SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
46. Kehidupan Vita (2)


__ADS_3

Desahan dan lenguhan yang keluar dari bibir wanita itu semakin menambah gairah pria yang berada diatas tubuhnya. Lelehan keringat bercucuran, hawa kamar terasa panas seolah dinginnya AC tak mampu mendinginkan tubuh mereka untuk saat ini. Bagaikan atlet lomba lari yang sudah terlihat titik finish didepannya, mereka berpacu bersama tidak ingin terkalahkan, malah berharap finish berbarengan.


"Arrghh...sayang..." teriak pria itu.Tubuh keduanya menegang seiring garis finish yang dicapai keduanya bersama-sama. Mereka terkulai lemas dengan nafas memburu tak beraturan, si pria menjatuhkan tubuh lelahnya di samping wanitanya, untuk menormalkan kembali tarikan nafas dan mengistirahatkan badannya.


Lelah yang menerpa bagaikan sudah berlari mengelilingi lapangan bola 10 lintasan, begitu payah... membuat keduanya terlelap dalam selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


1 jam berlalu...


Sang wanita beranjak bangun turun dari ranjang. Dipungutnya piyama yang teronggok berserakan dilantai dan memakainya tanpa memakai dalaman. Ia berjalan ke arah balkon apartemennya, duduk tumpang kaki menikmati udara pagi kota Medan sambil menyalakan sebatang rokok. Sinar matahari mulai merangkak naik dan menyorot ke arah balkon hingga menghangatkan badannya.


Hembusan asap rokok dari mulutnya terbang bebas ke udara seolah berharap beban yang ada dalam pikirannya juga ikut terbawa.


Matanya berkaca-kaca, ia sangat ingat kalau hari ini adalah ulang tahun anaknya. Umurnya sekarang genap 2 tahun. Nalurinya sebagai sebagai seorang ibu mengharap ingin merengkuh, memeluk, mencium anaknya membisikkan kata selamat ulang tahun. "Happy birthday Athaya ! Mami kangen," lirih batinnya berkata.


"Hei baby...lagi apa hmm," Edward, pria itu mendekat ke arah Vita dan mengecup pipi kanannya. Ia duduk disamping Vita sambil meneguk secangkir kopi hitam yang ia bawa.


"Bagaimana perkembangan hotel disini ?" tanya Edward membuka percakapan. Ya, ia baru tiba di Medan jam 7 pagi ini dengan pesawat subuh dari Jakarta. Tujuannya memang hanya untuk mengunjungi Vita, memenuhi hasrat jiwa ingin bercinta. Tubuh Vita sudah menjadi candu untuknya.


"Sebagai hotel baru, grafik kunjungan tamu sangat bagus, naik terus. Sudah ada beberapa client booking fee untuk acara wedding dan seminar." jawab Vita sambil diselingi menghisap rokoknya.


"Aku percaya kamu bisa memimpin hotel itu."


Vita beranjak dari duduknya akan melangkah masuk ke dalam...Edward dengan cepat menarik tangan Vita hingga terduduk dipangkuannya. "Mau kemana hmm," Edward melingkarkan erat kedua tangannya memeluk perut rata Vita, lalu perlahan tangannya merambat naik meremas dua bukit.


Edward menyusul masuk mendekati Vita yang sudah duduk di sofa. Ia mendorong perlahan tubuh Vita sampai tubuhnya terlentang. Piyama yang dikenakannya tersingkap ke atas, hingga paha mulusnya terpampang jelas, membuat pusat tubuh Edward menggeliat meronta.

__ADS_1


"Lebih enak sarapan kamu baby..." ujar Edward sambil menciumi leher Vita.


"No mas...aku lelah," Vita menahan gerakan Edward yang terus mengarah turun ke dadanya.


"One more baby...."


Vita menyerah pasrah dibawah kungkungan Edward, lelaki berumur kepala empat yang masih terlihat gagah, otot kekar dan dada bidangnya menandakan ia sangat rajin membentuk tubuhnya. Dan kembali, percintaan terlarang dari jiwa-jiwa yang kesepian pun terjadi.


...BERSAMBUNG...


************************


Biar othornya semangat update...


