SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
65. Oh Senyumnya !


__ADS_3

Arya PoV


Aku memilih berada dikantin untuk saat ini ditemani secangkir kopi. Udara diruangan tadi terasa gak nyaman saat Andina hanya menjawab "Owh..." saja. Maksudnya apa coba, ambigu banget. Aku berharap dia memberikan penjelasan yang bisa membuatku tenang. Tapi anakku keburu protes, hufft.


Saat ini aku baru tersadar, sepertinya sikapku tadi terlalu berlebihan. Itu kan privasi dia, aku nggak boleh ikut campur. Duh, gimana kalau dia marah dan pulang meninggalkan Athaya, bisa berabe ini. Baiklah, nanti aku akan minta maaf padanya.


Tring. Suara notif pesan terdengar.


"Ar, Mama sudah nyuruh Andin nginap biar Athaya nggak rewel lagi, ada Marisa ikut nemani. Mama pulang ya"


Aku membalas pesannya. "Ok, Ma..."


Author PoV


"Arya kan ?"


Arya mendongakkan wajahnya mendengar suara yang memanggilnya. Ia melihat orang yang berdiri didepan mejanya, memperhatikan penampilannya dengan seksama. Tampak wanita berambut coklat sebahu, memakai kaos putih ketat dan rok denim pendek.


"Mauren ?" tanya Arya untuk meyakinkan.

__ADS_1


"Arghh kamu masih ingat aku Ar..." wanita itu terlonjak girang, tanpa disuruh ia duduk dikursi yang ada didepan meja Arya.. "Apa kabarnya Ar ?"


"Aku baik. Kamu sedang apa disini bukannya kamu tinggal di Singapura ya ?" tanya Arya, dahinya mengkerut heran.


"Aku habis jenguk teman yang melahirkan disini. Hmm aku menetap lagi di Bandung Ar...sudah 2 bulan, aku sudah bercerai," jawab Mauren sambil terus menatap Arya.


"Eh kamu ngapain disini, apa Vita melahirkan ?"


Arya menggelengkan kepala. "Anakku dirawat sudah 2 hari, dia terkena gejala tifus. Oh ya, aku duluan ya soalnya sudah dari tadi disini." Arya bangkit berdiri untuk meninggalkan meja.


"Eitss sebentar Ar...aku minta nomermu please, biar mudah jika nanti ada keperluan," Mauren menyodorkan hp nya ke tangan Arya.


"Nih..." Arya memberikan lagi hp Mauren setelah mengetikkan nomernya. "Aku duluan ya..." Arya akan beranjak untuk keluar kantin.


"Aku sudah cerai," jawab Arya sambil melangkah cepat keluar kantin.


Mauren tampak terkejut mendengarnya. "Wow, surprise...," ia tersenyum menyeringai.


*****

__ADS_1


"Kak habis dari mana sih dari tadi baru nongol," tanya Marisa yang sedang duduk disofa sambil asyik memainkan hp.


"Habis ngopi dikantin," jawab Arya jujur, ia merebahkan punggungnya kesandaran sofa. Arya melihat ke arah ranjang tampak anaknya sedang tertidur. "Andin kemana Sa ?"


"Ke parkiran dulu, ada adiknya datang nganterin baju ganti soalnya dia nggak mau kesini," jawab Marisa.


"Owh." Arya hanya ber oh ria. Tak lama Andina masuk sambil menenteng sebuah tas jinjing. Ia tersenyum ke arah Arya dan ikut duduk di sofa.


"Ya ampun Sa...tadi dikantin mau beli cemilan malah lupa. Tolong belikan ya !" ujar Arya sambil mengeluarkan 2 lembar uang warna merah.


"Biar saya saja yang belinya Pak..." tawar Andina.


"Ngak apa-apa aku saja...sekalian mau jajan juga," ujar Marisa cepat, karena tadi mendapat kedipan mata dari Arya. Buru-buru dirinya keluar...


"Hmm Din...maaf perkataan yang tadi ya. Tak seharusnya saya menyindir seperti itu. Itu kan privasi kamu," ujar Arya tampak sorot matanya penuh sesal.


" Tadi tuh saya memang ke Musholla, pulangnya bertemu Kak Dino yang habis menjenguk kakaknya yang melahirkan. Lalu kami mengobrol sebentar ditaman," Andina memberikan klarifikasi.


"Owh gitu. Maaf sekali lagi ya," Arya tersenyum tipis menatap Andina, ada binar bahagia terpancar dimatanya.

__ADS_1


"I'ts oke Pak.." Andina membalas tatapan Arya dengan seulas senyum diwajahnya.


"Kenapa tersenyum seperti itu sih...kan aku jadi betah," lirih batin Arya.


__ADS_2