorang perempuan, aku melihatnya saat di apotek. Dia memakai taksi onlen turun depan rumah ini....” jelas Mauren sedikit gugup.


“Lalu,apa hubungannya denganmu, Ren ?” Ricky menautkan kedua alisnya.


Mauren menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan berat. “Dia pelakor yang sudah membuat pernikahanku hancur,” lirih Mauren. Sejak melihat kemunculan perempuan itu, luka masa lalu seolah menganga kembali.


“Dea perempuan itu, maksudmu?”


Mauren kaget karena Ricky ternyata mengenalnya.


“Kamu kenal dia,Ky?”


Ricky mengangguk yakin. “Dea adalah adik sepupu Vita. Dia dalang teror yang dialami Arya akhir-akhir ini. Sekarang dia di dalam sedang di jebak oleh Arya.”


“Ya Tuhan!” Mauren menangkup mulutnya dengan kedua tangan saking kagetnya. “Aku nggak kenal baik dengan keluarga Vita, kenapa sih keduanya nggak ada yang waras. Aku nggak nyangka dunia sesempit ini….” Mauren


menggeleng-gelengkan kepalanya menerima kenyataan yang terjadi.


Dari tempat yang gelap, William dan Asep setengah berlari mendekat ke arah Ricky yang sedang ngobrol sambil berdiri diluar pagar tembok. “Siapa?” William bertanya dengan gerak mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


“Ini Mauren,Will. Mauren yang baru tepatnya….nanti aku jelasin deh.” Jawab Ricky sambil melirik jam ditangannya.


“Hai Willi, kamu disini juga ternyata,” sapa Mauren tersenyum tipis.


“Hai Ren, maaf aku sempat nggak mengenalmu. Hm, ngobrolnya nanti kita sambung lagi ya, Polisi sedang menuju kemari disuruh Arya. Ayo kita masuk!” dengan wajah serius dan isyarat matanya, Willi mengajak

__ADS_1


ke dalam rumah. Ia lebih dulu berjalan cepat, diikuti yang lainnya.


__ADS_2