SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
178. Persaingan


__ADS_3

Begitu mobil keluar dari gerbang perumahan, belok kiri menuju jalur sekolah, Athaya mulai membuka lagi kisi-kisi yang dibuatkan mama Andin mengenai susunan alur cerita yang akan disampaikan agar padat berisi sebab lomba mendongeng dibatasi durasi hanya 10 menit.


Tak terasa, menuju Lomba Bertutur tingkat Nasional tinggal menghitung hari. 14 hari lagi. Dan hari ini ia akan dites untuk tampil di hadapan para guru dan kepala sekolah.


"Mama, jangan lupa nanti ke sekolah!" Athaya terus mengingatkan mama Andin sejak kemarin, tadi malam, dan saat tadi sudah masuk ke dalam mobil. Jangan sampai mamanya lupa datang ke sekolah.


Athaya memang terlatih menjadi anak yang mandiri, berani, dan bertanggung jawab. Ketika Lala yang duduk di kelas satu datang ke kelasnya bersama Manda sambil terisak sebab buku gambarnya disembunyikan Rian. Rian adalah teman sekelas Lala yang nakal, hobinya menjahili teman perempuan. Manda dan Lala yang duduk sebangku pun mengalaminya.


Dan Athaya hadir sebagai kakak yang melindungi. Ia menegur Rian dengan tenang dan tegas tanpa emosi sebab selalu ingat nasehat mama Andin agar tidak bertindak kasar apalagi sampai berkelahi kalau ada yang nakal.


Namun satu kekurangan yang nampak pada diri Athaya. Ia bisa mandiri dalam tanggungjawabnya sebagai seorang kakak dan tanggungjawabnya sebagai pelajar. Tapi ia sangat bergantung pada sang mama. Mungkin bisa dibilang manja pada mama sambungnya itu.


Di setiap lomba yang dimenangkannya, ada sosok mama Andin yang harus selalu ikut mendampinginya. Meski tak harus duduk paling depan sebagai penonton, yang penting sosok mama kesayangannya ada, terlihat. Sebab kehadiran mama bisa menghilangkan rasa gugupnya dan menambah kepercayaan diri.


"Kak, emang kapan di tes sama kepala sekolah?" Lala yang dari tadi menyimak Athaya yang tengah latihan, mulai bertanya ketika sang kakak mengakhiri latihan dengan pekikan 'yes'.


"Nanti jam 11."


"Doain ya La, biar kakak gak deg degan."


"Sakses, kakak...." Lala mengacungkan 2 jempol dengan tersenyum lebar.


"Tengkiyu...Lala Po."


Membuat Lala cekikikan mendengar jawaban dengan mimik lucu kakaknya itu. Keduanya saling beradu bertepuk kedua tangan.


Mobil yang dikemudikan kang Adang berhenti di lampu merah. Athaya membuka kaca jendela sambil mengedarkan pandangan mencari sosok pedagang asongan seusianya yang kini makin akrab.


"Nyari Ilham, kak?" tebak Lala yang melihat sang kakak memanjangkan leher mengedarkan pandangan.


"Iya. Tumben nggak ada."


"Ini kan senin. Sekolah pagi kale..."


Athaya tercenung sesaat. Bisa jadi apa yang dikatakan Lala benar. Ia pun menaikkan kembali kaca jendela sebab lampu merah bersiap berganti lampu hijau.


Sebelum jam 11, mama Andin sudah datang ke sekolah. Bersama Ibu Puspa sang wali kelas, bertiga mereka menuju ruang guru meninggalkan anak-anak dengan sejumlah tugas yang harus dikerjakan di kelas selama ibu guru mendampingi Athaya dites mendongeng.


Dengan penuh percaya diri, usai menatap mama Andin yang mengacungkan 2 jempol, Athaya mulai unjuk kebolehan di depan 5 guru dan kepala sekolah. Ia bercerita dengan ekspresi dan suara yang berubah-ubah seauai karakter tokoh. Ditambah improvisasi gerak tangan yang mendukung penyampaian cerita menjadi lebih hidup.

__ADS_1


"Tadi kakak udah dengar kan komentar juri?" Andina merangkum bahu Athaya sambil berjalan santai menuju kelas. Anak-anak berlarian di jam istirahat siang usai shalat Duhur berjamaah dimasjid sekolah.


"Iya, ma. Kelebihan waktu 2 menit."


Andina mengangguk. "Nanti di rumah kita perbaiki lagi. Hmm, sama ada satu lagi, kak."


"Apa?" Athaya mendongak menatap sang mama dengan kening mengkerut.


"Kakak harus bisa percaya diri kalau mama nggak nonton."


Athaya menggeleng kuat dan beralih menggelayut manja di lengan mama Andin. "Nggak mauuu....nggak bisa. Mama harus selalu nonton!"


"Kakak udah besar, lho. Masa masih bergantung sama Mama."


