SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
40. Kita Berpisah


__ADS_3

Sarapan pagi sepasang suami istri, Arya dan Vita tampak hening. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring sekali-kali terdengar memecah keheningan. Sampai saat ini hubungan keduanya masih kaku.


"Kamu sudah ajukan surat pengunduruan diri ?" Arya mulai membuka percakapan selesai menghabiskan sepiring nasi goreng seafood. Teh yang terlihat mengepulkan uap disesapnya perlahan.


Vita masih duduk diam, mengelap sudut bibirnya sesaat setelah menyelesaikan sendokan terakhirnya. Raut wajahnya seolah mengisyaratkan kebingungan untuk mengungkapkan kata-kata.


"Kenapa diam...." lanjut Arya menatap tajam ke arah Vita yang duduk saling berhadapan.


"Hufft....maaf mas aku nggak bisa resign, juga jangan suruh aku untuk memilih antara keluarga atau karir. Aku nggak bisa meninggalkan keduanya," ucap Vita lugas.


"Vita...aku hanya memberimu 1 pilihan. Kamu adalah istriku, tanggung jawabku dihadapan Allah sangatlah besar. Selama ini kamu semakin sering mengabaikan tanggung jawabmu sebagai istri. Aku tidak mau kamu menjadi istri yang durhaka. Kalau kamu masih ingin bekerja, pindah saja ke kantorku ya ?" Arya berkata dengan lembut mencoba memberi pemahaman kepada istrinya.


"Tidak mau mas ini passionku...came on jangan seperti ini, pemikiranmu terlalu kolot mas...aku masih muda biarkan aku mengembangkan skilku..." Vita berseru dengan intonasi kesal.


"Baiklah kalau itu maumu...lakukan sesuka hatimu, aku akan mengijinkanmu dengan cara melepasmu.." tegas Arya. Tidak ada kemarahan dalam bicaranya. Ia berkata dengan tenang tanpa kilatan emosi.


"Maksudnya mas ?"


"Aku akan menceraikanmu..."

__ADS_1


Deg. Vita tersentak kaget. "Mas sudah tidak cinta lagi sama aku ?" lirihnia berkata, tenggorokannya tercekat, air mata menetes tiba-tiba.


"Aku mencintaimu sejak dulu sampai detik ini Vita...tapi jika dengan rasa ini tidak memberi kebahagiann dan ketenangan dirumah tangga kita, aku memilih pakai logika. Aku tidak ridho dengan pekerjaanmu, tanpa ridho seorang suami tidak akan ada keberkahan disetiap langkah istri yang ada hanya dosa. Jadi aku akan melepasmu !"


"Aku kasih waktu kamu untuk berpikir..." Arya beranjak dari duduknya, siap-siap melangkah...


"Lakukan apa maumu...aku akan tetap dengan pendirianku," Vita menatap tajam ke arah Arya.


Arya berdiri terpaku, menatap lurus ke arah Vita, kilatan sorot matanya sendu..menyiratkan luka. Batinnya terkejut, tidak menyangka istri yang ia sayangi memilih jalannya sendiri.


"Baiklah...jika sudah tak seiring sejalan...aku bisa apa..."


Arya berlalu pergi meninggalkan Vita yang masih terduduk diam dengan pandangan hampa. Meja makan menjadi saksi bisu dua insan yang memilih jalan hidup masing-masing.


Tak berselang lama Arya turun dari lantai 2 dengan menenteng koper dan memangku Athaya.


"Aku akan keluar dari rumah ini...pengacara akan mengurus semuanya," ujar Arya datar, raut kekecewaan dan kesedihan nampak di wajahnya..


"Bolek aku peluk Athaya mas..."

__ADS_1


Arya menganggukkan kepalanya, menyodorkan Athaya yang digendongnya ke arah Vita.


"Athaya sayang...maafkan mami ya...".Vita menciumi seluruh wajah anaknya bertubi-tubi, lalu ia menangis sambil mendekap erat sang anak. Bagaimanapun, ia seorang ibu...hatinya tetap sakit dengan kenyataan ini. Athaya tak mungkin ikut dengannya, ia tak akan terurus olehnya.


Bukannya hati ini tak sakit


Bukannya hati ini tak perih


Aku terluka teramat sangat


Kapalku berlayar belum jauh


Tapi saat ini oleng dan akan karam


Karena aku hanya mengayuh sendirian


( Arya )


*****************

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2