SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
115. Ampun Geli


__ADS_3

Adzan subuh terdengar berkumandang bersahutan dari masjid-masjid. Andina sudah menyiapkan sarung dan baju koko untuk suaminya sholat ke masjid.


"Dingin ya Mas...maaf disini ga ada water heater, kalau mau mandi air hangat harus masak air." Andina memperhatikan Arya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Nggak apa-apa sayang, mandi subuh bagus pakai air dingin. Bagus untuk kulit dan daya tahan tubuh." Arya langsung memakai baju yang sudah disiapkan. "Aku ke masjid dulu,yank." Arya berangkat bersama Ayah dan Zaki ke masjid yang jaraknya tak jauh dari rumah.


Andina membetulkan selimut yang melorot dari tubuh Athaya. Tadi malam, beberapa kali dirinya terjaga saat Athaya menendangnya karena tidurnya berputar. Ditambah suaminya mendekap erat dari belakang. Sungguh sebuah pengalaman baru untuknya yang mungkin akan jadi kebiasaan kedepannya.


Benar apa yang dikatakan Ibu, pagi ini tubuh Andina merasa bugar setelah sore kemarin meminum ramuan. Rasa sakit dan bengkak dibagian intim pun memudar. Selesai sholat dan mengaji, Andina keluar kamar menuju dapur.


"Ibu lagi bikin apa ?" Andina mendekati Ibunya yang sedang mengoles selai. "Ibu bikin roti bakar. Suamimu sukanya selai apa Teh ?" Ibu mengoles mentega ke permukaan roti sebelum dimasukkan ke teflon. "Aduh teteh nggak tau...belum sempat tanya-tanya apa kesukaannya," ujar Andina tertawa kecil. "Teteh bikin 3 lagi aja pakai selai nanas, ini Ibu sudah buat yang rasa coklat." Andina hanya menganggukkan kepala.


"Eh, Mas sudah pulang !" Andina terkejut saat buka pintu, melihat suaminya sudah ada dikamar, tiduran dekat Athaya.

__ADS_1


"Iya barusan bareng Zaki. Ayah masih di masjid ngobrol dulu sama Pak RT."


"Sayang, sini..." Arya menepuk sisi kasurnya.


"Ada apa ?" Andina mendekati suaminya yang langsung tangannya ditarik oleh Arya sampai terjatuh menindih tubuhnya. "Aku pengen olahraga pagi Yank...Athaya evakuasi kemana dulu ya," Arya berbisik ke telinga Andina sambil mengecupinya.


Tubuh Andina langsung meremang dan menggeliat geli karena sentuhan Arya ditelinganya. "Nggak bisa Mas...masa harus dititipin ke kamar Ibu...kan malu." Andina berusaha turun dari tubuh Arya saat merasakan tonjolan keras bagian bawah tubuh suaminya itu.


"Hm, Mas kapan masuk kerja lagi ?" Andina mengalihkan pembicaraan.


"Sayang, aku sudah hubungi Bi Idah untuk membantu dirumah, dia ART aku dulu. Kerjanya rajin dan bisa dipercaya mengurus rumah. Kamu nggak boleh cape dengan pekerjaan rumah, tugasmu cukup mengurus aku dan Athaya," ujar Arya sambil membenamkan kepalanya di dada istrinya.


"Iya, Mas." Andina membelai lembut rambut suaminya. "Mas, mau sarapan dikamar atau diluar ? Aku sudah buatkan roti bakar tapi belum tau kesukaan Mas Arya rasa apa, itu ada rasa coklat dan nanas."

__ADS_1


"Aku mau sarapan kamu aja.." Arya mendusel-dusel wajahnya di dada Andina yang empuk dan hangat.


"Ishh Mas Arya mah.....arghhh geli Mas..." Andina memekik pelan takut Athaya terbangun. Ia tertawa geli dan menggelinjang saat tangan Arya menggelitik pinggangnya. "Maaas...ihhhh ampun arghhh aku geliiii....." kembali Andina berteriak manja dan tertawa-tawa, tak kuat menahan rasa geli.


"Mama....." Athaya terbangun,.menatap Mama dan Papi nya dengan kesadaran yang belum penuh. "Tuh kan Mas, adek jadi bangun deh..." Andina beringsut pindah ke samping Athaya, mengecup keningnya. "Emang sudah waktunya bangun kok," Arya membela diri, sambil ikutan mencium pipi anaknya itu.


"Ayok kita pipis dulu dan cuci muka, nanti Mama bikin susu buat adek..." Andina duduk dengan menyorongkan kedua tangannya. Athaya langsung menurut, tangan Mama diraihnya sampai badannya ke angkat. Andina langsung menggendongnya ke kamar mandi.


Arya menyunggingkan senyum melihat interaksi anak dan istrinya itu, hatinya membuncah bahagia.


****


👧 : "Thor, aku jomblo harus apa ?"

__ADS_1


Othor : "Gigit sendok aja !"


Kabuuuurrrrr.........


__ADS_2