Obrolan keduanya terjeda saat berpapasan dengan teman-teman sekelas Athaya, mengajaknya makan siang.


"Nanti aku nyusul." Balas Athaya sambil melambaikan tangan.


"Gini deh, nanti minggu depan kan tes sekali lagi. Mama gak usah ke sekolah ya? Kalau lomba pasti mama ikut ke Jakarta." Andina dan Athaya berhenti di ambang pintu kelas yang sudah kosong sebab semuanya menuju ruang tempat makan bersama.


"Deal?" Andina mengacungkan jari kelingkingnya sebab Athaya tak kunjung menjawab.


Membuat Andina terkekeh dan menggelitiki pinggang Athaya dengan gemas sebab tak mau kalah manja sama si kecil Al.


Athaya memilih makan siang di bangku depan kelas dengan bekal yang dibawanya dari rumah.


"Mumpung ada mama." Athaya terkikik melihat mamanya geleng-geleng kepala menganggapi selorohannya.


Aji mumpung juga berlaku untuk Lala. Ia datang bersama Manda, menghampiri sambil berlari.


"Mama, Lala mau makan di sini. Sama Manda juga ya ma ya?!"


"Ishh ada Lala, berisik ah." Athaya yang sedang mengunyah tampak jengah melihat adiknya yang kecentilan saking senangnya ada sang mama di sekolah.


"Biarin wew." Lala memeletkan lidahnya sambil membuka goodibag berisi bekal berdua dengan Manda.


"Sudah-sudah. Mau makan jangan ribut." Mama Andin menempelkan telunjuk di bibir, tampil menjadi penengah. Ia mengingatkan Lala dan Manda untuk berdoa dulu.


****

__ADS_1


Seorang wanita berseragam guru memasuki sebuah butik ternama. Di adalah ibu Puspa yang datang atas permintaan wali dari muridnya yang bernama Raul. Diantar salah satu pegawai, ia.melangkah menuju sebuah ruangan dimana seorang wanita sedang duduk santai di sofa sambil memainkan ponsel.


Wali kelas dan wali murid itu berbincang santai membahas perkembangan akademik Raul di sekolah.


"Ehm, begini bu Puspa. Saya mengundang ibu ke sini ada hal yang ingin didiskusikan." Tantri, ibu dari murid bernama Raul itu mulai berbicara serius usai berpindah duduk mendekati Puspa.


"Ada apa ya, mama Raul?" sang wali kelas menatap dengan mimik penasaran.


Tantri merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop coklat diulurkannya ke pangkuan wali kelas yang duduk di sofa yang sama itu.


"Saya ingin ibu bisa bantu memasukkan Raul ke perlombaan tingkat nasional."


"Saya tidak tertarik dengan hadiah uangnya. Saya hanya ingin memperlihatkan prestasi Raul pada keluarga besar."


"Keluarga besar saya penuh persaingan. Seolah berlomba saling membanggakan anak-anaknya di mata orangtua kami."


"Bu Puspa bisa bantu kan?"


Sang wali kelas terkaget dengan ucapan mama Raul serta amplop coklat yang tergeletak di pangkuannya. Jelas ia faham apa makaudnya. Ia akan memindahkan amplop itu namun tangannya ditahan oleh Tantri.


"Maaf mama Raul. Sekolah cuma boleh mengirimkan perwakilan 1 orang. Raul memang berprestasi tapi nilainya masih di bawah Athaya. Jadi rapat dewan guru memilih Athaya menjadi wakil sekolah."


"Oh gitu ya." Tantri tampak terdiam sambil memutar otak berusaha mencari ide.


"Ini rejeki untuk bu Puspa. Mohon jangan ditolak." Tantri memastikan lagi agar amplop coklat itu diterima. Bukan sebagai suap, tetapi sebagai hadiah. Sama saja.


Namun dengan halus sang wali kelas menolaknya. Meski tidak tahu berapa nominal yang ada di dalam amplop itu. Ia harus waspada akan hutang budi yang harus di bayarnya suatu saat nanti.


Tantri akhirnya mengalah dan menyimpan amplop coklat ke atas meja. "Sebagus apa memang Athaya itu?"


"Nilai plus Athaya adalah percaya dirinya tinggi, artikulasi jelas.dan pembawaan yang tenang."


"Itu karena mamanya yang rajin mengasah skillnya. Kalau latihan di sekolah kan terbatas."


"Hanya saja Athaya sangat bergantung sama mamanya."


"Dia belum mau tampil kalau mamanya tidak hadir dalam sesi tes di sekolah apalagi pas lomba."


Baiklah.

__ADS_1


Tantri tersenyum penuh arti. Penjelasan wali kelas yang detail membuat wajahnya tampak sumringah. Dengan alasan akan bertemu klien, ia mengakhiri pertemuannya dengan wali kelas 5 itu.


__ADS_2