
Andina PoV
Aku mengantarkan Mas Arya sampai pintu gerbang, setelah dia pamit pada Ayah dan Ibu. Malam ini, aku sudah memantapkan hati menerima lamaran secara pribadi dari Mas Arya.
Aku pikir kedatangan Mas Arya ke rumah hanya sekedar silaturahmi biasa. Aku kaget dengan pernyataannya, apakah ini tidak terlalu cepat. Tapi aku menjadi kagum dengan keberaniannya bicara sama Ayah dan Ibu.
Awalnya hati ini masih dipenuhi keraguan. Mengingat dia pernah gagal berumah tangga dan aku tidak tahu penyebabnya apa. Untung tadi siang aku bertemu dengan Mauren, aku menjadi lebih tahu tentang Mas Arya dan kehidupannya dari kacamata orang luar. Oh ya, mengingat Mauren, aku jadi merasa bersalah sudah berprasangka buruk karena melihat penampilan seksinya sangat berbahaya untuk mata laki-laki.
"Bu, apakah Ibu dan Ayah yakin merestui teteh menerima Mas Arya ?" Aku menemui Ayah dan Ibu di sofa setelah mengantar Mas Arya pulang. Aku ingin memastikan lagi pendapat mereka.
"Ayah sudah mengenal Arya dari bayi sampai dewasa. Ayah tidak ragu Teh, Ayah tahu betul kepribadiannya. Didikan orangtuanya yang rendah hati melekat baik pada dirinya. kegagalan pernikahannya dulu bukan murni karena kesalahannya, ya... mungkin takdirnya harus seperti itu."
"Jadi gak apa-apa teteh menikah dengan duda anak satu ?" kembali aku ingin meyakinkan.
__ADS_1
"Teh, yang terpenting dalam memilih pasangan hidup, dia seiman, baik, dan bertanggungjawab. Tampan dan mapan itu bonus. Jadi jangan juga permasalahkan soal status duda." Ibu memberi nasehat yang membuatku tenang.
Hufft, kalau begini tak ada lagi yang harus aku ragukan lagi. Bismillah, aku siap melangkah menuju lembaran baru.
Arya PoV
Aku pulang dari rumah Andina dengan perasaan yang membuncah.Rasa tenang, senang, dan lega, saat Andina mau menerimaku. Ditambah restu dari kedua orangtuanya sudah aku kantongi, sungguh ini adalag nikmat yang harus aku syukuri.
Alunan lagi "Dia - Anji" menemani perjalananku pulang menuju rumah. Senyuman selalu tersungging dari bibirku karena luapan rasa yang meletup-letup didada. Andinaku sayang, aku berjanji akan membahagiakanmu dengan caraku.
"Nak, bagaimana hasilnya ?" Mama langsung berdiri saat melihatku menghampirinya, terlihat tidak sabar.
"Alhamdulillah Ma...Andina mau menerimaku dan orangtuanya juga merestui." Aku tersenyum lebar menatap Mama.
__ADS_1
Mama ikut mengucap Alhamdulillah dan memelukku penuh haru. Lalu Mama melepas pelukan dan menatapku "Mama bahagia sekali, Nak....Mama sangat senang Andina akan menjadi bagian keluarga kita." Kembali Mama memelukku dengan erat sambil menangis haru. Aku jadi terbawa suasana, mataku ikut berkaca-kaca. Mama segitu antusiasnya menginginkan Andina. Beda dengan dulu saat aku akan melamar Vita, sikap Mama wajar-wajar saja.
"Papa ikut senang, Ar...sebentar lagi Papa akan besanan sama Pak Wahyu, Papa akan kolaborasi mengembangkan pertanian," Papa terkekeh ikut menyahut. Sepertinya sengaja untuk mencairkan suasana karena Mama masih saja tidak melepaskan pelukannya.
Mama mengurai pelukannya sambil mencebik kesal ke arah Papa. "Papa apaan sih yang dipikirnya tani lah kebun lah.... Mama lagi terharu nih Pa...bikin ambyar aja," ujarnya sambil memberenggut.
Aku hanya terkekeh menyaksikannya, Papa memang paling senang menggoda Mama yang justru menjadi salah satu kunci keharmonisan keduanya.
"Ar, besok undang keluarga Andina makan siang di Foodcourt kita. Anak-anak Mama semua harus ikut, tidak boleh tidak. Kamu hubungi manajer agar mempersiapkan tempat dan banyak menu !"
Kalau baginda ratu sudah mengeluarkan titahnya, maka tak ada yang bisa membantahnya. Aku mengiyakannya, ku cium pipinya penuh sayang.
*****
__ADS_1
Part ini, mataku kena irisan bawang 😢