
Pukul 6 sore, Arya masih berkutat dengan tumpukan berkas di mejanya. Dia sangat teliti, tidak begitu saja menandatangani setiap laporan dan proposal yang masuk ke meja kerjanya.
Arya tampak fokus mempelajari proposal dari PT. Zero Grup Tbk, perusahaan ritel raksasa yang jaringannya tersebar hampir di seluruh pelosok Indonesia. Mereka ingin mengajak kerjasama, menjadi investor di perusahaan miliknya itu.
Ricky masuk ke ruangan Arya dengan membawa Tab di tangannya. "Bro, perwakilan PT. Zero ingin bertemu, kapan bisa membuat janji ?" ujar Ricky setalah dirinya duduk menghadap Arya yang tidak terusik dengan kehadirannya.
Arya mendongakkan kepalanya. "Ini proposal kedua yang mereka layangkan. Pendirianku tetap teguh tidak menerima saham luar. Jadi untuk apa mereka ingin bertemu lagi...." Arya yang duduk di kursi kebesarannya menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Paling tidak, kita profesional saja menyambutnya sebagai tamu kehormatan Bro...." sahut Ricky yang membuat Arya mengangguk tanda setuju.
"Jadwalku besok apa saja ?"
"Besok hanya ada satu kali rapat. Jam 10 rapat internal dengan departemen marketing dan produksi."
"Kalau begitu buat janji jam 2 siang saja, Ky !" tegas Arya membuat keputusan.
Ricky mengangguk, ia membuka IPad nya untuk mengirim email balasan.
Suara adzan Magrib dari pusat informasi yang berada di lantai 2 terdengar menyeluruh ke semua lantai gedung. Mengajak seluruh pengunjung swalayan dan karyawan untuk melaksanakan sholat magrib di musholla yang terletak di lantai 3.
Arya menghentikan pekerjaannya, merapihkan map-map yang berserakan di meja.
"Ky, ini besok berikan lagi ke Meta ada yang harus direvisi. Aku sudah melingkari bagian yang salahnya. Kita sholat dulu sebelum pulang..." ujar Arya sambil memyerahkan satu map berisi berkas yang harus direvisi.
"Siap Boss !"
__ADS_1
Arya bergegas melepas sepatu mengganti dengan sandal yang tersedia di dekat kamar mandi lalu berwudhu bergantian dengan Ricky. Di samping ranjang kamar tidur Arya yang luas, mereka melaksanakan sholat Magrib berjamaah dengan Arya yang menjadi imamnya.
*****
Arya dan Ricky pulang beriringan meninggalkan gedung Galaxy pusat. Pak Asep mengemudi dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota yang ramai dan aspal hitam tampak basah akibat hujan gerimis yang baru saja turun.
Selang 15 menit perjalanan, Pak Asep tiba-tiba menepikan mobil di bahu jalan yang lebar. "Pak Arya, sepertinya ada yang mengikuti kita...." ujar pak Asep yang dari tadi memperhatikan dari spion, merasa curiga dengan mobil silver dibelakangnya.
Arya yang sejak masuk mobil hanya fokus dengan Tab melihat update berita, mendongakkan kepalanya. Baru sadar kalau mobil sudah berhenti. Arya menoleh ke belakang jok, melihat dari kaca mobil belakang, memastikan dengan jelas ada sebuah mobil yang terparkir jarak 50 meter dengan mobilnya.
"Pak Asep yakin mobil itu mengikuti kita ?" Arya yang duduk disamping jok pengemudi, menatap tajam sang sopir yang sedang melihat ke spion.
"Saya curiga Pak, mobil itu sejak jam 4 sore ada di sebrang Galaxy. Awalnya saya pikir itu mobil yang sedang belanja di toko-toko depan. Tapi dua orang yang turun dari mobil dengan penampilan preman dan baju serba hitam jadi menarik perhatian saya. Saya memperhatikan mereka sambil makan di lantai food court Pak..." ujar sang sopir menjelaskan kecurigaannya.