Jangan lupa LIKE LIKE LIKE


Jangn lupa VOTE VOTE VOTE


Makasih 😘


Vita PoV


Pagi itu, adalah sarapan terakhir aku bersama Arya, suamiku. Aku telah membuat keputusan yang mantap, aku lelah dikekang, memilih jalan masing-masing itu yang terbaik menurut egoku. Saat mas Arya meninggalkan rumah membawa anak kami, ada rasa sakit di hati, perih. Aku memeluk anakku sesaat sebelum mereka pergi.


Setelah perpisahan saat itu, membuat hari-hariku menjadi berbeda, terasa ada yang hilang. Aku sibukkan diri dengan pekerjaan dan pencapaian target, hampir setiap hari lembur. Karena saat pulang ke rumah pun hati ini merasa kesepian. Segala kenangan manis didalam kamar seakan bermain dipelupuk mata. Membuatku tertekan dan frustasi.

__ADS_1


Aku hampir menyerah untuk memilih resign. Aku ingin rujuk kembali dengan mas Arya. Tapi egoku menolak, serasa menyulut untuk terus melangkah yang sudah setengah jalan itu.


Surat panggilan dari Pengadilan Agama dikirimkan ke rumah. Deg, ada yang berdesir perih dihati. Tak kusangka awal saling mencinta akan berakhir dengan perceraian. Aku mengutus pengacara untuk mengurus segala sesuatunya, begitupun mas Arya. Aku memilih tidak menghadiri sidang juga menolak mediasi yang ditawarkan. Aku pun menyetujui hak asuh Ahtaya pada mas Arya. Sampai pada urusan pembagian gono gini, aku pun menyetujui tanpa protes.


Akhirnya, dengan sidang yang alot selama 2 bulan itu berakhir dengan ketok palu, cerai. Perasaan sedih itu ada, aku menikah baru 2 tahun lebih... dan kini menyandang gelar janda.


Seminggu setelah putusan cerai, orangtuaku di Surabaya menyuruhku pulang hari itu juga. Aku mengajukan cuti ke kantor. Saat tiba disana, kedua orangtuaku marah besar, mereka sudah mengetahui kalau kami sudah bercerai. Mereka kecewa dengan alasan kami bercerai. Dan siapa lagi kalau bukan aku yang disalahkan. Saat kutanya tahu dari mana, mereka bilang mas Arya datang 2 hari yang lalu.


Mama bilang, mas Arya datang untuk mengembalikanku secara baik-baik meskipun diriku tidak dibawa serta, seperti halnya dulu memintaku dengan baik saat melamar, maka berpisah pun dia serahkan dengan baik, katanya.


"Vita...kenapa kamu bertindak bodoh hah...kamu sudah menghancurkan keluarga kecilmu, apa kamu kira karirmu akan membuatmu bahagia hmm...kamu salah Vita...salah besar," papa berkata dengan intonasi tinggi.


"Ya ampun Vita...papa malu sama besan terutama sama Arya. Dia lelaki yang baik, bertanggungjawab dan mapan. Kurang apa dia hah ," lagi-lagi papa berteriak marah.


"Vit...suatu saat kamu akan menyesal, kamu sudah salah melangkah nak... ." nada ucapan papa akhirnya melemah, dia menghembuskan nafas berat.


Hening sesaat menyelimuti ruang keluarga. Mama diam, duduk disamping papa. Kedua adikku dilarang ikut hadir, mereka berada dikamar.


"Sekarang akan menetap dimana nak?" mama kembali membuka percakapan.


"Sementara masih di Bandung dulu ma...kalau lolos seleksi Vita akan pindah ke Medan, hotel cabang baru," jawabku


************


Sehari menginap di Surabaya, besoknya aku kembali ke Bandung. Kata-kata papa terus terngiang dikepala. Kalau boleh jujur, aku memang ada rasa menyesal but life must go on, batinku.

__ADS_1


Fisikku disibukkan dengan pekerjaan tapi hatiku meronta kesepian. Untuk pertama kalinya aku datang ke club, mencoba menghibur diri dengan minum. Aku minum 2 gelas wishky, keningku mengkerut saat merasa tenggorokanku panas serasa terbakar. Kepalaku jadi pusing dan berat, aku mabuk. Dalam keadaan setengah sadar aku melihat pak Edward datang menghampiri dan memelukku. Aku merasa kepalaku makin berat dan badanku terhuyung akan jatuh, sampai akhirnya semua tampak gelap. Aku tidak sadarkan diri.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2