
Mang Ojak datang dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang Rumah Singgah, saat mendengar suara klakson motor milik Hendra
"Anak-anak tidak ada yang di luar Mang?" tanya Hendra setelah memarkirkan motornya.
"Tidak ada Pak, sudah saya cek, semua sudah ada di pondok dan sudah tidur." Lapor mang Ojak, seorang pemulung yang diangkat menjadi petugas kebersihan dan keamanan, juga istrinya di angkat sebagai juru masak Rumah Singgah.
"Ya sudah, Mang Ojak istirahat saja, sudah malam." Mang Ojak mengangguk dan berjalan menuju mes. Hendra pun berlalu memasuki rumah minimalis yang satu blok dengan kantor operasional. Selaku pengelola Rumah Singgah, Hendra mendapat fasilitas rumah lengkap dengan isinya. Dirinya bukannya tak punya rumah, tapi ia memilih pindah di lingkungan Rumah Singgah agar lebih mudah mengawasi kegiatan anak-anak.
"Abi, kenapa pulangnya telat, pengajiannya lama ya?" Uci terbangun dari tidurnya saat mendengar pintu kamar dibuka.
Hendra membuka jaket kulit serta jubah putihnya, dan menggantungkannya di kapstok. Sehingga kini kembali ke wujud tampilan premannya. Ia merebahkan diri di samping istrinya.
"Tadi di jalan aku lihat mobil kang Arya berhenti. Aku simpan dulu motor di tempat agak jauh biar kedatanganku gak ketahuan. Ternyata ada preman mengeroyok sopir kang Arya. Sepertinya ia hanya sendirian tanpa Kang Arya. Langsung saja aku akting dengan jubah ini, pada kabur deh mereka," ujar Hendra sembari mengusap-ngusap pistolnya.
"Itu keadaan sopirnya bagaimana?" tanya Uci penasaran.
"Aku lihat wajahnya berdarah kena tonjok, lalu pingsan karena dibius. Tadinya mau aku bawa ke klinik, tapi ada mobil yang mendekat. Aku sembunyi dulu di balik pohon. Ternyata yang datang adiknya kang Arya. Sudah tenang lah kalau ada keluarganya, apalagi adik iparnya itu seorang dokter. Jadi baru deh aku pulang." Hendra panjang lebar menjelaskan.
"Hm kok pada percaya ya kalau ini pistol beneran..." Uci terkekeh melihat suaminya mengusap-usap pistolnya, yang jika dipantik akan keluar api bukan peluru.
"Pasti percaya, karena ditunjang akting aku yang dingin seperti malaikat pencabut nyawa," sahut Hendra dengan senyum.
"Tidur yuk Bun, nanti subuh kan jadwal hafalan anak-anak..." Hendra beranjak bangun untuk mengganti dengan pakaian santai.
Malam terus beranjak naik, mengantarkan raga yang lelah menjadi lelap berselimutkan mimpi dan harapan esok kan lebih baik dari hari ini.
*****
__ADS_1
"Papi...bangun." Athaya menggoyang-goyangkan lengan Arya yang masih terlelap tidur. Athaya yang terbangun sendiri seolah ada alrm yang membangunkannya tepat jam 4 subuh. Ia langsung menuju kamar oramgtuanya yang tak dikunci.
"Papi ayo ke masjid.." Athaya kembali mengguncang keras lengan Papinya.
"Hm. Papi masih ngantuk." Arya menjawab dengan suara serak dan mata masih terpejam.
"Eh kakak udah bangun ya," Andina langsung membuka mata mendengar suara berisik di dekatnya.
"Papi...kakak mengajak ke masjid tuh...ayo bangun..." kini giliran Andina yang menggelitiki pinggang Arya.
"Sholat di rumah aja ya, Papi masih ngantuk..." kembali Arya menjawab dengan mata terpejam rapat, enggan terbuka.
"Nda boyeh...kata Papi, laki-laki sholatnya halus di masjid..." Athaya kini menarik-narik tangan Arya memaksa untuk bangun.
"Nah lho...jadi diceramahin Kakak," sahut Andina menimpali. Tapi Arya masih enggan membuka mata juga, karena ia baru tidur jam 1 malam jadi matanya masih sangat berat untuk terbuka.
"Papi hiks hwuaa...." menangis, menjadi senjata pamungkas Athaya agar keinginannya dituruti. Sontak saja mata Arya terbuka mendengar anaknya menangis kencang.
