
Andina dan Safa berbaring santai menikmati rasanya tiduran di springbed baru berikut bantal dan gulingnya. Mama Rita selesai mengobrol tadi langsung pamit mau pertemuan arisan bersama Ibu-Ibu komplek.
"Din...hebatkan ucapanku langsung dicatat Malaikat, baru tadi bilang beli springbed biar terasa enyoy nya nah sekarang langsung nyata," ujar Safa terkekeh. Andina ikut terkekeh mendengar omongan Safa.
"Fa...aku masih gak nyangka mengalami perjalanan hidup sampai ke fase ini. Bertemu Athaya, pertama kali menatap matanya aku langsung terenyuh, rasanya ingin terus mendekapnya. Akrab dengan keluarganya, mereka sungguh hamble family," ujar Andina. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar.
"Tapi Fa...aku takut," Andina menjeda kalimatnya. Safa langsung menoleh. "Takut kenapa ?" kening Safa mengernyit.
"Huftt...aku takut suatu saat aku akan jauh dari anak itu atau mungkin saja melupakanku jika Papi nya nanti menikah lagi," lirih Andina.
Safa memiringkan badannya menghadap Andina, menopang wajahnya dengan tangan. "Din...memangnya kamu tidak ada rasa sama Pak Arya gitu...dia tampan, kaya, baik lagi, tambah bonus 1 anak. Kurang apa coba ?"
"Dia kan hanya memintaku untuk jadi Mama sementara. Jadi aku nggak mau berharap lebih," keluh Andina sambil mengusap wajahnya.
"Ulala....jadi sahabatku ini punya rasa yang tertahan toh ?" ledek Safa yang langsung mendapat hadiah cubitan.
__ADS_1
"Eh nggak-nggak...bukan gitu. Aku hanya kagum karena dia baik, sayang sama anak dan keluarga,"
"Ganteng pula..." Safa memotong cepat kalimat Andina sambil terkikik.
"Ah udah ah yuk kerja lagi...bakalan jadi ngawur ini mah," Andina bangun, merapihkan pakain dan hijabnya yang kusut.
"Ini sprei cadangannya mau ditaruh dimana, Din ?" tanya Safa sambil mengambil 2 bungkus sprei baru yang tergeletak dilantai. "Masukkan ke laci plastik aja Fa..." teriak Andina yang sudah keluar dari kamar.
*****
Perhatiannya teralihkan melihat hp nya berbunyi, dilihatnya ada panggilan video call dari Marisa.
"Assalamualaikum Sa..." Andina mendudukkan hp nya didekat laptop.
"Kumcalam...Mama..." tampak wajah mungil muncul layar sambil berteriak, mukanya seperti habis menangis.
__ADS_1
Andina menjengit, suara keras anak itu membuat telinganya mendengung.
"Hei adek...lagi apa hmm, kok seperti habis nangis sih ," tanya Andina. "Taya kangen Mama...mau ke luko nda boleh sama onty...hwua..." eh tuh anak malah nangis.
"Cup cup cup anak soleh nggak boleh nangis ah...adek kan belum sembuh jadi belum boleh keluar. Ayo sekarang senyum ya...Mama mau lihat senyum anak ganteng mana coba...." Andina mencoba menghibur Athaya dari layar hp nya. Benar saja, anak itu langsung menurut.
Hampir 1 jam mereka bercanda dan tertawa. Athaya terlihat senang dan ceria, ia tidak bisa diam kadang loncat-loncat dikasurnya kadang berguling-guling.
"Sudah dulu ya...onty pegel pegang hp nya besok telepon lagi Mama nya," ujar Marisa berkata lembut, terlihat berbicara pada Athaya dan anak itu mengangguk patuh.
"Kissbye nya mana dulu ," lanjut Marisa.
"Bye Mama...," Athaya meletakkan tangannya ke mulut dan dadah-dadah melakukan kissbye. Andina membalasnya sambil tersenyum lebar, sungguh lucu dan menggemaskan, batinnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1