SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
172. Coach Andina


__ADS_3

Dear Readers,


Selamat datang di season bonus.


Happy Reading 😊


****


Tap tap tap tap tap.


Langkah riang setengah berlari seorang anak kelas 5 SD saat menuruni tangga, membuat sang mama yang berada di ruang makan geleng-geleng kepala. Sebab dengan jelas ia bisa melihat anak sulungnya itu turun dengan tergesa sambil menggendong tas.


"Kak, Mama kan udah bilang jangan lari-lari di tangga...."


"BAHAYA." Anak yang semakin bertambah usia semakin tegas ketampanannya sebab mewarisi gen dominan sang Ayah, segera menyambung ucapan yang sering didengarnya saat sang mama menegur.


Membuatnya tertawa-tawa dan jarinya membentuk huruf v melihat sang mama menatapnya dengan menyipit sebagai tanda tidak suka. "Oke, mam. Gak akan diulang lagi....kalau gak lupa." Ia kembali tergelak sambil berlindung di belakang papinya yang baru turun untuk bergabung sarapan.


"Ma, bekal Lala 2 ya. Mau ngasih buat mak Yayah." Pinta Lala dengan mulut penuh, yang juga bersekolah di SDIT yang sama dengan sang kakak.


"Maksudnya mak Yayah penjual awug? Emang masih ada ya?!" Arya menatap Andina yang tengah menyuapi dedek Al.


"Iya, Pi." Athaya yang menyahut disela menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. "Sekarang kakinya ada 3."


"Tiga gimana?" Arya menautkan kedua alis menatap si sulung yang mengenakan kopiah dan baju koko putih serta celana panjang hitam. Seragam sekolah setiap jumat.


"Sama tongkat, Pi." Lala menyahut sambil cekikikan bersama Athaya.


Membuat Arya geleng-geleng kepala. Dan Andina menegur kedua anaknya itu agar jangan meledek kondisi fisik orang lain.


"Udah makin tua, harusnya pensiun jualan. Kasian...." Arya masih betah membahas janda tua penjual awug yang hidup bersama dua anaknya yang berkebutuhan khusus.


Dua tahun yang lalu, setelah ada yang posting di medsos ketika Athaya bagi-bagi awug ke orang-orang yang lewat, awug mak Yayah menjadi viral. Termasuk Athaya yang mendapat komentar pujian netizen sebagai contoh anak yang patut ditiru.


The power of sosmed. Rumah mak Yayah menjadi lebih layak sebab seorang youtuber menggalang donasi untuk merenovasi rumah janda tua itu menjadi lebih layak huni. Dan memberikan uang tunai untuk biaya hidup sehari-sehari. Sempat berhenti berjualan 6 bulan lamanya. Namun kebutuhan perut harus tetap dipenuhi, tak bisa mengandalkan terus uluran tangan orang yang makin surut bersamaan viralnya yang makin meredup.


"Sayang, masih suka borong dagangannya?" lanjut Arya menatap Andina yang duduk di sisinya.


Andina mengangguk. Meski sudah jarang menjemput ke sekolah, ia selalu memperhatikan keadaan mak Yayah dengan menitipkan uang ke kang Adang untuk siaga memborong dagangan awug jika belum habis.

__ADS_1


Suasana rumah menjadi sepi usai Athaya dan Lala berangkat sekolah diantar kang Adang. Menyusul satu jam kemudian Arya berangkat ke kantor bersama pak Asep.


Andina menaiki tangga setelah menitipkan Al kepada ceu Edoh. Kamar Athaya menjadi tujuan pertamanya. Ia mengulas senyum melihat tempat tidur si sulung dengan seprai bertemakan captain America. Dua bantal dijajarkan dan guling di tengah kasur serta selimut terlipat di kaki ranjang. Lumayan rapih.


Ia memang mengajarkan anak-anak untuk disiplin dan mandiri. Setiap bangun tidur diberi tugas merapihkan tempat tidurnya masing-masing. Di awal masih asal-asalan, tak masalah. Seiring waktu makin menampakkan kerapihan meski melipat selimut masih berantakan. Ia mafhum.


Ia beralih ke meja belajar usai merapihkan lipatan selimut. Buku pelajaran dan buku cerita masih tergeletak di meja. Ia memasukkannya ke dalam lemari kaca yang terletak di samping meja belajar.


Deretan piala dan piagam penghargaan berderet di lemari kaca paling atas : Juara 1 Lomba Minat Baca tingkat SD/MI Tingkat kota Bandung, juara 1 Lomba Bercerita Budaya Daerah tingkat kota Bandung, dan 2 penghargaan lain berupa juara 1 Lomba Dongeng Festival yang diselenggarakan jurusan sastra perguruan tinggi terkenal di Bandung dan Yogyakarta.


