
"Sayang, mau beli makanan dulu gak ?" ujar Arya sambil menyetir, pandangannya fokus ke jalan.
"Nggak deh, jalanku gak nyaman Mas. Masih sakit dan serasa mengganjal gimana gitu..." Andina memalingkan mukanya yang merah, melihat jendela.
"Mama kenapa jalannya sakit ?" rupanya Athaya memperhatikan obrolan keduanya.
"Eh...." Andina bingung mau jawab apa.
"Mama sakit karena Papi..." Arya menjawab kalem dibalik kemudinya.
"Mas !" Andina melotot melihat suaminya
"Papi nda boyeh nakal cama Mama Taya....," Athaya memberenggut, menoleh Papi nya yang langsung terkekeh.
"Tapi Mama Taya suka kalau Papi nakal..."Arya mengerlingkan mata melirik Andina.
"PAPI !!!" Andina menekankan kata sambil melototi Arya.
"Adek jangan dengerin ya...Papi cuma becanda," Andina mencium pipi Athaya yang duduk dipangkuannya.
Mobil Arya telah sampai dihalaman rumah Ayah Wahyu. Mereka disambut Ayah dan Ibu yang sedang santai diteras.
"Ayah habis ada tamu ?" tanya Andina setelah menyalami keduanya, disusul oleh Arya. Ayah dan Ibu terlihat masih canggung saat Arya mencium punggung tangannya.
"Iya, barusan pegawai kebun dari Garut datang kesini mengambil obat-obatan tanaman. Sekalian memberi kabar, seminggu lagi cabe sudah bisa dipanen. Ini panen perdana Ayah setelah jadi petani." Ayah terlihat sumringah.
"Wah keren nih Ayah jadi bapak tani." Andina mengacungkan dua jempolna.
"Teteh....teteh harus bayar uang sewa sama Zaki !" tiba-tiba Zaki datang ikut bergabung di ruang tamu.
__ADS_1
"Uang sewa apa ?" Andina mengernyit.
"Itu kamar Zaki jadi penuh sama kado dan seserahan punya teteh. Kata Ibu simpan dikamarku dulu biar kamar teteh nggak berantakan."
Arya tersenyum simpul menyaksikan drama adik kakak itu. "Nih, aku yang bayar uang sewanya." Arya mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompetnya.
"Yes. Makasih....Mas Arya kakak ipar terbaik." Zaki bersorak senang. Andina hanya menggelengkan kepala.
"Om Zaki ayo main bola lagi..." Athaya menarik tangan Zaki yang sedang duduk. " Oke siap, bentar ya Om Zaki ambil dulu bolanya." Zaki berlalu menuju dapur.
Ayah dan Arya lanjut mengobrol santai sementara Andina dan Ibu berada didapur menyiapkan bahan untuk makan malam "Teh, udah pada makan belum ?". "Sudah Bu, tadi dirumah Mama. Oh ya, malam ini kita nginap disini, besok nginap di rumah Mama, lusa mau pindah ke rumah baru hadiah dari Mama Papa, Bu..."
"Alhamdulillah, beruntung teteh punya mertua yang baik dan sayang sama kamu," Ibu tersenyum bahagia. "Rumah barunya dimana teh ?".
"Dekat kok Bu, jarak 2 rumah sebelum rumah Mama. Katanya Mama gak mau jauh-jauh dari cucu dan menantu," ujar Andina terkekeh.
"Hahaha...makanya Ibu jangan mau nonton Ku Menangis. Nanti otaknya terkontaminasi cerita gak masuk akal."
"Teh, ini diminum dulu...Ibu sengaja bikin ramuan ini, besok pas bangun tidur akan terasa khasiatnya." Ibu menyerahkan gelas berisi jamu.
"Apa ini Bu ?" Andina mengendus aromanya.
"Sudah diminum aja...biar teteh gak pegal-pegal dan sakit," Ibu tersenyum simpul menatap Andina.
Andina memalingkan wajah malu, Ibu nya seolah tahu apa yang terjadi.
***
Arya menilik setiap foto yang terpajang di dinding kamar Andina. Mereka kini sedang berada dikamar setelah makan malam bersama. Athaya anteng sendiri diatas kasur dengan mainan robotnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu lucu banget sih...ini usia berapa ?" Arya memperhatikan foto bayi dalam pose merangkak sambil tersenyum lebar menampilkan kedua lesung pipi.
"Hmm itu sekitar usia 6 bulanan..."
"Jadi dari kecil sudah punya lesung pipi ya.." Arya terus meneliti foto-foto masa kecil istrinya.
"Bukan dari kecil Mas....tapi sejak lahir..." jelas Andina tersenyum geli.
"Ini waktu SD kan...? Aku ingat baju baby doll ini waktu aku jahilin kamu." Tebak Arya, matanya berbinar menatap Andina.
"Wah Mas Arya panjang ingatan juga ya....aku tuh sebel dan jengkel sama kamu, colok-colok pipi segala, sampai nangis ngajak Ayah pulang," Andina mencebik, mengingat kenangan dulu.
"Haha...abis kamu ngegemesin sih. Sayang, gak nyangka ya kita jadi jodoh, kalau tahu begini kenapa gak dari dulu..." Arya memeluk Andina dari belakang, mencium mesra tengkuknya.
"Jangan menyesali takdir Mas. Memang sudah begini jalan yang harus dilalui...Mas, lepas ah nanti adek lihat," Andina mengurai tangan Arya yang melingkar diperutnya.
"Pengen lagi, Yank..." Arya malah menaikkan tangannya meremas gunung kembar.
"Mas, ada adek...." Andina mencubit tangan suaminya itu. Hatinya bersorak senang, malam ini aman.
Malam ini, untuk pertama kalinya mereka tidur bertiga. Athaya tidur disisi ranjang yang rapat dengan tembok memeluk Mama Andin, Arya memeluk istrinya dari belakang. Mereka tidur dalam damai dengan bahagia terpancar dari wajah.
*****
Othor mengajukan cover baru untuk mengganti cover yang seram. Alhamdulillah di acc adminnya.
Inilah...Mama Andin, si cantik berlesung pipi yang setelah menikah makin bersinar . 😍
__ADS_1