
"Hai....sini ya nyebrang !" pinta Andina. Kedua orang itu mengangguk, melihat situasi jalan menunggu lengang kendaraan untuk menyebrang.
"Kang Hendra...ini dari mana atau mau kemana nih ? juga apa kabar semuanya ?" Andina langsung memberondong pertanyaan. Dia tersenyum membelai kepala Rima, saat anak itu mencium tangannya. Mereka memulai obrolan sambil berdiri disamping mobil.
"Alhamdulillah teh semuanya sehat. Aku habis nganter Rima ke toko buku. Wuihh pengantin baru nih..." ujar pria bertampang preman itu. Rambutnya gondrong diikat, gelang bahar dilengan kanannya dan pakaian serba hitam serta mengenakan sepatu jenggel. Hmm, siapa pun akan takut melihatnya.
"Kang...aku gak liat akang sama mbak Uci hadir diresepsiku. Bener gak datang ya ?" todong Andina.
"Hehe....kita minder teh. Lihat nama hotelnya aja bikin usus mengerut." ujarnya terkekeh.
"Ah kamu mah...sok merendah gitu,".Andina mencebik.
"Mamaaaa....ayo panassss !" Athaya teriak dari dalam mobil.
Andina dan Hendra menoleh ke dalam mobil.
"Iya adek...sebentar ya." Andina melongok dari kaca yang dibiarkan terbuka.
"Kang....aku harus pergi sekarang. Aku kangen ketemu semuanya, udah dua minggu ya gak singgah.."
"Dia siapa teh...?" Hendra menunjuk dengan matanya.
"Dia anak aku kang....aku nikah langsung dapat bonus anak," Andina tertawa pelan.
"Owh...suamimu punya buntut toh..." Hendra ikut terkekeh.
"Rima....nih buat jajan," Andina memberikan selembar uang 50 ribu.
"Makasih bunda..." Rima tersenyum senang.
"Kang...aku nitip buat kebutuhan anak-anak ya," Andina membuka dompet, mengambil beberapa lembaran merah.
"Jazakallahu teh. Oh ya teh, barakallahu untuk pernikahannya. Semoga sakinah mawaddah warahmah ya..." ucap Hendra tulus.
__ADS_1
"Amiin. Nuhun kang untuk doa nya. Aku duluan ya...salam untuk mbak Uci."
Mereka berpisah diparkiran Bank. Andina melajukan mobilnya menuju ruko.
*****
"Welcome back pengantin baru...." Safa memekik senang memeluk Andina setelah menjawab salamnya. "Hallow adek ganteng...onti Safa kangen deh," Safa mencium gemas kedua pipi Athaya.
"Fa...ke atas dulu yuk ada yang harus dibahas !" Safa mengangguk, menaiki tangga mengikuti Andina di belakangnya.
"Ada apa nyonya Arya ?" Safa dan Andina duduk di sofa. Athaya memilih beringsut turun, duduk di kursi kerja Mama Andin, menonton kartun favoritnya.
"Fa, mulai sekarang aku gak akan stay di ruko seharian. Aku paling datang jam 9 pulang jam 3, karena sekarang aku punya keluarga yang harus jadi prioritas."
"Hm, jangan sampai Pak Arya menutup usaha ini, Din. Aku tahu banget perjuanganmu dari nol," Safa terlihat gusar.
"Eh nggak beb...Mas Arya tetap ngijinin asal bisa mengatur waktu. Maksudku, aku akan lebih banyak mantau dari rumah aja. Toh aku cuma tinggal ngecek laporanmu aja sama ngecek transfer Bank."
"Ya memang, nafkah dari Mas Arya lebih dari cukup meski aku tak kerja. Jadi sekarang visi misi ku berubah, Fa. Usaha ini tetap berjalan dan harus bisa meningkat, agar keuntungannya bisa membantu banyak orang lagi," jelas Andina.
