
Sebulan Kemudian....
Cuaca akhir pekan dari pagi sampai sore terlihat cerah. Tidak ada mendung hitam menggelayut, seolah pertanda hujan tak akan turun, sangat mendukung orang-orang untuk keluar malam mingguan dengan berbagai tujuan.
Saatnya kulineran. Di kota Bandung terkenal dengan ragam kulinernya yang enak-enak. Papa mengajak keluarga keluar untuk makan malam.
Mobil Alphard hitam melaju pelan mengikuti intruksi tukang parkir.
Ya maju terus pelan-pelan....bawa kiri pak...luruskan....maju dikit lagi... prittt !
Suara peluit dan isyarat tangan tukang parkir menjadi tanda mobil berhenti. Arya yang mengemudikan mobil mengajak semuanya untuk turun. Papa yang duduk di depan turun terlebih dahulu disusul yang lainnya.
"Assalamualaikum....kang Hasan, kumaha damang ? Papa menyapa penjual seafood kaki lima yang sedang fokus memasak udang asam manis.
Kang Hasan langsung mendongak dan tersenyum lebar. "Waalaikum salam....Alhamdulillah pangesto pak haji. Wah-wah mimpi apa saya....kedatangan tamu istimewa....pak haji dan keluarga sarehat ?" Kang Hasan nampak girang menyambut kedatangan mereka. Selesai mematikan kompor, dia mengelap tangannya lalu menyalami Papa Roby.
"Kang Hasan kalau manggil lagii saya pak haji, saya pulang lagi lho..." Papa menatap kesal kang Hasan.
"Aduh ini mulut suka spontan, maaf-maaf juragan...heran saya mah kalau orang lain suka ngambek kalau gelar hajinya nggak disebut, pak Roby malah ngambek saya sebut gelarnya," ujar kang Hasan sambil terkekeh.
"Berangkat naik haji itu untuk menyempurnakan rukun Islam, bukan membeli gelar haji. Sudah ah, setiap orang beda pemikiran.Tolong siapkan menu biasa, saya sudah lapar.." Papa menuju keluarganya yang sudah duduk lesehan mengitari meja panjang, duduk berhadap-hadapan. Kang Hasan mengacungkan dua jempolnya dengan semangat.
"Mas, sepertinya sering kesini ya...itu Papa akrab banget dengan pemiliknya..." ujar Andina yang memperhatikan interaksi Papa.
"Iya sayang, ini salah satu tempat kuliner favorit Papa. Kita nggak fanatik tempat yang penting higienis dan masakannya enak," sahut Arya yang sedang merebahkan kepalanya dipangkuan Andina, tiduran miring sambil memainkan hape.
__ADS_1
Suasana warung seafood tampak ramai pengunjung. Kiosnya kecil hanya cukup untuk tempat memasak dan 4 meja makan dengan kapasitas 4 orang/meja. Sehingga memanfaatkan teras toko dikiri dan kanan kios untuk tempat makan lesehan dengan menggelar tikar dan meja kaki pendek. Tempatnya sangat bersih karena para pegawai selalu sigap melayani dan membersihkan.
"Papi awas...Taya mau sama Mama..." Athya mendorong kepala Papi nya agar pindah. Arya dengan sengaja menyusupkan wajahnya ke perut Andina dan memeluk pinggangnya erat.
"Mamaaaa hiks...Papi nakal...hiks.." pipi gembul Athaya kembang kempis mulai terisak. Sejak kejadian sebulan yang lalu, Athaya makin manja dengan Mama Andin, tidak mau jauh.
"Mas...bangun ih, seneng banget sih ngerjain kakak..." Andina menepuk punggung Arya sambil geleng kepala. Arya langsung bangun dan tersenyum lebar melihat Athaya berdiri sambil terisak. Athaya langsung menghambur duduk memeluk Mama Andin.
Papa Mama dan Marisa terkekeh menyaksikan kelakuan pria beda umur yang memperebutkan Andina.
