SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
56. Sahabat Macam Apa Kau !


__ADS_3

Andina perlaha-lahan beringsut turun dari ranjang setelah dipastikan tertidur. Tadi Athaya berhasil dibujuk memakan buburnya meskipun tidak habis, kini ia tertidur lelap setelah dikeloni dengan bersandung Sholawat. Ia merapihkan bajunya yang kusut dan jilbabnya yang bengkok karena hampir 3 jam Athaya nemplok.


"Pak Arya, Marisa, saya mau ke Musholla dulu sekalian pamit pulang ya," Andina mendekati sofa dimana ada Arya dan Marisa sedang duduk memainkan hp. Mama dan Papa sudah lebih dahulu pulang.


Arya menyimpan hp nya dimeja, "Hmm Andina...terima kasih banyak ya sudah nemanin Athaya. Ehm maaf juga udah dipanggil "Mama"..," Arya menggaruk tengkuknya, merasa nggak enak dengan Andina.


Andina menyunggingkan seulas senyum. "Saya nggak apa-apa kok Pak, saya menyayangi Athaya tulus."


"Berarti kamu mau dipanggil mama ?" ada binar di mata Arya.


"Ya kan selama sakit aja dia manggil mama nya kan ? kalau sudah seperti sedia kala pasti manggil kakak lagi kan ? ujar Andina polos.


Seketika binar di mata Arya meredup, hatinya mencelos. Keduanya terdiam, entah siapa yang mulai kini keduanya saling bertatapan, saling mengunci pandangan sekian detik sebelum akhirnya buyar dengan suara batuk.


"Uhuk.uhuk..." Keduanya terkaget, menoleh ke arah orang yang terbatuk. "Hehe...maaf aku tersedak," Marisa cengengesan sambil mengacungkan gelas minumnya.


"Eh ya udah saya permisi atuh...InsyaAlloh besok kesini lagi....Assalamualaikum..," ujar Andina gelagapan, dengan buru-buru ia melangkah keluar.


"Waalaikumsalam," jawab Arya dan Marisa.

__ADS_1


"Aduh Sa...lupa tanya tadi dia naik apa ?" Arya menepuk keningnya.


"Uh dasar cowok kurang perhatian...dia tuh naik taxi online, harusnya kakak tuh ngasih kek buat ongkos," Marisa mencebik kesal.


"Ya ampun kamu bener Sa...ini tolong Sa...kamu susulin ya ," Arya buru-buru mengeluarkan dompet dari saku celananya.


"Telat ah...lagian pasti dia nolak juga. Nanti aja kak ngasihnya jangan ongkos tapi itu..."


"Ngasih apa ?" Arya menautkan kedua alisnya.


"Ngasih mas kawin...," Marisa menjulurkan lidahnya lalu tertawa dan berlari ke kamar mandi.


*****


"Assalamualaikum," Ricky masuk ke kamar VIP Orchid tempat Athaya dirawat. Dilihatnya Arya sedang melaksanakan sholat magrib. Ia langsung saja melangkah ke arah ranjang, Athaya sedang tertidur.


Arya melipat sajadah dab menyimpannya di sofa. "Kesini sama siapa bro ?" tanya Arya.


"Sendiri. Pulang dari kantor tadi ke apartemen dulu mandi, baru kesini. Si Meta ngasih banyak berkas buat ditanda tangan, gue suruh simpan dulu diruangan lo," ujar Ricky.

__ADS_1


Tiba-tiba Athaya menggeliat, tangan kirinya meraba-raba ke samping. Ia lalu menangis "Hwua hwua.....mama.."


Arya setengah berlari menuju ranjang. "Cup cup sayang...hei jangan nangis...sini papi peluk ya," Arya mengusap-ngusap bahu anaknya.


"Mama taya mana...mama mana papi hwua hwua...," bukannya berhenti malah tambah kencang nangisnya.


Arya nampak bingung harus bagaimana menenangkannya. "Thaya nya stop nangisnya ya mama sedang sholat dulu...bentar lagi datang. Jangan nangis oke.. nanti mama nya nggak mau ketemu kalau Thaya nangis." Mendengar itu Athaya langsung berhenti menangis, hanya tinggal isakan kecil.


"Ar...siapa mama ?" Ricky mengerutkan keningnya heran.


"Mama Andina Kak..." tiba-tiba Marisa datang menimpali.


"What ? Kalian mendadak nikah terus nggak ngundang gue gitu ? Terlalu. Sahabat macam apa kau..." Ricky nyerocos marah ngomel-ngomel, mencak-mencak depan Arya.


Marisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Ricky. Arya hanya mendengus menahan jengkel.


"Sa....kamu jelasin !" perintah Arya, malas melihat wajah Ricky.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2