SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
51. Firasat hati


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu, Athaya semakin nempel dengan Andina. Hampir tiap hari Athaya merengek ingin ke ruko, dan Mama Rita dengan senang hati mengantarkan. Kadang-kadang Marisa lah yang mengantarkan, dijemput lagi sore harinya. Kecuali hari minggu karena Arya ada dirumah. Andina tentu saja tidak keberatan malah semakin hari semakin sayang dengan anak itu.


Arya sudah rapi dengan setelan kerjanya. Diliriknya ke arah ranjang melihat anaknya yang masih tertidur. Ia mengkerutkan keningnya, "Tumben belum bangun," ia melangkah mendekati ranjang untuk membangunkan anaknya.


"Jagoan papi...bangun sayang," Arya menyentuh pipi anaknya dan terkaget merasakan suhu panas pada kulitnya. Dirabanya kening Athaya, benar ternyata anaknya panas dan tampak bulir-bulir keringat dikeningnya.


Arya dengan panik cepat-cepat keluar kamar berteriak memanggil Mama nya.


"Ada apa nak...kenapa teriak-teriak sih," Mama menyahut dari bawah tangga karena ia mendengar teriakan Arya saat sedang dimeja makan menyiapkan menu sarapan.


"Ma...kesini dulu Athaya demam," jawab Arya dengan muka panik dan berteriak karena posisi masih diatas.


Mendengar jawaban anaknya, Mama buru-buru naik ke lantai 2 langsung menuju kamar Arya.

__ADS_1


"Athaya demam Ar...cepat telepon Rendi suruh kesini," Mama dengan tenang meraba-raba kening dan perut cucu nya itu.


Arya dengan sigap menelepon Rendi untuk segera datang memeriksa anaknya. Arya mengusap-ngusap bahu anaknya, terlihat raut kekhawatiran di wajahnya. "Arya takut terjadi apa-apa sama dia mah."


"Hus kamu nggak boleh ngomong gitu...harus berdo'a dan positive thinking, jangan menghadapi sesuatu dengan panik," ujar Mama mengingatkan.


Tiba-tiba tubuh Athaya bergerak gelisah, ia memegangi perutnya sambil meringis dan bergumam..." ughhh tatit..papi...ughhh," matanya tetap terpejam tapi ada buliran air mata terlihat mengembang.


"Ya Alloh sayang...mana yang sakit hmmm...sabar ya nak tunggu Om Rendi..," Arya mengelus perut karena melihat posisi tangan anaknya ada disana.


"Sepertinya demam," Mama yang menjawab pertanyaan Marisa. "Sa...coba telpon Rendi sudah sampai mana ?" Marisa merogoh saku celananya mengambil hp, ia berjalan keluar kamar untuk menghubungi Rendi.


Tak berselang lama masuk kamar kembali. "5 menit lagi sampai katanya," ujar Marisa laporan.

__ADS_1


"Aasalamualaikum..." Rendi masuk ke dalam kamar Arya tanpa sungkan. Baginya keluarga Arya adalah keluarga kedua untuknya. Karena orangtuanya selalu berpindah-pindah negara sebagai Atase Kedutaan, dan kini mereka tinggal di Turki sebagai Duta Besar.


Semua yang berkumpul diranjang menoleh dan membalas salamnya. "Cepetan periksa Ren..." ujar Arya tampak sudah tak sabar.


"Tenang bro..." Rendi meraba kening Athaya, lalu mendekatkan thermogun ke dahi, menempelkan stetoskop ke dada, terakhir menekan pelan perutnya.


"Suhunya 39, sebaiknya dirawat di RS aja sekarang Ar... Diagnosa gue dia kena gejala tifus, untuk pastinya nanti akan dilakukan cek darah. Sekarang kita bawa ke RS biar obat penurun panasnya disuntikan ke cairan infus karena Athaya masih kecil.


"Ya udah cepetan berangkat sekarang...gue numpang di mobil lo Ren..." Arya dengan cepat menggendong tubuh Athaya yang terkulai lemah. Rendi menyusul dibelakangnya.


"Risa...temani kakakmu ya...nanti Mama sama Papa nyusul membawa baju ganti Athaya," Mama menyuruh Marisa untuk ikut. Marisa mengangguk dan buru-buru berlari keluar.


*****

__ADS_1


"Astagfirulloh..." Andina memegangi dadanya yang mendadak berdebar kencang. Hatinya merasa gelisah tanpa sebab. Ia yang baru duduk dimotornya memilih diam dulu tidak menyalakan starter. Bibirnya terus melafalkan dzikir, sambil memejamkan mata berharap ketenangan hatinya kembali, dan berdoa memohon keselamatan sebelum motornya melaju menuju ruko.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2