
"Kita mulai belajar warna dulu ya...ini merah, ini kuning, ini hijau,...." Andina dengan sabar menuntun telunjuk Athaya mengarahkan ke setiap kotak-kotak warna sambil membimbingnya ikut mengucapkan warna-warna yang disebutkan."
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Arya yang mencuri-curi pandang dari balik punggung Papa Robby karena posisi duduknya berada dibelakang papa nya.
"Aku ke belakang dulu ya gerah..." pamit Arya ke semuanya. Ia berjalan ke arah belakang rumah, duduk dikursi yang menghadap ke arah kolam renang. Diambilnya sebatang rokok dari saku kemejanya...
"Sejak kapan lo merokok ?" tiba-tiba Ricky sudah duduk disampingnya. "Cih...lo ngagetin aja," Arya berdecih sebal.
Dihisapnya rokok yang tersemat dijari, ia hembuskan pelan-pelan asap rokok itu dari bibirnya. "Sejak ketok palu 3 bulan yang lalu, sejak gue resmi bergelar duda," jawab Arya dengan menghembuskan nafas berat.
"Gue hanya merokok kalau merasa gelisah aja..."
"Hmm seperti saat tadi melihat pemandangan anak lo dan Andina kan.." tebak Ricky tepat sasaran. Arya hanya memalingkan wajahnya sekilas ke arah Ricky. Rokok yang baru terisap setengahnya ia matikan dengan menekan baranya ke asbak yang ada dimeja.
"Gue masih nggak nyangka akan melewati perjalanan hidup seperti ini, hati gue rasanya kebas bro..." Arya menunduk dengan menutupkan kedua tangan ke wajahnya.
"Sabar bro...gue yakin lo bisa melewatinya, cepat atau lambat waktu yang akan menyembuhkan. Lo harus cepet move on demi anak lo..." Ricky menepuk-nepuk bahu Arya memberikan kekuatan.
"Thanks bro..."
"Kalian disini ternyata...Ar, Andina dan Sifa pamit pulang tuh...kamu anterin mereka ya..dia nggak bawa motor...tadi kesini pakai taxi onlen," Mama Rita datang menghampiri.
"Tapi ma..."
__ADS_1
"Please nak...ini udah sore mama khawatir kalau mereka naik taxi. Ricky...kamu juga ikut temani Arya," titah Mama Rita. Ricky hanya membalas dengan acungan 2 jempolnya.
****
"Ka...mo ikut..." Athaya menahan tangan Andina yang sudah selesai berpamitan kepada semuanya.
"Eh...jangan ikut ya....besok adek bisa main ke ruko sama oma..." Andina mencoba membujuk dengan lembut.
"Ikuuuut....hwua hwua...." akhirnya tangis Athaya tak terbendung. Aduh gimana ini...Andina jadi merasa serba salah.
"Cup cup sayang jangan nangis...iya boleh ikut ayok naik ke mobil," Arya memangku Athaya untuk menenangkannya. "Arya ajak aja ikut nganter ma..." ujar Arya ke mama nya. "Yuk berangkat.."
"Semuanya, kami pamit ya, Assalamualaikum..." ucap Andina. "Waalaikumsalam.." Mama Rita mengantarkan mereka sampai teras depan.
Sepanjang jalan Athaya terus berceloteh menyakan setiap hal yang dilihatnya. Ia duduk dipangkuan Andina yang duduk di jok penumpang tengah. Dengan sabar Andina menjawab keingintahuan Athaya dengan kalimat yang tentunya difahami anak seusianya. Sekali-kali Arya yang sedang menyetir memperhatikan interaksi mereka lewat spion.
Huamm...berkali-kali Athaya menguap, matanya mulai merem melek. "Ngantuk ya dek...ayo bobo aja ya.." Andina merubah posisi duduk Athaya jadi menyamping. Ia tepuk-tepuk paha kanan anak itu dengan lembut...tidak butuh waktu lama Athaya terlelap dipngkuannya.
"Saya berhenti disini Pak Arya..." seru Sifa. Arya segera meminggirkan mobilnya.
"Rumahmu yang mana Fa...?" tanya Ricky sambil menoleh ke belakang.
"Itu yang cat abu...saya tinggal nyebrang aja," tunjuk Sifa ke arah sebrang jalan.
__ADS_1
"Kapan-kapan aku boleh mampir ya kalau haus," ujar Ricky sambil menaikkan satu alisnya.
"Kalau haus ya ke warung atau infomaret aja kak," balas Sifa yang dijawab kekehan Ricky.
"Makasih ya pak Arya, kak Ricky...Din aku duluan ya."
"Ok" jawab Ricky, Arya hanya menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati nyebrangnya Fa..." balas Andina.
Arya melajukan kembali mobilnya setelah Sifa turun. 10 menit kemudian mobil sampai didepan rumah Andina.
"Ky...gantian lo yang nyetir gue mau gendomg Athaya," Arya turun dari mobil dan membuka pintu kiri samping Andina. Diraihnya Athaya yang masih terlelap dengan perlahan dari pangkuan Andina ke pangkuannya. Deg. Ada desiran halus merambat ke jantungnya saat tangannya tak sengaja menyentuh tangan Andina.
"Santai aja Din turunnya...kakimu pasti keram kan ?" tanya Arya.
Andina mengangguk, sebentar ia luruskan kedua kakinya ke arah depan yang terasa kebas dan keram.
"Ah udah enakan pak...makasih pak Arya, kak Ricky...udah mau anterin pulang."
"Sama-sama...maaf ya Din udah direpotin sama anak saya," ujar Arya. "Salamnya sama Pak Wahyu dan Bu Desi ya."
Andina hanya mengangguk dan segera turun dari mobil. Ia melangkah masuk ke halaman rumah.
__ADS_1
......BERSAMBUNG......