
"Astagfirulloh..." Andina memegangi dadanya yang mendadak berdebar kencang. Hatinya merasa gelisah tanpa sebab. Ia yang baru duduk dimotornya memilih diam dulu tidak menyalakan starter. Bibirnya terus melafalkan dzikir, sambil memejamkan mata berharap ketenangan hatinya kembali, dan berdoa memohon keselamatan sebelum motornya melaju menuju ruko.
Setelah hatinya merasa tenang, ia menghidupkan motornya perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.
*******
RSIA AMINAH
Infus sudah terpasang dilengan kanan Athaya. Sebelumnya anak itu menangis kencang dan meronta-ronta saat akan dipasangkan jarum infus. Kini Athaya tertidur kembali mungkin karena lelah menangis juga pengaruh obat yang disuntikkan.
Arya tak pernah jauh sedetik pun dari sisi ranjang anaknya. Sekali-kali diusapnya peluh yang keluar dari kening dan leher anaknya. Hatinya menjerit sedih, kalau lah bisa biar sakit anaknya itu beralih padanya. Karena tidak tega menyaksikan anaknya kesakitan, meringis-ringis, dan menangis. Anaknya masih kecil, belum bisa menjabarkan apa saja yang dirasakannya.
"Kak...makan dulu ya, ini aku beli dikantin. Tadi kan dirumah belum sempat sarapan," Marisa menyodorkan bungkusan makanan ke arah Arya.
__ADS_1
"Simpan aja dulu dimeja...kakak belum lapar," Arya mengacuhkan perhatian Marisa. Ia tetap fokus memperhatikan anaknya.
"Lo harus isi perut dulu bro...lo harus sehat biar bisa menjaga terus Athaya," ujar Rendi mengingatkan.
Arya mencerna sesaat, benar apa yang dikatakan Rendi, ia nggak boleh sakit, harus fit demi Athaya. Arya menuju sofa, membuka makanan yang sudah disiapkan. Meskipun tidak ada selera, ia paksakan untuk makan demi anaknya.
"Gue keluar dulu ya...nanti visit 2 jam lagi," Rendi menepuk bahu Arya pamitan. "Kakak tinggal dulu ya..." Rendi bicara kepada Marisa sambil mengacak rambutnya, sudut bibirnya tertarik melihat Marisa mendengus kesal karena rambutnya berantakan.
2 jam kemudian Rendi melakukan visit, memeriksa perkembangan Athaya. Suhu badannya masih belum turun membuat Arya khawatir dan meminta diberikan obat terbaik. Rendi menenangkan sahabatnya itu untuk sabar dan tenang, karena Athaya sudah ditangani dengan baik.
"Bagaimana sekarang kondisinya Ar..." Mama bertanya dengan pelan takut membangunkan cucunya.
"Panasnya belum turun Ma...tadi sempat rewel ," jawab Arya.
__ADS_1
Athaya tiba-tiba mengigau memanggil-manggil, "Mama...mama...mama Thaya." Mama dan Arya yang duduk dekat ranjang terkaget mendengar gumaman Athaya. Kening mereka mengkerut.
"Dia manggil siapa ya Ar ?" tanya Mama heran. "Arya nggak tahu Ma...nggak mungkin yang dia maksud Vita," jawab Arya menggelengkan kepalanya. Tak lama Athaya menggumam lagi panggilan yang sama.
Marisa dan Papa mendekat ke arah ranjang ikut memastikan apa maksud yang Athaya mau.
"Hei sayang..." Arya menepuk pelan pipi Athaya. Perlahan mata anaknya mengerjap terbuka. "Alhamdulillah anak papi bangun...mau minum hmm." Athaya menganggukkan kepalanya lemah. Arya memberinya minum memakai sedotan. "Athaya mau mamam ?" Athaya hanya membalas dengan gelengan kepala.
"Papi...mana mama..mau temu mama...," lirih Athaya lemah. Arya dan semua orang saling pandang tanda bingung.
"Mama siapa sayang...ini udah ada Papi, Oma, Opa, Onty, disini....," ujar Arya menunjuk satu-satu.
Athaya menggelengkan kepalanya. "Mama Papi..Mama Thaya...hwua...." dan Athaya pun menangis lagi sambil meronta-ronta. Mama dengan sigap memegang tangan kanan cucu nya khawatir infusannya terganggu.
__ADS_1
Arya meremas rambutnya, merasa pusing dan frustasi, tidak faham akan keinginan anaknya.
...BERSAMBUNG...