SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
175. Puja


__ADS_3

Benar adanya. Jatuh cinta membuat seseorang bisa melakukan hal yang bodoh, konyol, atau sebutan apalah itu yang memang tak masuk akal. Seperti itu pula yang dilakukan seorang Emran Khan. Boss besar pemilik rumah produksi dan manajemen artis terkenal. Siapapun kenal dia.


Crazy. Begitu cibirian saudara kembarnya, Ervan Khan. That's true. Ia memang mengakuinya. Sejak jumpa pertama di wedding party sekitar 3 tahun yang lalu, ia sudah terpesona. Bahkan berani menawarkan peran utama sebab wanita itu punya bakat terpendam plus penampilan luar yang menunjang. Cantik, anggun, penuh kelembutan. Dia, Andina.


Upaya melobi sudah beberapa kali dilakukan melalui manajemen yang sengaja diutus ke Bandung menemui Andina. Namun Andina tidak bergeming dengan keputusannya, tetap menolak. Bahkan ia pun menemui Arya jika saja Andina tidak mau sebab Arya tidak mengijinkan. Dengan ekspektasi optimis jika Andina bakalan menjadi artis pendatang baru yang melejit.


"Jadi artis demi mencari uang?! Gue bisa memberikannya berapapun jumlahnya."


"Andina juga tidak suka popularitas, bro."


"Dan gue tidak suka istri yang sibuknya melebihi gue suaminya. Itu udah jadi prinsip yang kita sepakati bersama."


Ia akhirnya menyerah dengan alasan yang Arya lontarkan. Prinsip kehidupan rumah tangga mereka begitu kuat tak silau dengan godaan materi ataupun popularitas.


Sejak itulah ia malah penasaran dengan sosok Andina. Jika orang-orang datang padanya mengiba ingin diorbitkan, bahkan ada yang sukarela siap menyerahkan tubuhnya demi titel artis. Justru ia yang memelas mengejar Andina secara halus agar mau menjadi artisnya. Bahkan lebih dari itu. Ia jatuh cinta pada wanita itu. Definisi dari ia sudah nggak waras.


Rasa penasaran tentang profil Andina perlahan menggiring Emran menjadi stalker. Tambah semakin kagum usai membaca laporan dari paparazi nya tentang kehidupan sosial si murah senyum dan keibuan itu.


Satu ruangan di rumahnya dipenuhi deretan bingkai foto. Pose Andina dalam berbagai angle yang tampak natural diberbagai kesempatan. Semua itu hasil jepretan profesional orang suruhannya. Dan ia selalu betah berada di ruangan itu sebab hanya dengan menatap potret Andina, hatinya bahagia, menjadi obat stres, bahkan mampu mengalirkan inspirasi. Aneh tapi nyata.


"Kamu beneran sakit jiwa. Harus ke psikiater!"


Ia tertawa sumbang saat Ervan saudara kembarnya yang sudah punya anak satu, memperhatikan isi ruangan itu sambil geleng-geleng kepala. Setahun terakhir ini ia sangat bersemangat bekerja di ruangan itu sebab ada sumber motivasi tengah tersenyum cantik terhadapnya. Hanya asistennya dan Ervan yang boleh masuk ke ruangan itu.


Yeah. Emran layak mendapat gelar Secret Admirer (Pengagum Rahasia). Sampai kapan? Entahlah. Sebab ia sangat menikmatinya. Bahkan kini ia bersiap membuat project film bertemakan secret admirer, inspirasi pengalaman pribadi.


"Kamu mau merebut milik Arya?!"


Tuduhan Ervan bulan lalu dibantahnya keras.


"Don't worry. Aku cukup bahagia jadi secret admirer."


"Tapi masa depan gak ada yang tau bukan."


Lanjutnya dengan mengangkat kedua bahu. Membuat ia harus menghindar ke belakang sambil terbahak sebab saat Ervan akan meninjunya.


****


Emran sudah selesai melakukan jumpa pers usai acara sambutan dan potong tumpeng bersama jajaran manajemen. Malam ini 9th anivversary Khan Pictures yang merupakan rumah produksi miliknya. Ia memutuskan mengadakan pesta di Bandung di hotel bintang 5 milik keluarganya. Tidak lain tidak bukan, demi bisa melihat dari dekat wanita yang dikaguminya. Benar-benar manusia bodoh, begitu makian saudara kembarnya kemarin saat bilang akan ke rumah Arya mengantarkan undangan.