Arya menyimpan Tabnya ke dalam tas kerja. "Oke kita tes saja. Sekarang kita jalan lagi, di depan pas lampu merah belok kiri saja ambil jalan memutar...." Arya memberikan intruksi mengambil jalan arah pulang yang berbeda.
"Apa maunya mereka...." Arya bergumam sendiri, sambil otaknya berpikir keras mencari solusi. Ia lalu mengeluarkan hape dari saku celananya.
"Ky, dimana posisi ?" tanya Arya saat menghubungi Ricky.
"Aku baru keluar dari kantor, tadi balik lagi...hape ketinggalan. Ada apa bro ?" suara Ricky di sebrang.
"Kamu kesini cepat ! Aku perlu bantuanmu, ada mobil yg terus membuntuti...aku shareloc ya!" Arya menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban Ricky.
Arya memperhatikan situasi jalan yang sepi karena melintasi kawasan pabrik tekstil yang sudah bubar karyawan. Kawasan ini hanya ramai sampai jam 5 sore dengan adanya pasar kojengkang atau pedagang dadakan dengan target pembelinya karyawan pabrik.
__ADS_1
"Pak Asep di depan ada pom bensin, kita berhenti disana !"
"Siap Pak" sahut Pak Asep mulai menyalakan seint kiri karena sudah dekat dengan pom bensin. Mobil pun berbelok memasuki area pom bensin dan parkir di depan Toilet Umum. "Pak Arya, mobil tadi berhenti dipinggir jalan..." lapor sang sopir yang sedang mengawasi dari spion.
Arya tidak menjawab. Ia sedang mengirim shareloc dan pesan ke Ricky.
Hanya menunggu 10 menit, mobil Ricky datang dan parkir di sebelah kiri mobil Arya sesuai pesan yang ia baca.
"Pak Asep, saya akan berpindah ke mobil Ricky. Nanti Pak Asep keluar duluan untuk mengecoh mereka. Kalau mereka masih mengikuti, belokkan saja mobilnya ke polsek. Berikan kartu nama saya ini, minta polisi mengawal sampai rumah." Arya mengeluarkan kartu namanya, setidaknya Polisi akan sigap membantu karena mengenal nama dan jabatan yang tertera di kartu itu.
"Jangan khawatirkan saya Pak. Yang penting Pak Arya selamat." ujar sang sopir tampak tenang. Arya menepuk bahu pak Asep sebelum keluar perlahan membuka pintu mobil. Ia merunduk masuk ke pintu belakang mobil SUV Outlander putih milik Ricky.
Mobil Pajero hitam Arya mulai mundur perlahan keluar dari parkiran. Mobil pun belok kiri keluar dari pom bensin. Arya dan Ricky memperhatikan mobil silver yang terparkir di pinggir jalan itu ikut melajukan mobilnya.
"Huft...." Arya menarik nafasnya lega. Ia melangkah ke jok depan samping kemudi. "Kita pulang Ky...." ujar Arya setelah memasang sabuk pengamannya.
Ricky mulai menyalakan mobilnya. Keluar dari pom bensin dengan jalur berputa arah ke jalan yang biasanya.
"Aku yakin ini ada kaitannya dengan penyerangan di Medan, Bro..." Ricky mulai membuka percakapan lagi saat mobil sudah melaju jauh meninggalkan pom bensin. "Kamu nggak boleh santai, ini nyawa taruhannya Bro....ingat ada anak istri di rumah yang selalu menunggumu pulang dengan selamat !"
Arya menghembuskan nafas berat. "Kamu benar, besok aku akan minta dua orang bodyguard untuk mengawalku dan mengawasi ruko. Tolong kamu tutup mulut jangan sampai Andina tahu kejadian ini, dia lagi hamil muda nggak boleh banyak pikiran..."
Ricky menganggukkan kepalanya. Matanya tetap fokus ke depan, sesekali melihat ke arah belakang dari spionnya. Memastikan situasi sudah kondusif. "Perlu aku pilihkan bodyguardnya ?" tawar Ricky.
"Nggak usah bro. Sudah ada yang pas."
__ADS_1
"Siapa ?" Ricky menolehkan wajahnya sekilas.
"Hendra!"