
Rapat berlangsung sampai pukul 3 sore, karena terjeda 1 jam waktu istirahat dan keterlambatan memulai rapat. Hasil rapat meninggalkan catatan satu masalah kejanggalan laporan keuangan dari salah satu cabang Dept Store diluar kota.
Beruntung, Arya menempatkan sahabatnya William sebagai manajer keuangan. Ia memang punya skil yang bagus dalam akuntasi, otaknya sangat jenius dalam meneliti angka demi angka. Padahal laporan keuangan dari cabang terlihat rapi dan wajar, tapi Willi bisa melihat adanya kejanggalan.
Kini diruang rapat hanya tersisa tiga oang. Arya menggulung lengan bajunya sampai siku. "Bro, gue tugaskan lo untuk investigasi. Lo pilih saja siapa orang-orang yang mau diikutkan ke lapangan," ujar Arya berbicara kepada William.
"Siap bro, gue akan carikan bukti secepatnya," jawab William. "Ky, kapan mesin baru akan datang ?" tanya arya ke Ricky. "Perkiraan 2 mingu lagi bro. Info aekarang mesinnya masih tahap penyetelan," jawab Ricky. Arya hanya menganggukkan kepalanya.
****
Arya memilih pulang setelah melaksanakan sholat Asar diruangannya. Selesai rapat, tidak ada lagi pekerjaan yang harus diurusnya. Ia melajukan mobilnya menuju ruko untuk menjemput anaknya.
Seperti tadi pagi, Safa mempersilahkan Arya untuk langsung naik ke atas. Ia melangkah menaiki tangga, diujung tangga atas ia berhenti dan memperhatikan dua orang yang berada diatas sofa.
"Mama...kenapa gajah hidungnya panjang ? hidung Taya cuma segini..." Athaya meraba hidungnya sendiri membandingkan dengan gambar gajah yang ia lihat dari buku yang dipegangnya.
"Gajah kan badannya besar, jadi makannya harus banyak. Nah, hidung panjangnya itu membantu untuk mengambil makanan yang banyak lalu dimasukkan ke dalam mulutnya yang ukurannya juga besar," Andina menjelaskan dengan sabar. Anak itu terus saja bertanya, rasa ingin tahunya begitu besar.
__ADS_1
"Taya hidungnya kecil kalena badannya juga kecil ya Mama...?"
Andina terkekeh mendengar pertanyaan Athaya. "Kalau hidung Taya besar nanti jelek dong kayak badut. Badan adek kecil karena adek masih anak-anak. Nanti kalau adek makannya banyak, badannya akan cepat besar dan tinggi seperti Papi. Nah, sekarang adek makan buah dulu ya biar cepat tinggi..."
"Iya Mama...Taya mau tinggi sepelti Papi," ujar Athaya sambil jingkrak-jingkrak diatas sofa.
"Ehemm," Arya berdehem. Sontak, Andina dan Athaya melihat kearahnya.
"Papi...." Athaya turun dari sofa dan berlari ke arah Papi nya.
"Stop sayang, jangan lari-lari nanti jatuh..." teriak Arya. Benar saja, baru saja selesai bicara badan Athaya tiba-tiba oleng hampir terjerembab. Spontan Andina dan Arya cepat-cepat meraih badan Athaya. Tapi saat Andina berhasil meraih badan Athaya, hal yang sama juga dilakukan Arya sehingga badan Andina tidak seimbang dan ikut tertarik oleh Arya. Alhasil, Arya menjadi terjengkang karena dorongan Andina dengan posisi saling menumpuk.
Sontak Andina langsung duduk. "Adek gak apa-apa hmm ?" tanyanua khawatir.
"Taya nda apa-apa tadi badan Mama belat..." jawabnya polos. "Maaf ya...Mama gak sengaja," ujar Andina sambil mengusap punggung Athaya.
Arya ikut duduk dilantai, ia mengulum senyum melihat Andina yang salah tingkah dan menunduk malu.
__ADS_1
"Eh...katanya mau makan buah, Papi bagi dong," ujar Arya mencoba mencairkan suasana.
"Papi buahnya dikit aja ya, Taya mau makan buah banyak bial Taya cepat tinggi kayak Papi," jawab Athaya.
"Mama...ayo beldili...duduknya disanah...Taya mau makan buah" Athaya menarik tangan Andina mengajak ke sofa.
"Eh ya ya..." Andina ikut berdiri, dirinya masih gugup setelah drama terjungkal tadi yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Arya ikut menuju sofa, memperhatikan anaknya yang sedang makan buah. Athaya sangat bersemangat memakan buah potong.
Sekali-kali ia suapkan ke mulut Mama Andin. Awalnya menolak, tapi Athaya memaksanya. Lalu Athaya menyuapkan buah potong ke Papi nya. Si Papi mana mungkin menolak, malah dengan senang hati membuka mulutnya.
Alhasil, mereka makan buah bertiga dengan garpu yang sama.
*****
Mana VOTE nya say....
__ADS_1
Maafkan agak telat update, abis kancar kincir dulu.
Laff u all 😍