...Selamat untuk ananda...


...Athaya Zaydan Syahputra...


...Juara 1 Lomba Mendongeng Tingkat Jawa Barat...


Itu merupakan penghargaan terbaru begitu Athaya duduk di kelas 4 semester 1. Dan kini kelas 5 semester 1, sekolah telah mendaftarkan Athaya untuk mengikuti Lomba Bertutur tingkat nasional yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI.


"Bu Andina, mohon bantu Athaya untuk sering berlatih ya bu. Athaya sangat berbakat."


Andina tersenyum begitu terngiang ucapan Ibu Puspa sebagai wali kelasnya Athaya.


Berawal dari seringnya ia bercerita sebelum tidur baik kisah teladan maupun dongeng fiksi yang mendidik, membuat Athaya gemar menirukannya dan senang membaca buku sejak kelas 1 SD. Bakat yang sudah terlihat itu dimanfaatkan Andina dengan mendaftarkan si sulung di perlombaaan mendongeng tingkat lokal kecamatan juga lomba mendongeng yang diselenggarakan salah satu radio FM, dan alhamdulillah menyabet juara 1.


Dan tentunya Andina lah, sang mama yang merupakan coach utama dibalik kesuksesan Athaya menjuarai setiap lomba. Ia selalu membuat mind mapping setiap si sulung akan mengikuti perlombaan sebagai trik penguasaan materi cerita.


Seperti malam ini, Andina menjadwalkan latihan untuk persiapan lomba tingkat nasional yang akan disslenggarakan bulan depan.


"Kak, practise makes perfect!" Ia harus mengeluarkan jurus terakhir merayu sebab si kakak masih anteng dengan game nya, menjawab dengan :


"Ntar, ma."


"Iya, bentar lagi."


"Nanti, nunggu game over."


Membuat Andina harus menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan demi mengendalikan hati agar tetap sabar.


Dan jurus terakhir itu mampu membuat Athaya menyimpan tab nya demi mengingat kalimat motivasi yang selalu ditanamkannya itu.

__ADS_1


"Namaku Athaya. Teman-teman di sekolah suka memanggilku Yaya."


"Hmm, Penonton mau manggil aku apa?"


"Mau Athaya atau Yaya?! Bebas deh ya."


Athaya memulai opening dengan memperkenalkan diri sekaligus memulai interaksi dengan penonton. Di mana yang menjadi penontonnya adalah Papi, Mama, Lala dan adik kecil Al yang gak bisa duduk diam.


"Aku mau manggil 'sayang' aja ya, hihihi...." celutuk Lala sambil menutup mulutnya.


"Lala ih!" Athaya yang berdiri di depan 'penonton', memutar bola matanya. Merasa konsentrasinya terganggu dengan keusilan Lala.


Andina menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan sebagai kode tidak setuju dengan reaksi Athaya.


"Kak, skala nasional penontonnya beragam, dari berbagai provinsi se Indonesia yang ngedukung jagoannya."


"Bisa jadi nanti ada penonton yang usil seperti Lala. Lalu membuat semua penonton tertawa."


"Nah, tanggapi aja dengan santai sambil tersenyum."


"Atau bilang 'wow aku jadi tersanjung deh'."


"Jangan sampe kakak jadi sebal dan hilang konsentrasi."


Andina memberi pengarahan dengan lembut dan perlahan agar semua ucapannya diserap dan diingat oleh Athaya.


"Itukan panggilan Papi ke Mama, kan?" protes Athaya seolah masih tidak terima.


Membuat Arya terkekeh dan mengacungkan jempol sebab anak-anaknya begitu mengenal dengan panggilan mesranya untuk Andina.


"Benar, kak. Cuma papi yang boleh bilang sayang." Sahut Arya sambil merangkum bahu Andina dengan senyum kemenangan.


Andina malah menatapnya dengan tajam. "Papi, bukannya bantuin latihan kuatin mental si kakak...." ujarnya dengan bibir mengerucut.


Arya kembali terkekeh dan mencolek bibir ranum sang istri yang pasti disosornya jika tidak ada anak-anak.


"Iya, kak. Ucapan mama benar." Arya beranjak menghampiri Athaya. "Apalagi kakak ganteng seperti Papi," lanjutnya sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Bisa jadi nanti ada yang menggoda kakak, tanggapi aja dengan senyum lebar, jangan baper."


"Oke jagoan Papi. Semangat!" Arya membuka telapak tangannya yang disambut si sulung dengan senyum oasta gigi lalu ber high five.

__ADS_1


"Baiklah, para penonton semua. Cerita yang akan aku bawakan yaitu Legenda Situ Bagendit."


Athaya mulai bergerak memperagakan dan berucap dengan ekspresif.


__ADS_2