__ADS_1


Para tamu yang kebanyakan adalah artis yang bernaung dì bawah benderanya memberikan ucapan selamat dengan berjabat tangan dan cipika cipiki. Tamu relasi juga sudah berdatangan. Ia tersenyum lebar menyambut para tamu yang datang. Dibalik wajah sumringahnya, matanya bergerak gelisah sesekali menoleh ke arah pintu masuk yang tergelar karpet merah membentang. Menunggu yang ditunggu.


"Sudah datang belum?" Emran yang gagah dalam balutan jas hitam berdasi kupu-kupu, berbisik di dekat asistennya. Acara pesta sudah berlangsung setengah jalan namun tamu spesialnya belum terlihat.


"Baru turun dari mobil, boss."


Ia bernafas lega. Namun dalam hati ia tertawa sebab jantungnya kini berdebar seolah akan bertemu kekasih hati. Menyedihkan.


Sebab faktanya ia hanya akan bertemu dan memandang seseorang yang tak mungkin digenggam.


Yang ditunggu akhirnya muncul dengan bergandengan tangan. Sangat mesra. Mereka kina mendekat. Perlakuan Arya dengan tatapan penuh cinta terhadap Andina, dan entah membisikkan apa, sungguh membuatnya iri.


"Aamiin. Thank you, bro." Emran menyambut doa kesuksesan dan ucapan selamat dari Arya dan Andina. Ia pun mengajak keduanya duduk di area VVIP untuk menikmati jamuan makan dan sajian hiburan yang berada di panggung musik.


Duduk bergabung pula Ervan dan istrinya. Mereka bercengkerama santai sambil menikmati minuman yang dituangkan pramusaji. Pesta sedang berlangsung penuh keriaan ditemani alunan musik yang ditampilkan para pemusik profesional.


"Ar, papi ingin ketemu. Bisa?" Ervan mengacungkan ponselnya untuk memberi tahu jika barusan ada chat masuk setelah lebih dari 30 menit mereka duduk bersama.


"Tentu. Saya juga kangen sama pak Rajesh." Arya tampak antusias menyambutnya. "Dimana, bro?"


"Di kamarnya. Tadi sempat di sini sebentar tapi pusing, katanya. Ayo aku antar!" Ervan berdiri bersiap untuk pergi ke kamar suite dimana orangtuanya beristirahat.


"Kalian para cowok pergi aja sana. Biar Andina sama saya di sini." Istrinya Ervan angkat suara melihat Arya yang mengajak Andina untuk ikut.


Arya mengangguk setuju. Sementara Emran pergi ke meja lain karena seseorang memanggilnya.


Wahai pesona


Bagimu puja


Andina kini sendirian saat istrinya Ervan beranjak pergi karena anaknya merajuk. Ia menoleh ke arah panggung musik ketika mendengar suara merdu penyanyi pria yang mulai menyanyikan lagu Rhoma Irama dengan intro suling.


Ia tersenyum lebar, di atas panggung tengah tampil seorang penyanyi dengan multi talenta, jago bermain gitar, suling juga piano. Yang merupakan juara pertama pertama pencarian bakat musik dangdut.


"Lagu ini spesial saya persembahkan sebagai request dari Pak Emran."


"Hmm, entah ditujukan untuk siapa. Pastinya untuk someone special tentunya." ujar sang penyanyi dengan lemparan candanya.


Andina tersenyum mendengar prolog sang penyanyi yang kini mengalungkan gitarnya. Spontan ia memberikan applause dengan bertepuk tangan pelan begitu gitar dipetik.

__ADS_1


'Ku memujamu melalui lagu nada indah


Untukmu oh wahai pesona


Senandung fitrah


'Ku memujamu melalui lagu nada indah


Untukmu oh wahai pesona


Namamu selalu dalam ingatanku


Dalam ingatan


Walau wajahmu tak mungkin kukhayalkan


Tiada hari berlalu tanpa kasihmu


Tanpa sayangmu


Begitu pula cinta sucimu


Selalu saja menyerta


'Ku memujamu melalui lagu nada indah


Untukmu oh wahai pesona


"Kamu sepertinya menyukai lagu itu?" Emran yang dari tadi memperhatikan gesture Andina kini sudah duduk di sampingnya.


Namun Andina tak bergeming tetap menatap sang penyanyi dengan binar kekaguman. Entah tak terdengar. Sebab bibirnya tampak bergerak ikut bersenandung mengikuti sang penyanyi.


Hidup mati kupersembahkan untukmu


Hanya untukmu


Tiada yang kucinta selain dirimu


Apa pun kurelakan demi kasihmu

__ADS_1


Demi sayangmu


Tak siapa pun dapat mencegah cintaku kepadamu


__ADS_2