Asalamualaikum...wilujeng wengi, selamat malam bapak ibu...mohon maaf mengganggu sebentar, kami datang memberi hiburan dan jangan lupa hibur kami dengan imbalan....Jreng !
Suara petikan gitar sebagai intro dari seorang pemuda yang mengamen, ditemani rekannya yang bernyanyi dan memainkan kecrekan.
Apa salah dan dosaku sayang
Lihat jurus yang kan kuberikan
Jaran goyang, jaran goyang
Sayang janganlah kau watom serem
Hubungan kita semula adem
Tapi sekarang kecut bagaikan asem
__ADS_1
Semar mesem, semar mesem
Athaya langsung terperanjat berdiri memperhatikan dan mendengar nyanyian dua orang pengamen itu, suaranya bagus dan musiknya enak dibuat goyang. Dia langsung berjoged girang sambil tepuk tangan. Athaya mengikuti gaya pengamen itu pas lirik ngerap, tangannya maju mundur gaya tinju. Menggemaskan !
Semuanya tertawa terbahak-bahak, merasa terhibur dengan tingkah Athaya yang terus berjoged sampai lagu selesai. Andina mengeluarkan selembar uang 50 ribu. "Kaka nih kasih ke Om nya..." Andina menunjuk dengan dagunya ke arah orang yang nyanyi. Athaya menyerahkan uang itu, yang membuat girang kedua pemuda pengamen itu. Mereka membungkuk dan pamit.
Dua orang pelayan datang menyajikan hidangan seafood. Ada ikan kakap bakar, udang saus padang, cumi goreng crispy, tumis kangkung, dan capcay. Asapnya masih mengepul wangi menggugah selera karena dipasak dadakan. Ditambah aneka jus pesanan masing-masing.
"Maaf....kita telat ya...." Ricky dan Rendi datang beriringan langsung ikut bergabung.
"Nggak kok, ini makanannya baru datang..." sahut Marisa. Dia menggeser duduknya untuk Rendi yang mau duduk di sisinya.
"Willi nggak ikut ?" tanya Mama. " Willi mudik ke Jakarta Ma..." jawab Ricky. "Hm, ngak apa. Kalau sudah nikah jadi sulit untuk ngumpul bareng. Ayo kakak pimpin doa ya..." sahut Mama menatap Athaya.
Athaya mengangkat dua tangannya memulai doa sebelum makan yang selalu diajarkan oleh Mama Andin. Semua ikut membaca doa dalam hati. "Aamiin..." ucap serempak setelah Athaya mengucap kata amin.
Athaya memilih makan sendiri tidak mau disuapi. Dia menunjuk cumi dan ikan bakar untuk lauknya. Andina langsung memilihkan daging ikan yang tidak ada durinya.
Andina makan dengan cepat penuh semangat. Hidangan di atas meja tiba-tiba membuatnya ngiler. "Pelan-pelan sayang...nggak akan kehabisan kok..." Arya terkekeh menyaksikan Andina yang seperti kelaparan.
"Nggak tahu nih...kok aku merasa ngiler lihat semua makanan ini." Nasi di piring Andina sudah habis. Dia menatap piring Arya, berkali-kali dirinya menelan ludah.
"Sayang mau nambah ?" Arya mendekatkan bakul nasi. "Hmm,iya mas...tapi aku ingin menghabiskan punyamu, boleh ?" Andina berbisik ke telinga Arya.
Arya mengkerutkan dahinya. " Ini di meja masih ada...tinggal ambil saja.. " Arya akan menuangkan lauk seperti yang ada di piringnya. "Nggak-gak...aku maunya yang itu," tolak Andina. Dia mengambil piring punya Arya sambil tersenyum lebar. "Mas ambil saja yang baru ya !"
__ADS_1
Arya memperhatikan Andina yang makan porsi kedua miliknya. Dia merasa heran karena Andina biasa makan sedikit nasi dengan banyak lauk. Sekarang malah sudah makan dua porsi nasi dengan banyak lauk. Sudut bibirnya tertarik, jangan-jangan...