"Kaka pengen ke masjid sama Papi hu hu.." sambil terisak Athaya menyampaikan keinginannya.
"Eh iya hayu....Papi ke kamar mandi dulu ya...cup cup jangan nangis lagi.." Arya menepuk-nepuk punggung anaknya yang duduk di pangkuannya.
"Sayang, sudah adzan belum?" sambil menguap, Arya melirik Andina yang sedang tersenyum menyaksikan dirinya yang dikalahkan oleh Athaya.
"5 menit lagi Mas. Ayo siap-siap, kakak wudhu sama Papi ya..."
Andina ikut turun dari ranjang, mempersiapkan baju koko untuk kedua pria kesayangannya itu.
__ADS_1
*****
Pagi hari yang cerah, matahari mulai terbit dengan memancarkan sinarnya yang hangat. Andina melakukan jalan pagi ditemani Arya dan Athaya. Tidak jauh, hanya berputar mengelilingi sebagian komplek. Pada trimester ketiga ini, dokter menganjurkan jalan kaki 30 menit dengan teratur. Andina dijadwalkan akan melakukan persalinan normal.
Dengan olahraga jalan kaki, tubuh akan bugar sehingga membantu mempercepat proses pembukaan persalinan juga membantu saat proses mengejan. Pernah ikut beberapa kali kelas yoga tapi dirinya lebih nyaman dengan jalan kaki pagi hari.
"Kalau cape istirahat dulu sayang..." Arya mengusap peluh yang menetes di pipi Andina. Athaya yang dituntun Papinya ikut mendongak, "Mama nih minum dulu..." Athaya memberikan botol minumnya yang tergantung di lehernya.
Andina tersenyum lebar mendapat perhatian keduanya. "Makasih sayang..." ia menerima botol minum milik Athaya.
"Tinggal 10 menit lagi yuk ah jalan lagi sambil pulang..." ujar Andina penuh semangat. Mereka bertiga berjalan santai dengan ceria dan menyapa setiap tetangga yang dilihatnya.
"Mulai hari ini, kita pindah tidur di kamar ini ya biar kamu gak cape naik turun tangga." ujar Arya. Kini mereka sudah di rumah. Berada di kamar bawah yang sudah di pasang wallpaper nuansa pink dan soft white, ranjang utama lengkap dengan box bayi dan lemari juga berwarna soft white. Perlengkapan bayi sudah tertata rapi dalam lemari. Hanya tinggal menunggu waktu sang putri lahir.
"Kaka juga bobo disini ya Ma..." ujar Athaya sambil berguling-guling di atas ranjang.
"Iya sayang, kita tidurnya rame-rame biar seru..." jawab Andina yang mendapat gelengan kepala Arya. Arya tentu tak setuju karena jadwal menengok adek bayi akan terganggu.
"Sayang, ingat pesan dokter! Adek harus rajin ditengok agar mempermudah proses persalinan," Arya berbicara pelan di telinga sang istri.
"Itu mah bukan pesan dokter, tapi maunya PAPI ARYA! Dokter mah bilangnya boleh asal hati-hati..." Andina ikut berbisik dengan menekan kalimatnya.
"Mama sama Papi kenapa bicik-bicik telusss...." Athaya tampak cemberut karena dirinya tidak diajak bicara. Sontak Arya dan Andina tertawa mendapat protes anak sulungnya itu.
Arya sudah siap dengan setelan kerjanya. Tak biasanya, hari ini ia ingin sarapan sambil menonton tv. Ditemani Andina, ia duduk menikmati nasi goreng sambil menonton berita hangat pagi ini. Sampai kemudian munculah berita Breaking News.
"Selamat pagi. Telah terjadi kecelakaan tunggal di ruas tol Cipularang km 90 arah Jakarta. Kendaraan mini bus itu tampak rusak berat dengan dua penumpangnya tewas di tempat. Diketahui, salah satu penumpangnya bernama Aradea seorang model yang dikabarkan baru bebas dari penjara karena kasus perencanaan pembunuhan yang melibatkannya. Sementara korban satunya lagi seorang pria perkiraan berumur 50 tahun yang belum diketahui identitasnya...."
__ADS_1
Arya dan Andina saling pandang dengan tatapan tak percaya. Foto close up yang ditampilkan pada tayangan live kecelakaan itu adalah Dea yang mereka kenal.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un..." lirih keduanya.