" Din, kamu mah dari dulu selalu gak pernah mikirin diri sendiri, selalu peduli sama nasib orang. Aku padamu beb....." Safa memeluk Andina dari samping, dengan wajah haru.
"Lebay ih..." Andina berdecak sebal yang dibalas kekehan Safa.
*****
Arya PoV
Aku dalam perjalanan menuju pabrik bersama Ricky. Mobil dibawa oleh Pak Asep, sehingga aku leluasa duduk dibelakang membuka laptop. Cuti seminggu membuat pekerjaan menumpuk tak habis-habis.
"Boss, itu sepertinya Mama Athaya...?" ujar Ricky yang duduk di jok depan. Aku menoleh mengikuti telunjuk Ricky. Ya, benar. Andina ada diparkiran Bank. Kebetulan mobil berhenti karena lampu merah, aku jadi leluasa melihatnya. Kulihat dia sedang asyik mengobrol, diselingi senyum dan tawa. Siapa sih lelaki itu, tampangnya seperti preman tapi dia terlihat sopan kepada Andina.
Mobil kembali melaju karena lampu lalu lintas berubah hijau. "Pak Asep, puter balik ke depan Bank tadi !" Aku jadi penasaran siapa laki-laki itu.
__ADS_1
"Bro, nanti kita akan telat meeting," ujar Ricky mengingatkan.
"Diundur aja. Aku penasaran Andina lagi sama siapa," ujarku.
Sampai di tempat, mobil Andina sudah keluar meninggalkan parkiran. Lelaki tadi berjalan di trotoar menuntun seorang anak. Aku turun dari mobil menghampirinya.
"Permisi...bisa bicara sebentar ?" Preman itu menoleh ke belakang saat aku menyapanya.
"Ke saya ?" dia mengernyit, menunjuk dadanya memastikan.
"Iya. Itu ada kedai kopi, kita ngobrolnya disana aja."
Dia terlihat ragu, tapi akhirnya berjalan mengikutiku.
"Langsung aja saya mau tanya, kamu kenal dengan Andina ?" aku bertanya sopan to the point.
"Hm, iya. Maaf kamu siapa ?" dia balik tanya. Dengan tenang memperhatikan penampilanku.
" Saya suaminya !"
"Haha...kenapa tidak bilang dari tadi bung....ini suasananya kaku banget. Kenalkan saya Hendra, dan ini anak saya Rima." Dia menjulurkan tangan dengan tersenyum ramah, aku pun menjabatnya.
"Saya Arya. Saya tadi lewat dan melihat kalian mengobrol diparkiran. Maaf, penampilan kamu membuat saya hanya khawatir terhadap istri saya." Aku berkata hati-hati takut menyinggungnya.
"Haha..kamu jangan khawatir, saya temannya Andina. Kalau kamu mau tahu tentang saya, silahkan tanyakan saja pada Andina. Sekarang saya akan bicara tentang Andina yang mungkin kamu tidak tahu." Dia menjeda bicaranya dengan menyeruput kopi.
"Saya kenal Andina 3 tahun yang lalu. Dia rajin memberikan nasi bungkus untuk anak-anak jalanan yang mengamen di lampu merah. Lalu saya dan istri mengajak dia kolaborasi membujuk anak-anak agar mau belajar dan mengaji. Andina menjadi orang tua asuh sampai sekarang. Dia menyekolahkan 10 anak yang semuanya usia SD, termasuk anak ini." Hendra menunjuk anak disampingnya itu.
"Jadi, selamat ! Anda beruntung mendapatkan Andina, wanita cantik soleha. Dia tidak seperti orang lain yang memberi bantuan lalu difoto dan di upload di medsos. Dia tidak ingin orang tahu, dia menolong dengan hati, dengan ikhlas !" ucapan terakhir sebelum kami berpisah, membuatku segera ingin pulang memeluk istriku.
*****
Ini 2 bab tapi othor jadiin satu. So,nanti malam jangan minta up lagi ya 😉
__ADS_1